Masih Kurang Bersyukur? Coba Tengok Penderitaan Keluarga Ini

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Hati siapa yang tak koyak melihat kehidupan keluarga Werae, warga Kelurahan Laosu Kecamatan Bondoala Kabupaten Konawe. Tak hanya miskin, kehidupan mereka seolah berada dalam lingkaran cobaan dengan penyakit yang datang silih berganti.

Dua anak perempuan Werae mengidap kanker, tumor kelenjar benih. Satu diantaranya, Wendindi, baru saja meninggal akibat penyakit yang dideritanya, pada Sabtu (18/06/2016). Keterbatasan ekonomi membuat Werae tak bisa membiayai pengobatan anak keempatnya itu.

Sementara anak yang satunya lagi, Erna, merasa bingung ketika mau berobat ke Puskesmas atau rumah sakit. Anak kedua Werae itu mengaku tak punya uang ketika harus berobat. Ia juga belum memiliki kartu kesehatan, seperti Kartu Indonesia Sehat (KIS) maupun kartu kesehatan program pemerintah daerah. Alhasil, dukun kampung kerap menjadi pelarian.

Selain mereka berdua, satu anak laki-laki Werae juga menderita penyakit lumpuh layu pada bagian kakinya. Lamaa, yang merupakan anak pertama Werae, telah digerogoti penyakit Polio sejak usianya masih belasan tahun. Saat ini usia Lamaa telah menginjak usia 43 tahun. Kini ia hanya bisa duduk dan terbaring di atas ranjangnya.

Penderitaan keluarga Werae tak cukup sampai di situ, Burhanuddin (suami Werae), juga tengah menderita stroke. Beberapa bagian tubuhnya telah mati sebelah. Penyakit itu telah menggerogoti imam rumah Werae sejak belasan tahun silam. Sejak saat itu pula, Burhanuddin tak bisa lagi mengerjakan kewajiban untuk menafkahi keluarganya.

Cobaan Warae belum usai. Ibunya sendiri, Ngoda juga ditimpa penyakit yang begitu memilukan. Nenek yang usianya lebih dari 70 tahun itu mengalami kebutaan. Penyakit itu telah menggerogotinya sejak beberapa tahun belakangan ini.

“Sebelum semuanya terkena penyakit seperti ini, anak saya yang ketiga juga meninggal tanpa ditau penyakit apa yang kena. Saat itu Erni masih kecil. Dia meninggal ketika masih dalam ayunan. Padahal, sebelumnya tidak ada penyakitnya,” kenang Werae sedih.

Dari lima anak Werae, hanya Sartina yang saat ini hidup normal. Ia bahkan telah menikah dan telah dikaruniai anak. Namum kehidupan ekonominya hanya cukup untuk hidup keluarga kecilnya.

Tinggalah Werae yang mesti banting tulang untuk menghidupi anak, suami hingga orang tuanya yang pesakitan. Ia mesti kerja serabutan dari berkebun, menjual sayur dan Pokea (siput sungai). Ia menjadi satu-satunya tulang punggung yang bisa diharapkan di keluarganya itu.

Meski dilanda kesulitan yang teramat, Werae mengaku jika kaluarganya sangat taat berpuasa. Ketika Ramadan tiba, seperti saat ini, baik anak, suami dan ibunya yang sakit, tak pernah putus puasa.

“Lamaa puasanya penuh terus, sama juga dengan suami dan mama saya. Sementara Wendindi, sebelum sakitnya separah waktu dekat-dekat mau meninggal, juga masih lancar berpuasa,” tandas ibu lima anak itu.

Editor: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.