Pilkada koltim

Liput Demonstrasi, Dua Wartawan di Kendari Diduga Diintimidasi Polisi, Dokumentasi Liputan Dihapus

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Dua orang wartawan diduga diintimidasi, ketika melakukan peliputan demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di depan Mapolda Sulawesi Tenggara, Kota Kendari, Rabu (28/10/2020) sekitar pukul 15.30 Wita. Data dokumentasi liputan wartawan tersebut dihapus oknum polisi.

Demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda sempat terjadi di depan Mapolda Sultra. Agenda demo juga diisi dengan menagih perkembangan kasus kematian Randi-Yusuf.

(Baca: Hari Sumpah Pemuda, Keluarga Besar Randi dan Yusuf Aski di Mapolda Sultra Empat Masa Diamankan)

Namun, ada hal lain yang terjadi di sela-sela aksi itu. Dua wartawan diduga diintimidasi ketika meliput. Mereka adalah Hardiyanto, Watawan MediaKendari.com dan Ilfa, Wartawan Sultrademo.co.

Keduanya diketahui berada di belakang barikade polisi. Keduanya sempat merekam momen saat salah satu demonstran diamankan dan digiring masuk ke mapolda, namun sempat sejumlah aparat memukul orang yang diamankan tersebut.

Sebelum oknum polisi menghapus dokumentasi liputan kedua wartawan itu, oknum polisi sempat menanyakan status dan kegiatan peliputan mereka. Usai menunjukkan tanda pengenal pers dan surat tugas liputan, oknum polisi justru menuduh keduanya wartawan bodong.

Tidak hanya itu, wartawan tersebut dibawa ke dalam pos penjagaan Provost dan ponsel mereka diperiksa.

“Saya dibawa ke dalam Mapolda Sultra oleh tiga orang oknum polisi yang berpakaian preman. Setibanya di dalam, hp (alat peliputan) saya diambil dan mereka menghapus semua video yang saya ambil,” jelas Herdiyanto, Rabu (28/10/2020).

“Apa yang kamu rekam tadi di situ, ini kalian dari mana, di mana id card-nya, hapus semua video tadi,” ucap Herdiyanto menirukan ucapan oknum polisi.

Pilkada

“Coba sini hp-mu saya periksa, jangan cuman polisi kalian rekam, mahasiswa juga,” tambahnya.

Usai menghapus dokumentasi video di dalam ponsel wartawan, lanjutnya, oknum polisi bahkan mengancam akan menamparnya dan memfoto identitas dari kedua wartawan tersebut.

“Ada satu polisi yang mengancam akan menampar saya, menyebut media saya bodong dan mengambil foto KTP,” terangnya.

Ilfa juga mendapat tindakan yang sama, ponselnya diambil oknum polisi dan dihapus hasil dokumentasi liputannya terkait aksi tersebut. Ia mengaku, didatangi tiga orang polwan dan meminta ponselnya yang digunakan untuk liputan.

“Handphone saya diminta secara paksa dan menghapus semua video yang saya ambil. Kemudian mereka memeriksa WhatsApp dan Facebook, takutnya saya sudah kirim ke grup WhatsApp,” jelasnya.

Oknum polisi yang mendatangi mereka memakai pakaian preman dan berpakaian seragam.

Dikonfirmasi pihak Polda Sultra, Kombes Pol Laode Proyek selaku Plh Kabid Humas Polda Sultra mengaku masih berkomunikasi sehubungan hal tersebut dengan pihak Aliansi Jurnalis Independen (AJI).

“Tadi saya sudah komunikasi dengan ketua AJI agar diperjelas dulu gimana kejadiannya, nanti kalau sudah diperjelas baru dikonfirmasi lagi,” ucapnya. (A)

Laporan: Riswan
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.