SUARA

Lima Negara Termicin di Dunia, Indonesia Nomor Berapa?

SULTRAKINI.COM: Setiap orang pasti tahu, apa itu micin atau bumbu penyedap rasa. Apalagi mereka yang familiar dengan segala aktivitas di dapur. Meskipun penggunaannya masih sering memicu kontroversi dari sudut pandang kesehatan, faktanya selama beberapa dekade terakhir, semua orang di seluruh dunia telah menggunakan monosodium glutamat (MSG) sebagai zat aditif makanan.

Berbicara tentang MSG, berdasarkan data yang dimuat dalam Chemical Economics Handbook, ditemukan fakta unik tentang negara-negara pengonsumsi MSG. Rupanya, takaran konsumsi MSG per hari di negara-negara di Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat, Amerika Utara, dan Amerika Tengah, sangat terbatas sekali, yaitu hanya sekitar 3-4 persen dari dosis normal yang dianjurkan.

Sebaliknya, persentase konsumsi MSG di Asia mencapai 94 persen dari total produksi micin di seluruh dunia. Kira-kira, Kamu bisa menebak, Indonesia termasuk di urutan ke berapa?

Berikut lima negara paling banyak mengonsumsi MSG.

Taiwan
Taiwan sudah dikenal sebagai surganya kuliner. Kaya akan variasi menu, hampir 50 persen stan pasar malam di sana menjajakan makanan dengan porsi berlimpah. Bila di Indonesia masyarakatnya terbiasa makan sepiring nasi dengan 2-3 jenis lauk, maka di Taiwan sepiring nasi bisa dihidangkan dengan 8 jenis lauk. Ini belum termasuk makanan pembuka dan sajian pencuci mulut.

Tidak sedikit restoran di Taiwan yang menerapkan sistem all you can eat. Begitu identiknya Taiwan dengan budaya kuliner, sehingga rasanya tidaklah mengherankan jika negara ini mendapat urutan ke-5 sebagai negara pengonsumsi MSG tertinggi di dunia.

Vietnam
Negara yang gemar menjadikan telur rebus sebagai camilan sehat sehari-hari ini, menduduki peringkat keempat sebagai negara yang gemar mencampurkan MSG ke dalam masakan. Salah satunya, ke dalam makanan khas Vietnam, yaitu pho.

Sajian mi tipis berwarna putih dengan kuah kaldu, taburan sayur-mayur, irisan daging sapi, dan tak jarang ditambahkan telur dan keju ini, kerap dibubuhkan MSG untuk meningkatkan cita rasanya. Kabar baiknya, masih ada cukup banyak penjaja makanan yang tidak menambahkan MSG ke dalam masakannya. Jika wisatawan sedang berlibur ke Hanoi, Vietnam, pengunjung bisa menanyakan kepada penduduk lokal, restoran mana yang menghidangkan makanan sehat tanpa MSG.

Thailand
Siapa yang sanggup melawan godaan ragam kuliner khas Thailand? Di negara 1.000 Pagoda ini, Kamu bisa memuaskan hasrat belanja hingga urusan perut. Ternyata, alasan utama di balik gurihnya kuliner-kuliner tersebut adalah MSG. Inilah sebabnya Thailand menduduki peringkat ke-3 sebagai negara paling banyak menggunakan MSG sebagai penyedap rasa.

Indonesia
Indonesia menempati posisi ke-2 sebagai negara pengonsumsi MSG terbanyak di dunia. Fakta ini cukup ironis, mengingat Indonesia sangat kaya akan bumbu rempahnya.

yamaha

Tiongkok
Percaya tidak percaya, hampir 100 persen masakan khas Tiongkok dinyatakan mengandung micin. Fakta mengejutkan ini dimuat berdasarkan pengamatan pemerhati kuliner di laman typicalchinesefood.com. Hal tersebut juga berlaku untuk saus siap pakai serta snack kemasan yang diproduksi di negara ini. Tak ayal, Tiongkok pun menjadi negara yang menduduki peringkat pertama dalam urusan konsumsi MSG.

Kenali MSG
MSG atau yang juga dikenal dengan monosodium glutamate adalah zat aditif hasil perpaduan antara air, natrium, dan glutamate. Ini sudah umum digunakan sebagai penambah cita rasa makanan. Glutamat sendiri, merupakan salah satu jenis asam amino non-esensial, yang dapat dihasilkan secara alami oleh tubuh manusia, susu, keju, daging, ikan, olahan laut, serta beberapa sayuran. Inilah sebabnya MSG dapat digantikan dengan kaldu daging, ebi, ikan teri, ataupun keju untuk menambah rasa gurih dalam masakan.

Bagaimana bisa Timbul Anggapan MSG Berbahaya?
Kandungan asam glutamat yang terdapat pada MSG bisa membuat sel-sel saraf otak lebih aktif dan menciptakan sensasi rasa nikmat pada makanan. Akibatnya, beberapa pihak sempat mengklaim bahwa MSG dapat menciptakan stimulasi berlebihan terhadap sel-sel saraf.

Padahal, opini ini tidak sepenuhnya benar. Dilansir dari healthline.com, ada sebuah sumber tulisan yang memicu ketakutan terhadap MSG. Pada tahun 1996, sebuah buku berjudul Excitotoxins: The Taste That Kills diterbitkan oleh ahli bedah saraf, dr. Russell Blaylock.

Dalam bukunya, ia berpendapat bahwa sel-sel saraf di otak dapat dikacaukan oleh efek rangsangan glutamat yang terkandung dalam MSG. Bila ditelisik dari satu sisi, memang benar bahwa peningkatan aktivitas glutamat di otak dapat berbahaya. Namun, hanya MSG dalam takaran yang tinggi yang sanggup meningkatkan kadar glutamat dalam darah.

Namun penelitian lain mengungkapkan, takaran kecil konsumsi glutamat pada menu diet harian berefek sangat sedikit pada otak manusia. Hal ini dikarenakan MSG tidak dapat melintasi membran antara darah dan otak dalam jumlah besar. Secara keseluruhan, tidak ada bukti ilmiah yang bisa dijadikan acuan kuat bahwa mengonsumsi MSG dalam jumlah normal dapat berdampak buruk pada kondisi kesehatan seseorang.

Dampak yang perlu Diwaspadai dari MSG
Adanya pemikiran yang salah kaprah membuat masyarakat cenderung mengkhawatirkan mitos seputar MSG, sebagaimana dilansir dari medicaldaily.com. Sebagai contoh, banyak kalangan yang menyebarkan isu bahwa MSG bisa membuat bodoh. Padahal, ada dampak lain yang seharusnya lebih dikhawatirkan.

Tanpa disadari, nafsu makan akan meningkat ketika mengonsumsi makanan yang mengandung MSG. Alhasil, jumlah kalori yang dikonsumsi pun melebihi takaran yang semestinya. Bila pola makan ini berlangsung secara terus-menerus dan tidak dikendalikan, berisiko mengalami obesitas, lonjakan kolesterol, serta tingginya gula darah. Akibatnya, terjadi peningkatan risiko mengidap penyakit seperti diabetes dan jantung koroner. Konsekuensi inilah yang sebaiknya membuat dihindari penggunaan MSG.

Takaran Aman untuk Mengonsumsi MSG
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 033 Tahun 2012, MSG merupakan salah satu Bahan Tambahan Pangan yang aman dan diizinkan untuk dikonsumsi, dengan dosis secukupnya. MSG pun sudah diakui keamanannya oleh beberapa badan dunia yang berkompeten dalam bidang makanan, seperti FAO, WHO, FDA, juga BPOM RI.

 

Sumber: Guesehat.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.