Pilkada koltim

Kolaborasi SEAMEO BIOTROP dan FHIL UHO Kembangkan Chesnut Sulawesi

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Southeast Asian Regional Center for Tropical Biology atau biasa disingkat SEAMEO BIOTROP (lembaga riset Biologi Tropika Asia Tenggara) bersama Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan (FHIL) Universitas Halu Oleo (UHO) berkolaborasi dalam pengembangan pohon Eha (Castanopsis Buruana Miq) di Sulawesi khususnya Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kerjasama sama ini sudah masuk tahap monitoring, usai Research Manager Research and Development SEAMEO Biotrop Regional Indonesia, Aslan MS Ph.D melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) hasil penelitian dosen FHIL (UHO) berjudul “Propagation Of Eha (Castanopsis buruana Miq.) In Supporting Of Development Plantation Forest In Sulawesi” pada Rabu, 29 Oktober 2020, kemarin.

Research ini diketuai Prof Dr Ir Husna MP, sedangkan anggotanya yakni Dr Faisal Danu Tuheteru SHut MSi, Dr Basrudin SP MSi dan Asrianti Arif SP MSi.

Kepada media, Aslan menilai, penelitian yang dilakukan Prof Husna bersama timnya sudah sesuai dengan harapan SEAMEO BIOTROP selaku lembaga penelitian bidang biologi tropika. Pasalnya, kata Aslan, salah satu metode yang digunakan dalam penelitian ini menunjukkan hasil terbaik.

“Intinya, penelitian yang dilakukan itu bagus dan sesuai harapan. Penelitian inikan bagaimana mengembalikan Eha dengan cara pembenihan dan pengembangan secara vegetatif (cangkok, stek batang dan stek pucuk, red). Alhasil cukup berhasil dengan metode cangkok,” ungkapnya.

Namun, lanjut Aslan, pertanyaan selanjutnya yakni berapa tahun hasil cangkok pohon Eha bisa menghasilkan buah (Chesnut,red). Apalagi memang belum ada yang penelitian terkait hal ini.

“Itu next pertanyaan berikutnya, caranya bagaimana?, nah saya sarankan bisa menggunakan metode boor batang untuk bisa mengetahui umur pohon. Sambil kita tunggu berbuah, kita pikirkan lagi bagaimana Eha menjadi icon Sultra. Nah, ini yang ingin dijual sebenarnya. Makanya Pemda harus terlibat, apalagi Sultra juga penghasil coklat. Kenapa kita tidak buat silverqueen chesnut dari buah Eha. Saya sarankan juga, ini bisa dikerjasamakan dengan departemen lain,” terang Aslan.

Sementara itu, Prof Husna menambahkan, monev yang dilakukan SEAMEO BIOTROP berlangsung selama dua hari pada dua lokasi berbeda yakni rumah plastik Asosiasi Mikoriza Indonesia (AMI) Sultra di kampus lama UHO dan Kebun Raya UHO di kampus baru.

Pilkada

“Jadi fokus kajianya itu lebih ke perbanyakan Eha secara vegetatif seperti cangkok, stek batang dan stek pucuk yang didanai oleh SEAMEO BIOTROP lewat hibah riset 2020,” terang Prof Husna.

Guru Besar FHIL ini menjelaskan bahwa penelitian yang pihaknya lakukan dilatar belakangi oleh potensi Sumber Daya Alam (SDA) Sultra yang begitu besar, salah satunya adalah pohon Eha.

“Biji Eha ini sudah sering di makan, seperti kacang chesnut. Olehnya itu, perlu upaya pengembangan. Nah, strategi pengembangannya, pertama kita harus tahu dulu sebaran alaminya selanjutnya melihat karakteristik ekologinya, barulah kita fokus keperberbanyakan vegetatif,” jelas Prof Husna.

Ia menambahkan, dengan keterbatasan benih akibat perkecambahan benih Eha yang begitu rendah sehingga pihaknya menggunakan alternatif lain dan hasilnya pun cukup memuaskan, meskipun ada hasil stek batang yang belum berhasil.

“Alhamdulillah hasilnya bagus terutama hasil cangkok. Kalau kita tanam hasil cangkok ini bisa memperpendek waktu produksi. Nah, orientasi kita ke depan,” ungkap mantan Dekan Faperta UHO ini.

Dirinya berharap kedepan pihaknya terus mendapatkan pendampingan pihak SEAMEO BIOTROP sehingga pengembangan kedepan bisa semakin baik.

“Eha punya potensi untuk dikembangkan di Sultra. Olehnya butuh dukungan para pihak baik SEAMEO BIOTROP, Pemda, pihak swasta dan lintas disiplin ilmu untuk mengembangkan Eha sebagai salah satu produk unggulan Sultra. Berdasarkan hasil penelitian kami bahwa, Eha mudah diperbanyak secara vegetatif,” pungkasnya. (B)

Laporan: Hasrul Tamrin

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.