Pilkada koltim

Ketidakpastian Perekonomian Global Membayangi RAPBN 2020

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Melanjutkan rangkaian kegiatan diseminasi kebijakan fiskal bekerjasama dengan ekonom dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia pada 2019, Kementerian Keuanga RI kembali menggelar kuliah umum di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Enam Enam (STIE 66) Kendari, Rabu (28/8/2019).

Mengusung tema perkembangan ekonomi terkini dan kebijakan fiskal Indonesia, Kepala Sub Bidang Proyeksi Asumsi Dasar Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Achmad Budi Setyawan, menerangkan ketidakpastian perekonomian global saat ini semakin tinggi ditandai oleh proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin rendah.

Dilihat dari presentase perolehan International Monetary Fund (IMF) atau dalam bahasa Indonesia Dana Moneter Internasional menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 dari 3,5 persen menjadi 3,3 persen. Di sisi lain, kebijakan The Fed mempertahankan suku bunga menyebabkan aliran modal masuk ke negara berkembang termasuk Indonesia.

“Perkiraan perekonomian global di tahun 2020 membaik dibanding 2019, namun masih diiringi ketidakpastian yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,05 persen di Quarter II 2019,” ujar Achmad,

Sementara perkembangan inflasi hingga Juli 2019 terkendali mencapai 0,31 persen (mtm) atau 2,36 persen (ytd) atau 3,32 persen (yoy) yang didorong peningkatan harga aneka cabai dan biaya sekolah. Inflasi tertahan karena terjadi deflasi pada tarif transportasi dan beberapa bahan makanan seiring normalisasi permintaan pascalebaran.

Pilkada

Achmad menambahkan, nilai tukar rupiah cukup stabil dengan kecenderungan menguat dipengaruhi oleh kondusifnya global serta stabilitas perekonomian dalam negeri. Per 26 Agustus 2019 nilai tukar Rupiah (JISDOR) sebesar Rp 14.261/US$ atau menguat 1,6 persen (ytd).

Pada 2019, target Gini Ratio 2019 sebesar 0,38-0,39 dengan tantangan disparitas akses permodalan dan kondisi geografis. Sedangkan target angka kemiskinan 2019 sebesar 8,5 persen sampai 9,5 persen dengan tantangan akses pangan, kesehatan, dan pendidikan bagi orang miskin.

“Untuk pengangguran ditargetkan 2019 hanya sampai 4,8 persen-5,2 persen dan IPM sebesar 71,98 persen dengan tantangan perubahan ekonomi (struktur lapangan kerja), skill mismatch (ketidaksesuaian keahlian), dan 4th Industrial Revolution (automasi, artifical intelligence),” ucapnya.

Dilansir dari CNNIndonesia, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui asumsi pertumbuhan ekonomi dalam RAPBN 2020 sebesar 5,3 persen semakin sulit tercapai lantaran ketidakpastian global yang meningkat. Hal itu dipengaruhi perang dagang antara AS dengan China yang tidak kunjung selesai.

Upaya agar target pertumbuhan ekonomi di RAPBN 2020 tercapai, kata Sri Mulyani yakni diperlukan langkah-langkah radikal dan fundamental dari seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk mendorong investasi dan konsumsi.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.