SUARA

Membaca Perilaku Pemilih pada Pilgub Sultra

La Husen Zuada
(Pengajar Pada Prodi Ilmu Politik FISIP Universitas Halu Oleo)
Email: [email protected]

Rapat pleno pengumuman kelolosanpasangan calon dan pencabutan nomor urut oleh KPU Sultra menjadi ‘pluit’penanda dimulainya kontestasi Pilgub Sultra 2018. Total ada tiga pasangan calongubernur yang dinyatakan memenuhi syarat dukungan menurut aturan perundangan yakniAli Mazi – Lukman Abunawas, Asrun – Hugua, dan Rusda Mahmud – L.M Sjafie Kahar.

Selama 4 bulan kedepan bahkan mungkinlebih dari itu, masyarakat Sulawesi Tenggara akan diramaikan dengan persainganpara Paslon merebut hati pemilih. Dalam upaya meraih dukungan pemilih, ketigapasangan calon gubernur akan menghadapi berbagai karakteristik pemilih yangberbeda-beda. Dalam literatur ilmu politik dikenal tiga mazhab perilaku pemilihyakni sosiologis, psikologis dan rasional. Ketiga mazhab tersebut cukup mampudipakai untuk untuk membaca karakter pemilih warga Sultra.

Pertama, modelsosiologis (mazhab Colombia). Mazhab ini memfokusakan pada karakter pemilihberdasarkan pertimbangan sosiologis, seperti: kelas sosial, agama, kelompoketnis/kedaerahan/bahasa. Jika pemilih menentukan pilihannya berdasarkan preferensietnis, maka ketiga pasangan calon akan bersaing secara ketat, mengigatketiganya berasal dari basis etnis yang besar. Pasangan Ali Mazi-Lukman yangberasal dari etnis Buton dan Tolaki dapat dipastikan akan beririsan denganpasangan Asrun-Hugua yang juga mewakili etnis Tolaki dan Buton. Preferensipemilih etnis Buton ini akan semakin terbagi dengan keberadaan pasangan RusdaMahmud-L.M. Sjafie Kahar yang berasal dari Buton.

Kemungkinan terbaginya suara padapemilih etnis Buton dan Tolaki ini, berbeda dengan etnis besar lainnya. EtnisBugis yang diwakili oleh Rusda Mahmud sangat mungkin solid jika dihadapkan padapreferensi etnis karena menjadi satu-satunya calon yang berasal dari etnis Bugis.Meski demikian, pada sisi yang lain karakteristik pemilih sosiologis ini bisasaja tidak menguntungkan Rusda Mahmud, jika preferensi pemilih dihadapkan padaisu kedaerahan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Isu ini akan menjadirintangan bagi Rusda untuk meraih dukungan elektoral dari etnis lokal sebagaipemilik suara mayoritas di Pilgub Sulawesi Tenggara. Jika isu ini menguat, makasegmen pemilih etnis lokal hanya akan diperebutkan pasangan Ali Mazi-Lukman danAsrun-Hugua. Sementara etnis Muna yang tidak memiliki keterwakilan dalamkomposisi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur, sangat mungkinmenjatuhkan pilihannya dengan mengikuti preferensi kewilayahan, daratan dankepulauan. Dengan itu, maka pemilih etnis Muna sangat mungkin membagi suara merekapada tiga pasangan calon.

Kuatnya pengaruh sosiologis pada PilgubSultra terbaca dari survey JSI yang dirilis agustus 2017 yang membagi peta dukunganmenjadi 6 zona wilayah yaitu zona 1 (Kota Kendari); zona 2 (Bombana dan KonaweSelatan); zona 3 (Buton Utara, Muna dan Muna Barat); zona 4 (Buton, ButonSelatan, Buton Tengah, Kota Bau-Bau, Wakatobi); zona 5 (Kolaka, Kolaka Utaradan Kolaka Timur) dan zona 6 (Konawe, Konawe Utara dan Konawe Kepulauan). Berdasarkansurvey tersebut Ali Mazi mendapat dukungan yang sangat signifikan di dua zonawilayah yaitu zona 3 dan 4. Selanjutnya, Asrun mendatkan dukungan kuat di tigawilayah yaitu zona 1, 2 dan 6. Sedangkan Rusda Mahmud memiliki dukungan yangcukup besar di zona 5. Keunggulan Ali Mazi di wilayah yang banyak dihuni olehetnis kepulauan, Asrun di wilayah yang banyak dihuni oleh etnis daratan, sertaRusda Mahmud yang unggul di wilayah yang banyak dihuni oleh etnis Bugis,menandakan kuatnya preferensi pemilih berdasarkan etnis dan kewilayahan (sosiologis)dalam Pilgub Sultra. Survey JSI yang mensimulasikan tiga nama menempatkan AliMazi sebagai kandidat yang memiliki dukungan pemilih paling tinggi (36 %),disusul Asrun (26,9 %), Rusda (22,3 %), serta yang belum menentukan pilihansebesar 14, 9 %. Hasil survey JSI ini tidak jauh berbeda dengan temuan SMRCyang dirilis bulan oktober 2017. Survey SMRC menemukan jumlah dukungan terhadapAli Mazi menempati posisi teratas (29.6 %). Selanjutnya Asrun dan Rusda Mahmud beradadibawahnya sebesar 25.2 % dan 17.8 %, dan responden yang belum memberikanjawaban sebesar 27,3 %.

