Membaca Arah Dukungan Golkar pada Pilkada Butur

Oleh: Hasruddin Jaya

PEMILIHAN Kepala Daerah (Pilkada) serentak akan dilangsungkan pada 9 Desember 2020. Di Sulawesi Tenggara (Sultra) sendiri ada 7 (tujuh) Kabupaten yang akan menggelah Pilkada. Buton Utara (Butur) adalah salah satunya.

Beberapa partai politik telah menyatakan dukungan kepada bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Butur. Namun ada juga partai politik yang baru mengeluarkan surat tugas kepada bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Butur.

Dari beberapa partai yang telah menyatakan dukungan (dipastikan final) kepada bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Butur adalah PDI Perjuangan, PAN dan Partai Demokrat. PDI Perjuangan mengusung petahana, Abu Hasan berpasangan dengan Suhuzu. Sedangkan PAN dan Partai Demokrat mengusung Ridwan Zakariah (RZ) berpasangan dengan Ahali.

Sementara Partai Golkar, PKB, PKS dan PKPI baru mengeluarkan surat tugas (belum final dan masih bisa berubah). Sedangkan Partai Gerindra sampai hari ini masih belum menyatakan sikap, baik itu dalam bentuk surat tugas maupun rekomendasi.

Partai Golkar, PKB, PKS dan PKPI memberikan surat tugas kepada pasangan bakal calon Bupati dan Wakil Bupati Butur pendatang baru, yakni Muhammad Aswadi Adam dan Fahrul Muhammad.

Namun akhir-akhir ini dikabarkan Partai Golkar dan PKB kembali di dekati oleh dua pasangan calon sebelumnya yang telah saya sebut diatas, Abu Hasan-Suhuzu dan Ridwan Zakariah-Ahali. Abu Hasan-Suhuzu sedang membangun komunikasi dengan PKB. Sedangkan Ridwan Zakariah-Ahali sedang membangun komunikasi dengan Partai Golkar.

Tetapi dalam tulisan ini saya tidak ingin berbicara panjang tentang arah dan sikap dukungan PKB dalam Pilkada Butur. Saya hanya ingin memfokuskan tulisan ini pada arah dan sikap dukungan Partai Golkar yang menurut saya cukup menarik untuk diulas.

Tertanggal 21 Maret 2020 Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Golkar mengeluarkan surat tugas kepada Muhammad Aswadi Adam. Surat tugas tersebut salah satunya bertujuan untuk mencari pasangan wakil. Selain itu agar mempersiapkan partai koalisi karena bila hanya Partai Golkar sendiri tidak memenuhi syarat untuk di daftarkan di KPU sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Butur.

Waktu berjalan. Aswadi bersama Partai Golkar berkeliling menyapa masyarakat Buton Utara di enam kecamatan. Selain bersosialisasi kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas Aswadi. 

Kegiatan tatap muka Aswadi terus berlanjut. Akhir-akhir ini Aswadi bersama calon pasangan wakilnya, Fahrul Muhammad gencar melakukan sosialisasi ke desa-desa.

Namun kabar tentang rekomendasi Partai Golkar di Pilkada Butur kembali mencuat. Hal itu terlihat dari pernyataan ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Satu Partai Golkar Sultra, Hery Asiku di beberapa media online yang menyoal tentang arah dukungan Golkar pada Pilkada 9 Desember di tujuh kabupaten di Sultra. 

Baru Wakatobi yang final dapat rekomendasi, karena Arhawai dianggap berhasil memimpin Partai Golkar. Sementara untuk kabupaten lain masih sebatas surat tugas. Dan ini masih bisa berubah. Tergantung hasil survei. Bila elektabilitasnya rendah Partai Golkar tentu tidak ingin konyol. Diketahui, di Butur ada tiga nama yang mendaftar di Golkar, tapi yang mengembalikan berkas tersisah dua nama yang dibawah ke DPD I Golkar, yakni Aswadi dan Ridwan Zakariah.

