Kemelut Penantian

Embun bergelayut, menetes satu per satu pada lembar dedaunan di beranda rumah Yana. Udara masih dingin. Mentari belum lagi menyinari persada. Saat itu terdengar langkah kaki suaminya yang baru saja pulang dari berjamaah subuh.

 

            “Sudah siap-siapnya?” tanyanya dengan senyum.

            “Sudah. Yuk, berangkat.”

“Yuk. Bismillah tawakkaltu alallah la haula walaa quwwata illaa billaah.

 

            Mesin bermotor menderu, memecah senyap suasana bakda subuh yang masih temaram. Pun suasana jalan raya yang masih sepi, meloloskan satu dua kendaraan dari antrian dan desakan klakson yang baru akan riuh beberapa jam ke depan.

 

            Lima menit saja waktu tempuh perjalanan, bebek tua sedianya sudah terparkir rapi di tepi jalan balai kota. Selayang pandang terlihat pepohonan menjulang tak sama rata, ada yang sudah setara gedung tingkat tiga, ada pula yang semampai alias semester tak sampai sebab baru ditanami beberapa waktu lalu. Lahan seluas satu hektar ini dinamai Taman Walikota atau disingkat Tamkot. Tepat berhadapan dengan Tugu Religi eks MTQ dan dikelilingi gedung perkantoran yang berjajar rapi membuat lokasi ini menjadi favorit bagi warganya yang ingin olahraga berat macam lari, latihan beladiri, atau sekadar senam ringan dan menghabiskan waktu bersama keluarga terutama di akhir pekan. Tak lupa ada pula yang memanfaatkan kesejukan alam ini dengan bertilawah, menggelar berbagai event, dan kegiatan lainnya.

 

            Bagi Yana cukuplah berjalan-jalan ringan saja, mumpung Tamkot belum terlalu ramai sembari mengendurkan otot-otot kakinya yang kaku dan tungkainya yang membengkak. Ia juga tentu butuh udara segar pagi hari. Maklum, sejak usia kandungannya menginjak bulan ke tujuh, ia mulai mengalami berbagai kesulitan, bernapas misalnya.

 

Dalam kondisi lambung kosong pun diafragma sudah tertekan apalagi saat kenyang, membuat Yana jadi serba salah –makan sedikit jadi cepat lapar, tapi makan banyak demi memenuhi gizi si jabang bayi malah sesak. Ia jadi cepat lelah meski tak melakukan banyak hal, sakit pinggang, punggung, konstipasi, dan nyeri hampir di seluruh badan, pun makin susah mencari posisi tidur yang nyaman bagi perut buncitnya. Ia bahkan perlu bantuan hanya untuk memakai kaos kaki.

 

Belum lagi masalah psikis. Ia harus pandai-pandai menata hati agar selalu optimis. Kehamilan kali pertama tidaklah mudah bagi ibu dan bayi. Sang bayi harus berjuang menemukan jalan lahir. Tak sedikit para ibu yang shock dengan waktu persalinan yang memang lebih panjang dari persalinan anak kedua, hingga menyerah tak kuat menahan kontraksi dan berakhir di meja operasi. Setiaknya, segala kemungkinan terburuk harus mulai dipertimbangkan, mulai dari gejala pre-eklampsia*, bayi sungsang*, emboli*, ketuban pecah dini, hingga harus operasi Caesar karena berbagai alasan medis. Di luar itu semua, dari lubuk hati terdalam Yana berharap bisa melahirkan normal.

 

Maka dipilihlah tempat ini sebab terdapat setapak jalan berkerikil yang dibuat khusus, cukup bermanfaat bagi lancarnya peredaran darah di kaki Yana. Rindangnya pepohonan sangat baik untuk proses oksigenasi parunya, pun suasana tamannya yang menyegarkan untuk relaksasi, sedikit dapat mengurangi keresahan phobia-nya.

 

“Yah… ibu mana sih yang kehamilan perdananya mudah? Bila pun ada, secara statistik sangat kecil,” hatinya berusaha meyakini. Telah banyak ibu yang berhasil melalui fase alamiah ini dan berakhir bahagia, mengapa ia tidak?

 

            Menjelang siang hari itu usai berjalan-jalan ringan di Tamkot, ibu Yana baru saja pulang membawa sejumlah perlengkapan bayi. Ada baju bayi, selimut, kaos tangan dan kaki, kelambu, dan perlengkapan lain yang mungkin dibutuhkan ketika di rumah sakit maupun setelah melahirkan.

