Kehidupan Nenek More yang Lumpuh dan Miskin di Kota

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Sungguh miris jika melihat kehidupan nenek yang satu ini. More (55), warga Kelurahan Anggalomelai Kecamatan Abeli Kota Kendari ini, harus hidup dengan segala kesederhanaan dalam keadaan lumpuh. Untungnya ia memiliki dua orang cucu yang setia menemani dan merawatnya.

 

Kesehariannya nenek More hanya bisa terbaring di gubuk kecilnya yang berukuran sekitar 6 x 3 meter. Kondisi atap yang sudah berlubang, nenek beserta kedua cucunya itu akan kebasahan jika hujan tiba. Gubuk panggungnya tampak sudah ditopang kayu karena akan rubuh jika dibiarkan.

 

Sebagian lantainya terbuat dari serutan bambu yang memiliki lebar sekitar 5 sampai 6 sentimeter. Ini menghawatirkan ketika malam tiba. Hawa dingin dari lingkungan sekitar dapat masuk melalui celah-celah lantai bambu tersebut.

 

Dulunya, nenek More tergolong aktif dalam mencari nafkah. Dia bekerja serabutan seperti mencari bijih Pinang untuk dijual, atau mencari Kelapa untuk dibikin Kopra. Namun sekarang tidak bisa lagi.

 

Semenjak ia lumpuh paska terjatuh dari sepedah motor pada Juli 2015 lalu. Mulai hari itu ia menghabiskan hari-harinya di rumah sederhananya. More tak bisa berbuat banyak.

 

Beruntung ia memiliki dua cucu yang setia menemani dan merawatnya, yakni Prisa yang masih berusia 3 tahun, dan Rahul berumur 14 tahun yang masih SMP. Sehari-hari kedua cucunya ini saling berbagi tugas. Jika Rahul sedang ke sekolah, maka Prisa lah yang menjaga nenek mereka. Mulai dari mengambilkan makan, sampai mengambilkan air untuk membersihkan kotoran nenek More.

 

Saat Rahul pulang dari sekolah, dialah yang kembali mengurusi neneknya. Rahul yang memasak nasi, mengangkat air, sampai mencuci pakaian.

 

\”Saya setiap pulang sekolah selalu mengurusi nenek saya, mulai dari angkatkan air, masak, dan mencuci,\” kata Rahul kepada wartawan saat ditemui, awal pekan lalu.

 

More mengaku pernah berobat ke rumah sakit terdekat. Namun karena terkendala biaya, nenek ini mengurungkan niatnya untuk dirawat inap.

 

\”Saya dulu pernah pergi berobat di rumah sakit, tapi karena tidak ada uang, ee sa pulang mi,\” tuturnya dengan logat Kendari sambil berbaring.

 

Ia sama sekali tidak memiliki kartu jaminan kesehatan dari pemerintah, baik BPJS, KIS (Kartu Indonesia Sehat) ataupun Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Hal itulah yang membuatnya mengurungkan niat untuk dirawat inap apalagi berobat dokter.

 

Kondisi kehidupan nenek ini menarik perhatian kelompok konstituen yang dibentuk LSM Rumpun Perempuan Sulawesi Tenggara di Kelurahan Anggalomelai yang diketuai Sarsinah.

 

Kelompok Wanita Peduli ini berinisiatif untuk membantu pengobatan sang nenek, dengan meminta surat keterangan tidak mampu dari kelurahan. Sayangnya, keterangan tidak mampu tersebut sama sekali tidak berlaku bagi pengobatan nenek More di rumah sakit.

 

\”Kami juga pernah mengajukan Jamkesda di kelurahan untuk diteruskan ke Dinkes. Namun rupanya pengurusan seperti itu tidak bisa perorangan, kalau pengurusan seperti itu selalunya kolektif. Selain itu, kami juga pernah mengajukan bantuan perumahan, namun mungkin karena itu juga masih bersifat kolektif, jadinya ya tidak ada. Kalau untuk Raskin (beras miskin) sendiri Alhamdulillah masih selalu ada,\” terang Sarsinah saat menemai wartawan ke rumah nenek More.

 

Menurut Sarsinah, hingga saat ini sama sekali tidak ada bantuan dari pemerintah setempat, yang setidaknya bisa meringankan penderitaan sang nenek. Padahal tempat tinggal More tidak jauh dari Kantor Kelurahan Anggalomelai.

 

Bukan kelompok konstituen ini saja yang memberikan perhatian kepada nenek More, masyarakat sekitar rumahnya juga ikut berpartisipasi memberikan apapun yang bisa membantu. Baik berupa makanan, maupun uang untuk membantu biaya pengobatannya.

 

Selain berusaha membantu dalam hal administrasi pengobatan, kelompok yang dipimpin oleh Sarsinah juga menyebarkan beberapa foto tentang nenek More dan kehidupannya ke media sosial. Ia berharap bisa menarik simpatisan dan relawan untuk bisa membantu meringankan biaya pengobatan nenek ini.

 

Hasilnya, berkat postingan tersebut, beberapa hari terakhir ini rumah nenek More ramai dikunjungi teman-teman Sarsinah untuk melihat keadaan dan membantu si nenek More.

 

Sarsinah berharap bukan hanya si nenek yang dibantu, cucunya Rahul dan Prisa juga bisa mendapat bantuan. Sebab di sekolahnya, Rahul tak diberi bantuan apapun.

 

\”Kami sempat menanyakan kepada nenek beliau, apakah anak ini (Rahul) mendapatkan bantuan di sekolahnya di SMP 7, ternyata tidak. Dia sama sekali tidak mendapatkan kartu sosial baik itu PKH maupun BSN. Dan kalau tidak ada, kami akan mengusulkan ke sekolahnya agar anak ini bisa mendapatkannya,\” kata Sarsinah.(B)

 

Editor: Gugus Suryaman

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.