SUARA

Jeff, si Anak Padang Ditanah Rantau

SULTRAKINI.COM : KOLAKA- Jefferdian, nama ini biasa saja, tidak ada yang istimewa. Sebagian besar masyarakat Kolaka juga tidak familiar dengan nama ini. Mungkin hanya sebagian komunitas dan kalangan tertentu yang mengenal nama ini. Mungkin pula dia dikenal lantaran berprofesi sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Kolaka.

Justru dengan tidak femiliarnya seorang Jefferdian, membuat dirinya begitu dekat secara emosional degan orang-orang yang mengenalnya. Sederhana, inofatif, kreatif dan mudah bergaul nampaknya modal utama dari anak Padang ini ditanah rantau. Mereka yang kenal dengan Jefferdian kadang tidak menyangka latar belakangnya, yaitu seorang Kepala Kejaksaan Negeri.

Berkarir lebih dari dua tahun di Kolaka bukanlah waktu yang sebentar, dan pastinya bukanlah hal yang mudah. Tapi selama menjabat, dirinya mampu merubah paradikma orang tentang penegak hukum yang biasanya selalu serius. Dia justru membawa angin segar dalam dunia penegakakan hukum di Kolaka, tanpa meninggalkan sikap profeionalnya. Penegakan hukum tetap berjalan dan tidak ada ampun bagi siapa saja yang melanggar, termasuk orang yang dikenalnya.

Jefferdian menuntaskan pendidikanya dikampung halamannya, Padang, Sumatera Barat. Ditanah minang ia terus menempuh pendidikan formal, sejak tahun 1985 hingga tahun 1996. Tahun 1985 dia menamatkan pendidikan dasarnya di SD Negeri 03 Anduring. Kemudian melanjutkan pendidikan ketingkat SMP Negeri, lulus pada tahun 1988 di SMP Negeri 10 Padang. Ditahun 1991, Jefferdian berhasil tercatat sebagai alumni SMA Negeri 05 Padang. Pendidikan nampaknya telah ditanamkan secara mendalam oleh orang tua Jeff. Sehingga tahun 1996 Jefferdian menyelesaikan kuliahnya pada Fakultas Hukum di Universitas Bung Hatta.

Sejak tercatat sebagai alumni hukum di Universitas Bung Hatta, Jefferdian mulai mengasah kemampuan dengan menjadi penegak hukum. Tahun 1997, Jeff belum juga meninggalkan tanah Minang. Dia malah mengabdi sebagai Kasubsi Dik dan Tut Pidsus di Kejari Sijunjung, Sumatera Barat. Tahun 2000, Jeff harus hijrah dari Kejari Sijunjung ke Payukumbuh. Disana (Payukumbuh) dirinya dipercaya sebagai Jaksa fungsional. Setahun kemudian dari Jaksa fungsional berubah menjadi pemeriksa.

Tahun 2003 silam ternyata Jeff harus “pasrah” dengan nasib. Artinya dirinya belum mendapat kesempatan berkarir diluar tanah minang. Dirinya malah dipercaya menjadi Kacabjari Maninjau. Pada tahun 2005 nampaknya karir Jeff sudah mulai diperhitungkan. Dirinya kembali mendapat kepercayaan menjadi Kasi Ekonomi dan Moneter Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat.

Berbagai proses dan pengalaman ditanah minag dalam dunia hukum nampaknya sudah cukup banyak ia temui. Hal ini pula sepertinya sudah cukup ilmu untuk memulai karir ditanah perantauan. Tahun 2007 Jefferdian mendapat kesempatan pertamanya berkarir diluar Sumatera Barat, tepatnya menjadi Kasi intel di Kejari Malang. Berada sekitar dua tahun di Malang, dirinya harus rela kembali ditarik ke tanah Sumatera. Tapi bukan di Sumatera Barat, melainkan di Sumatera Selatan. Disana dirinya menjadi Kasi Penyidikan Pidsus Kejati Sumatera Selatan.