 

“Oh Ibu, betapa aku makin sayang padamu. Rasanya hanya Ibu yang paling tahu segala persiapan menyambut bayi ini, membuatku tenang dan tak khawatir kekurangan selama ada ibu,” gumam Yana dalam hati.

 

Yana bersyukur segala kebutuhan tercukupi, ada suami yang selalu mendampingi, serta dukungan moril keluarga. Ia lantas terpikir, bagaimana dengan nasib para ibu yang harus mengalami semua ini sendirian ya? Tanpa orangtua, bahkan beberapa tanpa didampingi suami –ditinggal tugas pun dicampakkan begitu saja, terlebih dalam kondisi ekonomi serba kekurangan. Bagaimanakah mereka mampu bertahan tanpa dukungan?

 

Lelaki, bukankah seharusnya menjadi sosok paling bertanggung jawab setelah menebar benih? Bagaimana mungkin mereka begitu cepat melupakan? Tega!

 

 Allah… beri kekuatan dan kemudahan pada hamba dan semua ibu yang tengah memperjuangkan dua nyawa, dalam kondisi apapun dan bagaimanapun.

 

            Bulan kehamilan ke delapan tidak lama lagi berakhir. Waktu perkiraan lahir semakin dekat. Jadwal pemeriksaan rutin kini dilakukan setiap dua pekan sekali.

 

            “Hasil USG menunjukkan kondisi bayi dalam posisi terbalik, Bu, tapi tidak perlu terlalu khawatir, masih ada kemungkinan untuk berubah posisi.”

            “Jadi bagaimana, Dok?”

            “Untuk kali pertama memang agak menegangkan, Bu, tapi sebisa mungkin Ibu santai saja. Jangan terlalu banyak pikiran. Perbanyak rukuk dan sujud saja ya.”

            “Berapa lama, Dok?”

            “Yaa jangan lama-lama. Kalau kelamaan juga nanti pusing, kan?”

            “Tapi nanti bisa normal kan, Dok?”

            “Kalau lancar, insya Allah bisa. Berdoa saja ya.”

 

            Semacam ada awan mendung menaungi pasangan suami istri itu. Harapan dan kecemasan campur aduk dalam hati dan pikiran.

 

            “Mulai sekarang kita perbanyak sholat kita ya Say, biar saran dokternya tercapai. Mudah-mudahan posisi dede bisa kembali normal.” suami Yana berusaha tetap logis agar istrinya tidak terbawa perasaan.

 

            “E…eh.. iya, Bi,” Yana berusaha mengukir senyum di sana, menutupi badai yang berkecamuk di hatinya dan berjuta pikiran hitam yang mengelana dengan liar.

 

            Waktu merayap ke sepertiga malam. Potongan waktu paling hening dalam duapuluh empat jam itu dimanfaatkan Yana dan suaminya untuk bermunajat kepada Allah dengan khusuk. Merapal ayat-ayat perlindungan dan keselamatan. Mencoba merangkai takdir dengan doa-doa terbaik yang dilarungkan langsung tanpa hijab ke singgasana langit Sang Pencipta.

 

Takdir memang sudah tertulis, tapi manusia juga memiliki kemampuan.

 

            Pagi memasuki pekan ke-38 kehamilan. Tanggal perkiraan lahir nyaris tiba. Beruntung pada pemeriksaan USG terakhir posisi bayi sudah berada di bawah. Barangkali kebiasaan baru Yana mengajak ngobrol dan membujuk bayinya sedikit banyak membantu, begitu menurut teori psikologi yang pernah dibacanya.

 

            “Gimana Yan, sudah ada tanda-tanda?” sapa ibunya yang tengah sibuk mengepak perlengkapan yang sedianya akan dibawa ke rmah sakit.

            “Belum, Ma,” balasnya.

            “Mungkin memang belum saatnya, tunggu-tunggu saja, paling tidak lama lagi.”

            “Bagaimana kalau tandanya tidak kunjung ada, Ma?”

            “Ya kamu jangan pikir yang aneh-aneh dulu, tunggu saja!” ucap mamanya ringan sambil berlalu.

 

            Oh Ibu, ringan katamu tak seringan kecamuk badai perasaanku. Betapa kini aku pun merasakan lelah-letih kau mengandungku dulu.

