Memasuki Ramadan Harga Telur Ayam di Mubar Melonjak, Warga Mengeluh

SULTRAKINI.COM: MUNA BARAT – Sejak memasuki bulan suci Ramadan 1442 Hijriah hingga saat ini, harga telur ayam terus melonjak hingga menimbulkan keresahan bagi penjual maupun pembeli.

Dari sisi penjual, mereka cemas akan daya beli masyarakat selama beberapa hari kedepan sampai pada hari raya Idul Fitri apabila harga tidak kembali stabil.

Misalnya penjual di Pasar Lasosodo, Irma (34). Dirinya merasa khawatir jika harga telur ayam terus melambung, pembeli akan membatasi konsumsi telur ayam yang berdampak pada penurunan penjualannya. Sejumlah pelanggannya juga ikut mengeluhkan masalah tersebut sepekan terakhir.

Meski dagangannya tetap terjual, Irma merasa tidak enak atas berbagai pertanyaan dari para pembelinya. “Mereka tanya terus kenapa harganya (telur ayam) naik terus,” ucapnya, Selasa, (20/4/2021).

Rata-rata harga telur ayam di Pasar Lasosodo hingga kini dijual dengan harga Rp 50 ribu/rak. Harga tersebut naik hingga Rp 8 ribu dibanding sebelum ramadan Rp 42 ribu/rak.

Bagi pembeli peningkatan harga yang terjadi sejak pekan ini membuat terasa “tercekik”. Pembeli seperti Wa Saima (39 tahun) yang menjadikan telur ayam sebagai salah satu bahan baku membuat kue dan jualan roti mengaku harus menaikkan harga dagangannya untuk menutupi harga pembeli telur.

“Harga telur ayam naik, terpaksa harga roti yang saya bikin saya kasi naik,” ujar warga Desa Lakanaha itu.

Wa Saima menambahkan, kenaikkan harga kue buatannya sejauh ini belum mendapatkan protes dari pelanggan. Namun, ia khawatir kenaikkan harga telur ayam dapat berdampak pada bisnisnya jika tidak segera diantisipasi oleh pemerintah maupun pihak terkait.

Selain pebisnis rumahan seperti Wa Saima, ibu rumah tangga ikut resah dengan harga telur ayam yang terus merangkak naik ini. Seperti dikatakan Ira (29), warga Desa Lafinde.

Menurutnya, kenaikkan harga telur ayam sejak sepekan terakhir terbilang menguras kantong mengingat komoditas tersebut merupakan salah satu kebutuhan pokok di rumah. Akibat melonjaknya harga, ia terpaksa harus mengurangi jumlah pembelian.

Biasanya, ia dapat membeli dua rak setiap minggunya untuk delapan anggota keluarganya. Kini Ira membatasi hingga setengah tak per minggunya.

“Terpaksa saya kurangi pembeliannya, biasanya dua rak perminggu,” terangnya.

Sementara itu, saat diminta keterangan melalui sambungan selulernya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mubar mengaku masih mengikuti musrenbang.

“Saya lagi musrenbang,” singkatnya. (A)

Laporan: Hasan Jufri
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.