Kenang Peristiwa 30 September, Dandim 1416/Muna Nonton Bareng Film G30S/PKI

SULTRAKINI.COM: MUNA – Komandan Komando Distrik Militer (Dandim) 1416/Muna, Letkol Inf. Idris Hasan menginstruksikan pemutaran kembali Film Gerakan 30 September 1965 atau G30S/PKI pada Sabtu, 30 September 2017.

Pemutaran film rencananya akan dilakukan serentak di tiga wilayah teritorial Kodim 1416/Muna, yakni Kabupaten Muna, Muna Barat, dan Kabupaten Buton Utara.

Dandim 1416/Muna, Letkol Inf. Idris Hasan mengatakan penayangan kembali Film G30S/PKI bertujuan agar masyarakat dapat mengingat kembali peristiwa kelam yang terjadi di kala itu. Peristiwa yang menewaskan tujuh perwira tinggi akibat dibunuh dalam satu usaha kudeta PKI pada malam 1 Oktober 1965.

“Jadi filmnya itu akan diputar di setiap Koramil hingga ke desa-desa. Untuk di desa, lokasinya sudah ditentukan oleh Babinsa. Kalau di Kodim 1416/Muna, kita nonton pakai layar lebar. Dan saya sudah arahkan untuk nonton bareng masyarakat,” jelas Idris, Rabu (20/9/2017).

Menurutnya, saat ini PKI semakin menunjukan eksistensinya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan ditemukannya beberapa orang warga sengaja menggunakan pakaian berlogo palu arit, pemasangan spanduk berlogo komunis serta pembuatan film Senyap Buruh Tanah Airku, hingga menerbitkan buku berjudul aku bangga jadi anak PKI.

yamaha

“Sudah terang-terangan mereka menunjukkan bahwa PKI itu sebetulnya tidak salah. Mereka ingin memutar balikan fakta. Tapi kenyataannya, PKI tidak sejalan dengan Pancasila,” kata Idris.

Olehnya itu, dirinya mengajak seluruh masyarakat, ikut bersama TNI mengambil pesan dari tanyakan film G30S/PKI.

“Film ini (G30S/PKI) sudah lama tidak diputar. Hingga genarasi muda kita sudah banyak yang tidak tahu sejarah yang banyak memakan korban revolusi. Kita ingin menyadarkan masyarakat, khususnya generasi muda bahwa Komunis itu tidak akan sejalan dengan Agama. Karena menentang agama dan tidak sejalan dengan Pancasila. Dan yang terpenting dikatahui masyarakat, kalau PKI dilarang di Indonesia,” tambah Idris.

Laporan: Arto Rasyid

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.