 

            Satu hari berlalu, disusul hari berikutnya, dan selanjutnya waktu berlalu sangat lambat bagai seorang terpidana mati yang menanti vonis eksekusi. Itulah pekan-pekan terlama dalam hidup Yana.

 

“Abi, bagaimana? Waktu perkiraan lahir sudah lewat beberapa hari.”

“Iya, nanti malam kita periksa lagi ya.”

 

Malam harinya di tempat praktek, setelah pemeriksaan dokter berpesan, “Ibu langsung ke rumah sakit saja ya, ini surat pengantarnya,” ucap sang dokter datar sambil menyerahkan selembar kertas memo.

 

“Semua baik-baik saja kan, Dok?” tanya suami Yana.

 

Dokter ahli kandungan itu nampak sibuk mencatat sesuatu lalu menjawab datar “baik, semuanya baik,” pandangannya sama sekali tak beralih. Dalam hati Yana merutuki etika dan pelayanannya yang tidak memuaskan pasien.

 

“Tapi saya belum ada tanda-tanda akan melahirkan, Dok, bahkan kontraksi pun tidak.”

“Iya, nanti di sana dibuat sakit dengan induksi*. Ini sudah minggu ke-39, tidak baik bayinya terlalu lama di dalam, nanti bisa keracunan ketuban, apalagi bobot bayi Ibu juga di atas rata-rata,” jawab sang dokter tanpa mengindahkan perasaan Yana dan suami.

 

yamaha

Deg!

 

Mengapa Dokter baru mengatakan sekarang? Apakah bobotnya memang baru bertambah? Atau ia sengaja?

 

Dua bulan terakhir ini memang Yana merasa perutnya terlampau besar. Tetangga rumah pun mengira ia mengandung anak kembar –yang sebenarnya tentu tidak.

 

Aura kekalutan semakin memenuhi wajah pias Yana. Tiba-tiba kepalanya senut-senut seperti tertusuk jarum. Di dalam ruangan terasa makin pengap. Napasnya sesak. Perutnya yang buncit itu makin sulit dibawa berjalan. Tanpa tedeng aling-aling, sang suami langsung memboyong Yana ke rumah sakit dan menghubungi keluarga di rumah agar segera menyusul.

 

Sesuai intruksi dokter, di rumah sakit prosedur induksi untuk menstimulasi persalinan langsung dilakukan. Seorang perawat meraba pergelangan tangan kiri Yana.

 

Dingin dan berkeringat.

 

Ia memasukkan abocath* ke vena*-nya. Sebuah selang bening mungil menjuntai mentransfusi zat makanan dengan tetes sistematik. Proses selanjutnya, memasukkan sesuntik cairan ke dalam botol infus yang berperan sebagai induksi.

 

Di luar, kanvas langit memamerkan warna duka, seperti kerang hitam yang terjebak di lautan terdalam. Segala ornamen langit memilih bersembunyi di balik awan. Lama-lama semakin berat, hingga tak berdaya menahan laju panah-panah bening untuk segera menancap bumi.        

Mega kian beriak. Melagukan gemuruh bersahut-sahutan sambil sesekali memancarkan serabut akar raksasa dengan blitz sepersekian detik. Seperti neon butut yang dipaksa berfungsi hingga dayanya benar-benar aus.

 

Hujan deras sepertinya akan tiba. Tapi badai yang dialami Yana masih lebih parah dari itu. Semalaman ia masih berkutat dengan kontraksinya yang lambat tapi kontinyu. Tenaganya perlahan-lahan terkuras sebab tak bisa makan dalam kondisi sakit begini. Netranya seperti tertarik ke dalam dengan gradasi halus keunguan di kantung matanya. Perawat yang terakhir memeriksanya mengatakan sudah pembukaan empat.

 

“Semalam ini baru bukaan empat!? Allahu Rabbi… . Duh….. sssshh…. haduuuuuuuuh…. ,” hanya desis dan erangan tertahan itu yang sesekali terdengar dari mulut Yana. Suaminya seperti tak tahan melihat kondisi istrinya yang menahan sakit itu, tapi ia sama sekali tak bisa membantu apa-apa selain mendoakan keselamatan anak dan istrinya. Dalam keresahan yang sama ia genggam terus tangan istrinya seraya memberi semangat.

