Kebun Raya Kendari sebagai Kawasan Konservasi Tanaman Ultrabasah

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Kebun Raya Kendari yang terletak di kawasan Hutan Nanga-nanga, Kelurahan Anduonuhu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, resmi menjadi satu-satunya kebun raya di Provinsi Sulawesi Tenggara setelah di resmikan langsung oleh Gubernur Sultra, Alimazi, yang disaksikan langsung oleh Perwakilan PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup, Wali Kota Kendari dan ketua beserta anggota DPRD Kota Kendari, Selasa (22/10/2019).

Kebun raya yang mulai dirintis sejak tahun 2009, sesuai dengan tujuan pembangunannya, kawasan kebun ini menjadi lahan untuk mengonservasi berbagai jenis tumbuhan dan ekosistemnya, khususnya tanaman ultrabasah sesuai dengan tema koleksi kebun raya Kendari.

Selain itu, kebun ini juga menyediakan sarana dan prasarana pendukung pendidikan dan penelitian sebagai laboratorium alam Kota Kendari dan sekitarnya. Juga menjadi kawasan destinasi wisata yang sehat, nyaman dan edukatif.

Salah satu jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Kendari. (Foto : Hasrul Tamrin/SULTRAKINI.COM)
Salah satu jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Kendari. (Foto : Hasrul Tamrin/SULTRAKINI.COM)

Dibangun di atas lahan kawasan hutan dengan luas kurang lebih 96 hektare, 18 diantaranya sebagai kawasan hutan lindung dan 78 hektar sebagai kawasan hutan produksi tetap. Kebun ini memiliki kekayaan koleksi tumbuhan diantaranya 1.747 koleksi pembibitan, 1.647 koleksi non anggrek dan 120 koleksi anggrek.

Di sini juga terdapat taman tematik seperti taman pakuli, taman etnobotani dan taman ultrabasah.

Taman Pakuli

Taman pakuli merupakan taman tematik dengan koleksi tanaman obat. Selain sebagai kawasan konservasi tanaman obat, taman ini dapat menjadi sumber pengetahuan. Pengunjung dapat mengetahui jenis dan fungsi tanaman obat yang terdapat ditaman ini, melalui papan informasi dipapan yang terpasang ditaman ini.

Taman Etnobotani

Etnobotani ini merupakan salah satu cabang ilmu botani yang mengkaji tentang pemanfaatan tumbuh-tumbuhan dalam keperluan sehari-hari pada suatu adat tertentu. Olehnya itu, penataan konsep taman ini berdasarkan pada pemanfaatan tumbuhan dan bahan yang digunakan. Penggunaan pola desain berbentuk lingkaran.

Taman Ultrabasah

Sesuai dengan tema pembangunan Kebun Raya Kendari merupakan pusat konservasi tanaman ultrabasah. Batuan atau tanah ultrabasah adalah batuan atau tanah yang banyak mengandung besi, magnesium, kalsium, aluminium dan logam berat. Taman ini terdapat jenis-jenis tanaman yang mampu bertahan hidup pada tanah ultrabasah seperti Kjellbergiodendron Celebicum

Di kebun raya ini juga, dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasarana yang memadai, seperti rumah pembibitan, rumah anggrek, gedung pengelola, visitor center, menara pandang, pintu gerbang dan loket, gezebo, Mushola, toilet, tempat parkir dan camping ground, menjadikan kebun raya ini semakin kompleks baik sebagai sarana wisata maupun tempat penelitian.

Salah satu jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Kendari. (Foto : Hasrul Tamrin/SULTRAKINI.COM)
Salah satu jenis koleksi tumbuhan yang ada di Kebun Raya Kendari. (Foto : Hasrul Tamrin/SULTRAKINI.COM)

Selain itu terdapat pusat informasi koleksi tumbuhan ultrabasah yang dibangun dengan desain modern terletak di depan taman ultrabasah. Bangunan tersebut berisi display informasi koleksi tumbuhan ultrabasah yang menjadi tema koleksi dari kebun itu.

Diakui oleh Pemerintah Kota Kendari bahwa kawasan kebun raya Kendari memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan beberapa kebun raya di Indonesia karen ada anak sungai yang mengalir di tengah-tengahnya.

“Seperti yang disampaikan dari LIPI tadi bahwa jarang ada kebun raya yang ada sungai melintas ditengahnya, olehnya itu, ini kita akan tata, mudah-mudahan bisa menjadi daya tarik kedepannya,” ungkap Sulkarnain Wali Kota Kendari usai pelaunchingan Kebun Raya itu, Selasa (22/10/2019).

Meski demikian, Pemerintah Kota Kendari juga tetap berusaha dan berupaya untuk memenuhi segala kekurangan yang ada di kawasan kebun ini agar fungsi dan tujuan pembangunannya bisa optimal dan maksimal pemanfaatannya. (Adv)

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.