Sebelum itu, Harwis Hari salah seorang kader Partai Golkar Butur beberapa waktu lalu telah menyatakan sikap pribadinya untuk mendukung pasangan Ridawan Zakariah-Ahali. Sikap ini tentu tidak berdiri sendiri. Diduga kuat tentu ada beck upp dari orang-orang di DPD I Golkar. Sebab Harwis Hari belum sehari dua hari berada dalam Partai Golkar. Ia seorang politisi, tiga periode menjadi anggota DPRD Butur.

Ketua DPDI I Parati Golkar di Sultra, Hery Asiku tentu menginginkan Golkar menang paling minimal di empat kabupaten dari tujuh kabupaten yang melaksanakan Pilkada serentak di Sultra. Hal ini disebabkan selain karena Hery Asiku adalah ketua yang baru terpilih, menurut saya disinilah ajang pembuktian Hery Asiku sebagai kader dan ketua Golkar.

Pilkada di tujuh kabupaten di Sultra akan punya pengaruh besar pada perhelatan Pilgub dan pemilu tahun 2024 mendatang. Dimana Hery Asiku harus mampu menambah kursi DPRD di setiap kabupaten. Menurut saya bila kursi di DPRD masih sama, maka Hery Asiku akan dianggap tidak berhasil memimpin Golkar. Jadi, ajang Pilkada tahun ini sangat penting untuk Partai Golkar di Sultra.

Maka tidak salah bila Hery Asiku cukup berhati-hati dalam menentukan sikap kemana nantinya Golkar akan berlabuh di setiap kabupaten, khususnya di Pilkada Butur. Tentunya tolak ukur yang mendekati falid adalah survei. Jadi tidak menutup kemungkinan yang paling tinggi surveinya itulah yang akan dipilih oleh Golkar.

Kedatangan Sekretaris, Muhamad Basri dan Wakil Ketua Bidang Pemenangan Pemilu (Bapilu) DPD I Golkar Sultra, Imam Gazali di Butur tertanggal 13 Juni memang untuk bertemu dengan pasangan Aswadi-Fahrul. Selain persiapan dalam menghadapi Pilkada 9 Desember dan Musda Golkar, bisa jadi ada perintah lain untuk Aswadi- Fahrul. Seperti memasifkan kerja-kerja lapangan karena saat ini Aswadi-Fahrul masih berada diurutan terbawah diatara Ridwan Zakariah-Ahali dan Abu Hasan-Suhuzu untuk tingkat elektabilitas.

Cukup sederhana, seandainya memang Partai Golkar sudah final untuk pasangan Aswadi-Fahrul seperti kata sekretaris DPD II Golkar Butur, Al Adrin dan Plt ketua DPD II Golkar Butur, Laode Aca beberapa waktu lalu, harusnya setelah kunjungan DPD I Golkar Sultra tertanggal 13 Juni kemarin sudah ada respon baik dari DPD I, terutama ketua DPD I Golkar Sultra, Hery Asiku yang sekurang-kurangnya pernyataan resmi di media seperti di Wakatobi, Golkar final untuk Arhawi.

Bila diperhatikan yang getol mengatakan Golkar final untuk Aswadi-Fahrul di Butur saat ini hanya sekelompok saja, berbeda dengan pernyataan bahwa Golkar final untuk Arhawi di Wakatobi. Maka tidak mengherankan kalau saat itu Harwis Hari setelah menyatakan dukungan untuk Ridwan Zakariah langsung dipecat sebagai kader Golkar tanpa adanya surat teguran terlebih dahulu dan klarifikasi atau pembelaan dari pihak yang bersangkutan.

Aswadi-Fahrul tentu punya dead line waktu yang diberikan untuk mendongkrak elektabilitasnya di Pilkada Butur. Dugaan saya dead line waktu yang diberikan tersebut efektifnya sampai bulan Juli. Bila tidak ada perubahan yang signifikan, tentu Partai Golkar bisa saja mengambil sikap lain dengan tidak mendukung pasangan Aswadi-Fahrul.

Dari uraian diatas terlihat adanya perbedaan sikap yang mendasar antara  DPD II Golkar Butur dan DPD I Golkar Sultra. DPD II Golkar Butur sudah menyatakan final Golkar ke Aswadi-Fahrul, tetapi DPD I Golkar Sultra dari pernyataannya di media, baru Wakatobi yang final Golkar untuk Arhawi. Selebihnya masih surat tugas, dan masih bisa berubah tergantung hasil survei. 

