Intake PDAM Tirta Anoa Bakal Dipindahkan dari Sungai Pohara ke Tabanggele

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pemerintah Kota Kendari tengah merancang pemindahan intake (bangunan tempat penangkap air) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Anoa dari sungai Pohara ke Sungai Tabanggele.

Pemindahan intake dari Pohara tersebut diharapkan mampu mengatasi permasalahan air bersih, dan kekurangan jadwal alir air di beberapa wilayah di “kota lulo” yang selama ini sering dikeluhkan.

Sungai Tabanggele dianggap memiliki debit air lebih baik dan akan mencukupi kebutuhan air bersih untuk masyarakat Kota Kendari.

Upaya pemindahan itu sejalan dengan rencana pengobatan “PDAM Sakit Keras” yang dialami beberapa tahun terakhir.

Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir, mengaku proyek pemindahan intake tersebut bakal berlangsung di pertengahan 2020 dan ditargetkan bisa mengcover 80 persen keluarga di Kota Kendari.

“Kalau ini jadi, kapasitasnya itu 900 liter per detik dan kalau ini berproduksi, itu bisa mengcover sampai 80 persen keluarga di Kota Kendari,” ungkap Sulkarnain, Selasa (7/1/2020).

Pada 2019 lalu, pihaknya juga sudah merumuskan kendala yang dialami dan sudah menemukan solusinya. Kini, pihaknya sudah berdiskusi membentuk tim dan mulai akan action di pertengahan 2020.

Fortune

Dirinya menargetkan, pelayanan PDAM bisa dinikmati secara maksimal oleh masyarakat pada 2021. Olehnya itu, politikus PKS tersebut berharap masyarakat bisa bersabar sembari menunggu penyelesaiannya.

“Insyaallah PDAM ini akan kita sehatkan, memang butuh waktu karena tahun ini baru dimulai. PT Adhi Karya sudah menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra dengan pemkot,” cetusnya.

Wali Kota Kendari mengungkapkan, pelayanan air bersih Kota Kendari masih sangat jauh dari harapan.

“Bahkan mungkin bisa dikatakan buruk. Saya jujur mengatakan bahwa PADM kita sekarang ini sakit. Hasil audit BPKP menunjukkan bahwa memang ini sedang kondisi sakit parah, terbukti dengan data pelayanan yang diberikan oleh PDAM Kota Kendari, ternyata hanya bisa menuhi sekira dibawah 21 ribu satuan pelayanan, pedahal waktu saya masih di DPR dulu masih diangka 40 ribu sekian,” bebernya.

Artinya kapasitasnya sudah menurun. Disamping itu juga terjadi kebocoran yang luar biasa. Dimana, kebocoran yang dialami berada di angka 52 persen.

“Jadi air yang diproduksi 52 persennya tidak sampai ke masyarakat, apakah itu tidak sampainya karena bocor secara tehnis maupun bocor secara manajemen. Itu fakta dan kami mengakuinya,” pungkasnya.

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.