Investasi PT Sele Raya Agri di Muna Buka Peluang Lapangan Kerja

SULTRAKINI.COM: MUNA – Keseriusan PT Sele Raya Agri berinvestasi di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara tidak main-main, hal ini ditandai dengan melakukan penanam perdana jati nuklir di Desa Lakologou Kecamatan Tongkuno, Senin (8 Maret 2021).

Direktur Usaha Hutan Produksi Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) Istanto bersama Bupati Muna LM Rusman Emba, Anggota DPR-RI Hugua dan Forkopimda turut melakukan pada penanaman perdana dilokasi izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu dan hutan tanaman pada hutan produksi (IUPHHK-HT) PT Sele Raya Agri yang bertempat Desa Lakologou.

Direktur PT Sele Raya Agri, Ham Juchiro Tampi menyampaikan, pihaknya akan menanam bibit jati nuklir sekitar 2,5 juta bibit pada lahan Hutan Tanaman Industri (HTI).

“Kita memilih Muna untuk berinvestasi, karena jatinya telah terkenal sejak tahun 1980-an. Kita ingin mengangkat kembali kejayaan jati Muna dan ingin melakukan yang terbaik bagi daerah dan masyarakat Muna,” kata Ham Juchiro Tampi.

(Baca juga: Hutan Warangga Akan Direboisasi, Menteri LHK Gandeng PT Sele Raya Agri Investasi di Muna)

Dia melanjutkan, PT Sele Raya Agri telah mengantongi izin dari pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan IUPHHK-HT seluas 18.980 hektar, tentunya akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

“Dari jumlah 2,5 juta bibit jati yang akan ditanam, perusahaan membutuhkan tenaga kerja sekitar kurang lebih 2.500 orang. Tentunya, dari masyarakat lokal,” ujarnya.

Dia menambahkan, PT Sele Raya Agri juga memberikan bantuan berupa beasiswa kursus Bahasa Inggris bagi 30 pelajar SD-SMU dan pelatihan olahraga kocing klinik di Kecamatan Tongkuno dan Parigi yang dananya bersumber dari Corporate Social Responsibility (CSR).

Bupati Muna, LM Rusman Emba merespon baik masuknya PT Sele Raya Agri berinvestasi di Muna.

Dia menyampaikan, Pemda telah melakukan MoU dengan PT Sele Raya Agri terkait investasi penanaman dengan masyarakat dan tidak memaksa masyarakat yang lahannya tidak mau dimanfaatkan.

“MoU yang kita buat sebagai pegangan, dan tidak akan merugikan masyatakat. Konsep penanaman jati nantinya, ada tanaman tumpang sari disela-selanya yang hasilnya dapat dinikmati langsung oleh masyarakat,” tutur mantan anggota DPD RI Rusman.

Sementara Direktur Usaha Hutan Produksi Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Istanto menyatakan, izin pemanfaatan yang dikeluarkan Kementrian LHK dalam rangka peningkatan produktifitas hutan.

“Kementrian sangat mendukung penanaman jati yang dilakukan perusahaan. Apalagi, masa produksinya cepat hanya selama 10 tahun,” ucapnya. (B)

Laporan: LM Nur Alim
Editor: Hasrul Tamri
n

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.