 

“Yang sabar ya Sayang. Istighfar, jangan menyerah. Sebentar lagi kita akan melihat anak kita mirip siapa.”

 

Yana hanya bisa mengangguk pasrah dengan raut wajah ingin menangis terisak. Sebuah elusan tiba-tiba mendarat di punggungnya. Matanya ikut berkaca-kaca.

 

Ternyata itu ibu. Ah…  rasanya lebih tenang, asalkan ada ibu.

 

Tiba-tiba Yana merasa sarung yang menutupi bagian bawah tubuhnya basah. Ia seperti baru saja ngompol. Perawat yang datang memeriksa menyatakan air ketuban telah pecah, tapi  masih tersisa sedikit. Masih memungkinkan untuk dilanjutkan.

 

Alhamdulillah… . Setelah semua penderitaan ini, aku tak ingin berakhir di meja operasi, sekalian sakit sekali ini saja. Allah… aku tahu pertolonganMu begitu dekat.

 

Aku percaya itu. Aku ingin terus percaya.

 

Beberapa jenak berlalu. Pagi menjelang siang, dokter yang sangat ditunggu-tunggu telah tiba. Pada saat yang sama pembukaan telah lengkap. Yana dengan kesadaran menipis berusaha mengerti intruksi yang disampaikan dokter.

 

Ia harus kuat. Ia tahu ia bisa.

 

Napas Yana pecah di antara relung paru-paru. Setengah tubuh ke bawah terasa kebas. Namun ia tak berhenti memompa napasnya. Terus-menerus, hingga sesak terdesak begitu menyesak, hingga satu bagian mungil dalam dirinya keluar dengan tangis pecah di udara. Sang malaikat kecilnya telah lahir. Rasa lega tak tertandingi menyusup ke pori yang bermandikan peluh. Air matanya tumpah tanpa permisi.

 

“Wah, besarnya,” aku dokter yang menangani kelahiran Yana sembari menyerahkannya pada perawat untuk dibersihkan dan ditimbang.

 

“Empat ribu lima puluh gram, Dok. Empat kilo lebih.”

“Langsung cek gula darah ya.”

“Baik, Dok.”

 

Perawat lain dengan sigap menyiapkan peralatan. Tak butuh waktu lama, “normal, Dok, Alhamdulillah.”

 

“Hm, ya. “Selanjutnya diselesaikan ya.”

 

Tugas dokter telah selesai.

 

“Selamat ya, Bu bayinya sehat dan lucu,” seorang bidan yang turut membantu proses kelahiran mengabarkan pada Yana.

 

“Iya, makasih banyak,” ada ketulusan dan senyum puas di sana. Begitu juga pada suami dan ibunya, mereka begitu terharu dan bahagia menyambut si kecil.

 

Genggaman tangan Yana pada suaminya perlahan melemas dan mengendur. Kesadaran yang sedari tadi sudah menipis berangsur-angsur hilang. Ia hanya terlalu lelah dan ingin segera istirahat.

 

Ia hanya sempat merasakan kegaduhan di sekitar, sesaat sebelum matanya terpejam.

 

***

 

Catatan :

Pre-eklampsia :

adalah gangguan kehamilan yang ditandai oleh tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine

Sungsang       :

(mal presentasi) merupakan suatu kelainan letak bayi, yaitu posisi kepala di atas dan posisi bokong di bawah.

Emboli             :

terjadi apabila air ketuban yang pecah masuk ke pembuluh darah dan menyangkut di otak ibu atau paru-paru. Bila terjadi dapat merenggut nyawa ibu seketika.

Induksi           :

merupakan suatu tindakan yang dilakukan pada ibu hamil untuk merangsang munculnya kontraksi pada rahim sehingga proses persalinan normal dapat terjadi.

Abocath          :

jarum khusus untuk infus.

Vena               :

pembuluhbalik atau venaadalah pembuluhyang membawa darah menuju jantung. Infus cairan intravena dilakukan untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*Hajriani Friendly
([email protected])Redaksi SULTRAKINI.COM menerima kiriman karya sastra (puisi, cerpen, essai, dll) dari pembaca untuk dimuat dalam kanal Edukasi-Sastra. Setiap pekan akan dikoreksi oleh para kurator Kantor Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara serta penyair dan penulis handal Sultra. Karya dapat dikirimkan melalui email: [email protected] dengan melampirkan identitas jelas.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.