Iklan Clarion

Kanwil Kemenag : Cegah Tiga Konflik Ini di Masyarakat

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Sulawesi Tenggara (Sultra), Muhammad Ali Irfan menyebutkan, ada tiga jenis konflik yang rentan menjadi pemicu muculnya permasalahan di masyarakat.

Diungkapkan Ali Irfan dalam Deklarasi Polda Sultra dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Aula Dachara, Kamis (13/10/2016), Konflik tersebut yakni Konflik individual, Kolektif dan religi.

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

Dijelaskannya, individual konflik merupakan konflik antar pribadi perseorangan. Namun bila dipicu isu SARA dapat menjadi konflik besar. Dicontohkannya yakni peristiwa di Ambon beberapa tahun 1999 silam yang dimulai dari konflik perseorangan namun menyebabkan permasalahan yang berkelanjutan.

Selanutnya, kolektif konflik atau yang melibatkan banyak golongan. Menurutnya, ada kepentingan politik tertentu dalam konflik seperti ini. Seperti konflik pilkada dapat merembet pada msalah lain.

“Beberapa partai politik pun ada yang membawa panji-panji agama didalamnya. Beberapa tokoh politik yang ada banyak yang tidak mampu menjadi tokoh yang netral yang tidak bisa memisahkan antara politik dan agama,” kata Irfan Ali.

Selanjutnya yakni religi konflik atau konflik bernuansa agama. Ini merupakan kategori konflik yang rawan diprovokasi. Apalagi jika yang bersangkutan antara kedua belah pihak yang pemahaman agama yang kurang.

“Nah konflik yang ketiga ini rawan diprovokasi orang yg tidak berkepentingan. Kami kumpulkan organisasi masyarakat (ormas) dari berbagai agama untuk menyikapi permasalahan internal ini. Dialog pertemuan forum seribu tokoh beberapa waktu lalu juga sudah kita laksanakan terkait hal tersebut,” ungkap Muhammad Ali Irfan.

Saat ini, Kemenag Sultra tengah gencar-gencarnya berdialog dengan tokoh muda terkait makna hidup dan memahami agama. Permasalahan yang terjadi antar umat islam dan agama lain jangan sampai terjadi konflik religi.

“Saya harap FKUB dan Polda Sultra sinergi secara kolektif, jangan kerja parsial, kerja tidak terkoordinir secara baik hasilnya juga tidak baik,” pungkasnya.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.