Festival Pesona Budaya Tua Buton

Kisah Remaja di Muna Daftar Polisi untuk Angkat Derajat Sang Ibu

SULTRAKINI.COM: MUNA – Bertekad mengangkat derajat sang ibu yang hanya seorang buruh agar-agar hasil olahan rumput laut, menjadi alasan utama Fandil (18) remaja dari pulau Bakealu Kecamatan Wakorumba Selatan untuk mendaftar sebagai calon Anggota Bintara Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Tak ada keluhan baginya meski harus bertarung nyawa dengan menggunakan katinting (perahu mesin) menempuh perjalanan laut selama satu jam antara rumah dan Mako Polres Muna di musim penghujan hanya untuk bisa mendaftar serta mengurus segala kelengkapan berkas dokumen verifikasi calon Anggota Bintara Polri.

Fandil pun optimis secara mental dan fisik siap untuk mengikuti tahapan selanjutnya saat dinyatakan lulus verifikasi di Polres Muna. Sebab keinginannya menjadi seorang polisi merupakan cita-cita sejak duduk di bangku sekolah dasar, serta didorong rasa semangat yang besar untuk bisa membahagiakan sang ibu.

Fandil menuturkan, ia hanya dibesarkan oleh sang ibu, Waode Pia (46) dan tinggal bersama nenek di rumah yang sederhana, sebab sejak masih dalam kandungan dia sudah menjadi anak yatim karena sang ayah telah meninggal dunia. Hal itulah yang membentuk karakternya menjadi mandiri.

Dia juga mengakui jika penghasilan sang ibu sebagai buruh agar-agar hanya Rp 40 ribu per hari sehingga terkadang dia turut membantu perekonomian keluarga dengan cara memancing usai pulang dari sekolah dengan menggunakan perahu dayung dan itu telah dilakoninya sejak tahun 2013 saat masih duduk dikelas satu SMP.

“Uang hasil jualan ikan, saya bagi dua dengan ibu saya dan sisanya saya sisihkan untuk ditabung. Di desa saya tidak ada sekolah, untuk belanja ke pasar harus nyebrang pakai perahu ke desa tetangga. Jadi sejak SMP untuk bisa sekolah harus bisa mendayung sendiri,” tutur Fandil saat ditemui SultraKini.Com di Polres Muna, Selasa (26/3/2019).

Fandil yang kerap menghelai nafas panjang menandakan ingin terlihat tetap tegap kepada SultraKini.Com menambahkan, jika pesan-pesan bijak dari sang ibu agar tidak jahat kepada orang lain, hormat terhadap orang tua serta tetap menjadi pribadi yang tidak sombong dan apa adanya, merupakan motivasi bagi dirinya untuk tetap semangat menjalani hidup.

“Saya optimis semoga bisa lulus hingga tahapan akhir, karena saya bertekad membanggakan ibu saya,” ungkap Fandil yang nampak matanya berbinar.

Laporan: Arto Rasyid
Editor: Habiruddin Daeng

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.