Iklan Clarion

Massa Forbes Wakatobi Dibubarkan Saat Tolak Penimbunan Tempat Makam

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Sejumlah warga Desa Waha Koroe Onowa, Kecamatan Wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi yang mengatasnamakan Forum bersama masyarakat (Forbes) Wakatobi terpaksa harus menghentikan aksi unjuk rasa yang memprotes rencana penimbunan pemakaman dan pengerusakan pohon mangrove oleh pengelolah risort milik Bupati Wakatobi, Arhawi, Senin (22/1/2018). Aksi dari Desa Waha Koroe Onowa menuju kantor Bupati Arhawi itu dihalangi sejumlah oknum yang pro tindakan tersebut.

Kejadian ini terjadi saat sejumlah masa Forbes Wakatobi lagi berkumpul sekitar pukul 10.00 Wita,  untuk melakukan unjuk krasa yang di mulai dari Desa Waha Koroe Onowa menuju kantor Bupati Wakatobi,  namun tiba-tiba datang sejumlah oknum (masyarkat yang pro) melakukan pembubaran terhadap masa aksi.

Salah Seorang warga Desa Waha Koroe Onowa, La Pende (70an), menyesalkan tindakan oknum yang membubarkan masa aksi yang ingin menyuarakan keluhan masyarakat terhadap isu penimbunan pemakaman. Di satu sisi, dia sesalkan aparat kepolisian yang berada di lokasi hanya diam, ketika para oknum membubarkan demonstran.

“Masa masyarakat mau menyuarakan keluhannya, mau dihalang-halangi oleh orang lain,” kata La Pemde. 

La Pemde mengatakan sampai kapanpun warga tidak akan terima dengan tindakan pihak pengelola risort yang akan menimbun tempat pemakaman umum. “Di sana ada kubur bapak ku dan anakku, jadi sampai kapanpun kami tidak akan terima,” ucap La Pemde.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Desa Waha Koroe Onowa, Asmudin membantah adanya penimbunan tempat pemakaman. Menurutnya, itu hanya isu yang dilontarkan oknum. 

“Tidak akan dilakukan penimbunan terhadap tempat pemakaman itu, karena di tempat pemakaman ini ada makamnya kakeknya pak H. Arhawi di sini. Bahkan kalau ada kotor sedikit pak haji sendiri yang suruh kasih bersih. Pak haji sendiri yang jaga ini makam,” ujar Asmudin.

Ia pun membantah lokasi itu akan dijadikan risort. Katanya lokasi tersebut akan dijadikan tempat wisata umum, sehingga ini siapa pun bisa masuk ke dalam ini.

“Rencananya pemakaman ini akan dijadikan sebagai wisata religius. Tapi ini pun akan dibicarakan kembali dengan toko adat, masyarakat, agama bahkan Departemen Agama karena ini berkaitan dengan agama,” terang Asmudin.

Penulis: Amran Mustar Ode

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.