Hal ini tentu berbeda jauh dengan PAN, PDI Perjuangan dan Partai Demokrat yang sikap dan pernyataannya di media sejalan dengan pernyataan antara pengurus daerah dan provinsi. Tentunya kepengurusan di provinsi lebih tinggi dimbanding dengan daerah, baik dari segi kebijakan maupun keputusan. Perbedaan sikap antara DPD II Golkar Butur dan DPD I Golkar Sultra membuat publik bertanya-tanya, ada apa dibalik ini.? 

Golkar memang selalu seksi dan menarik untuk diperbincakan. Bukan hanya arah dukungannya di Pilkada Butur, tapi juga dimomen-momen pemilu sebelumnya. Inilah hebatnya Golkar yang mampu membentuk dirinya (Golkar) sebagai partai yang sampai sekarang eksis baik dikanca nasional maupun lokal. 

Dan tidak berlebihan bila kita hendak menyebut Golkar sebagai guru dari partai-partai lain yang ada hari ini. Sebab tidak sedikit tokoh nasional yang lahir dari Partai Golkar, termasuk beberapa partai yang eksis saat ini dimotori dan dibesarkan dari gemblengan Partai Golkar. Sebut saja Prabowo Subianto Ketua Umum Partai Gerindra dan Surya Palo Ketua Umum Partai Nasdem.

Sekedar menginformasikan, kantor DPD I Golkar Sultra  saat ini sedang di rehab. Ini secara tidak langsung menandakan bahwa ketua DPD I Golkar Sultra yang baru, Hery Asiku memang sedang semangat-semangatnya berjuang untuk membangun Partai Golkar di Sulawesi tenggara. Termasuk soal dukungan Partai Golkar di Pilkada serentak di Sultra, dan mungkin Butur pada khususnya.

Untuk diketahui, selain pasangan Aswadi-Fahrul, pasangan Ridwan Zakariah-Ahali juga intens membangun komunikasi politik ditingkatan DPD I, DPD II, dan DPP Golkar. Dan ini memungkinkan untuk dipanggil sesuai waktu yang ditentukan oleh Partai Golkar. Sebab secara elektabilitas pasangan Ridwan Zakariah-Ahali masih jauh mengungguli pasangan Aswadi-Fahrul.

Menurut saya cukup menarik untuk ditunggu sikap dari Partai Golkar di Pilkada Butur. Politik itu dinamis, setiap waktu bisa berubah. Sebelum adanya rekomendasi atau surat keputusan dari Partai Golkar siapapun masih berpeluang, Ridwan Zakariah ataupun Aswadi. 

Namun bila Partai Golkar ingin mengacu pada tingkat keterpiliha berdasarkan survei, saya pikir Ridwan Zakariah adalah orang yang tepat. Ridwan Zakariah adalah mantan Bupati Buton Utara Periode 2010-2015, ia punya basis fanatik yang tersebar di enam kecamatan yang ada di Butur. Sedangkan Aswadi oleh sebahagian masyarakat menyebutnya anak kemarin sore yang baru muncul, namanya mulai naik setelah sukses mendatangkan Artis Ibukota, Fildan Rahayu serta melakukan kegiatan-kegiatan sosial di Butur. Tentu ia belum mempunyai basis fanatik.

Tetapi bila surat tugas yang menjadi acuannya, maka aswadi adalah satu-satunya orang yang berhak untuk mendapatkan rekomendasi atau surat keputusan dari Partai Golkar untuk bertarung di Pilkada Butur. Sebagai Partai Besar dan terhitung matang dalam menghadapi setiap dinamika sosial politik, Golkar tentu telah memikirikan segala sesuatunya untuk menghadapi Pilkada serentak di Sultra, khususnya Butur. 

Demikian tulisan ini dibuat, dan sangat terbuka untuk di diskusikan. Dinamika sosial politik memang selalu menarik untuk dibicarakan, utamanya Butur yang terletak di bagian utara pulau Buton ini yang dikenal sebagai daerah Barata Kulisusu di zaman Kesultanan Buton***

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.