yamaha

Mungkin dirinya betul-betul ditakdirkan menjadi anak rantau. Buktinmya, setelah kurang lebih dua tahun di Sumatera Selatan, Jeff lagi-lagi diamanahkan menjadi anggota satuan khusus penanganan tipikor jam pidsus Kejaksaan Agung RI tahun 2011. Berkantor digedung bundar itu pasti butuh sikap profesionalisme yang tinggi. Tiba disaat yang penting dalam karir Jeff, dirinya bersama sejumlah tim Kejaksaan Agung berhasil mengatasi kasus korupsi disektor pajak, kasus sengketa telekomunikasi serta sejumlah kasus seksi lainnya.

Berada sekian tahun di Kejaksaan Agung, Jeff kembali dicoba dalam berkarir didaerah Jawa. Tepatnya 2013, dirinya menjadi koordinatorpada Kejaksaan Tinggi Jawa Tengah. Di tanah Jawa Jeff tidak terlalu lama menghabiskan waktunya. Tahun 2014 betul-betul menjadi titik baru Jefferdian dalam berkarir di Kejaksaan. Dirinya harus semakin jauh dari tanah kelahirannya. Berada di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, suatu daerah yang multi etnis dan merupakan salah satu daerah berkembang di Indonesia.

Berada di Kolaka sejak 24 Juni 2014 menjadi lembaran baru dalam perjalanan pasangan Elvina ini. Di Bumi Mekongga dirinya memulai kehidupan baru dengan bergelut berbagai permasalahan hukum yang terjadi. Di Kolaka pun dirinya mencoba merubah paridikma seorang penegak hukum yang tidak selelalu harus tampil “seram”.

Kalangan pemuda, khususnya KNPI Kolaka mulai mengenal sosok Jefferdian. Kala itu disiang bolong Jefferdian menyempatkan diri bertandang di warung Kopi KNPI Kolaka. Obrolan santai berjalan begitu bersahabat. Mulai dari memberi motifasi menu baru di Warkop KNPI hingga mencetuskan adanya kopi dinding. Kopi dinding adalah konsep sederhana untuk berbagi kepada mereka yang tidak mampu, dengan cara meminum satu gelas tapi membayar dua gelas. Sisa bayaran yang satu gelas itu diperuntukan mereka yang ingin minum kopi tapi tidak mampu bayar. Namanya adalah Kopi dinding. Kopi dinding juga diterapkan disejumlah warkkop yang ada di Kolaka.

Motifasi kepada pemuda tidak berhenti sampai disitu. Menggalakkan hidup sehat, bersih dan taat pajak kepada pedagang pasar juga dijejalinya. Lewat kegiatan sederhana, yang melibatkan DPD KNPI Kolaka mampu mengkampanyekan hidup sehat taat dan teratur kepada para pedagang kaki lima di pasar sentral Mekongga, Kolaka.

Dengan berbagai motifasi itu, DPD KNPI menganugerahkan Jefferdian sebagai tokoh inspiratif. Jefferdian dianggap banyak member motifasi kepada pemuda di Kolaka. Hal ini adalah sebagian kecil dari berbagai hal yang dilakukan oleh Jefferdian. Belum lagi mencoba memberikan penyedaran hukum kepada para pelajar lewat kegiatan Jaksa Masuk Sekolah. Jaksa masuk sekolah mendapat respon yang positif, termasuk dari para orang tua murid.

Dengan berbagai hal yang dilakukan, anak rantau ini begitu betul-betul dapat membangun ikatan emosional yang kuat dengan masyarakat Kolaka. Yang pada akhirnya bagi mereka yang mengenenal Jefferdian beranggapan bahwa pria satu anak ini bukan hanya sekedar sosok penegak hukum professional, tetapi menjadi teman yang asyik diajak diskusi dan bercanda.

PENULIS : SUPARMAN SULTAN

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.