yamaha

Kedua, modelpsikologis (mazhab Michigan). Mazhab ini menekankan bahwa ketertarikan untukmemilih dipengaruhi oleh kemudahan dalam mengakses informasi dan kedekatandengan partai tertentu (identifikasi partai). Dalam konteks psikologis, mengacupada jumlah partai pendukung dan dominasi kursi legislative dan jabataneksekutif, pasangan Asrun-Hugua lebih unggul dibanding dua pesaingnya, Ali-Mazi-Lukmandan Rusda-Syafie.

Dari komposisi partai pengusung, Asrun-Huguamemiliki kekuatan potensial yaitu menguasai hampir separuh komposisilegislative Sultra (46 %) dan memegang 10 jabatan kepala daerah (58 %) diSultra. Kekuatan potensial Asrun-Hugua ini sangat mungkin memenangkan PilgubSultra dengan catatan, jika identifikasi pemilih terhadap partai politik kuatdan tidak terjadi fenomena split ticketvoting (pemilih membagi pilihan). Identifikasi partai yang kuat akanmelahirkan voters loyality dankonsitensi pemilih, sehingga tentu sangat menguntungkan calon kepala daerahyang didukung oleh koalisi besar.

Meski demikian, faktor psikologis agaksulit terwujud jika melihat kuatnya personifikasi dalam pemilihan kepaladaerah. Pengaruh figur seringkali menjadi lebih kuat dibanding identifikasi partaipolitik. Keberpihakan bupati petahana dan elite penentu di daerah, kerap kali mengalahkanidentifikasi partai. Situasi ini akan semakin tidak menguntungkan, jika partaimengalami perpecahan dan ketidaksolidan, seperti informasi yang beredar di Muna,Muna Barat, Wakatobi dan Konawe Selatan. Andai situasi ini terus berlangsung,maka agak sulit mengharapkan dukungan suara yang signifikan dari segmenpemililih psikologis. Terlebih lagi dalam beberapa Pilkada di Indonesia, jumlahkepala daerah yang terpilih berkat sumbangan pemilih psikologis ini amat jarangditemukan. Oleh karena itu, nampaknya kecil kemungkinan pemenang Pilgub Sultramengandalkan segmen pemilih psikologis.

Ketiga, model pilihanrasional (ekonomi politik). Mazhab ini menempatkan evaluasi kinerja pemerintahdan pertimbangan untung rugi dalam menentukan pilihan politik. Semakin baik kinerjapemerintah, maka antusiasme pemilih untuk memilih Cagub yang berhasil membangundaerah akan semakin tinggi. Andai saja pertimbagan pemilih merujuk padakeberhasilan pemerintah, maka kehadiran pemilih rasional ini sangatkonstruktif. Namun ketika dihadapkan pada penyebaran politik uang, pemilihsemacam ini sangat destruktif bagi demokrasi. Karakteristik pemilih yangmengharapkan uang seringkali diistilahkan sebagai pemilih pragmatis dantransaksional.

Jika pemilih rasional menentukan pilihanberdasarkan evaluasi terhadap kinerja pemerintahan, maka sosok Rusda Mahmud menempatiposisi paling atas untuk kemunginan dipilih, menyusul Ali Mazi dan Asrun.Alasannya, Rusda Mahmud selama menjadi bupati sukes membangun Kolaka Utara daridaerah terbelakang hingga sejajar dengan daerah lain di Sulawesi Tenggara.Selanjutnya, Ali Mazi selama menjadi gubernur Sultra berhasil membanguninfrastruktur yang memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat. Pembangunaninfrastruktur juga dilakukan oleh Asrun selama memerintah, meski prestasitersebut agak tertutupi karena kegagalannya mengatasi masalah banjir di KotaKendari. Di Sulawesi Tenggara, jumlah pemilih rasional yang mengacu padaevaluasi kinerja pemerintah tidaklah siginifikan.

Sebaliknya pemilih pragmatis dantransaksional mewarnai hampir setiap penyelenggaraan Pilkada Sultra. Transaksiuang seringkali mempengaruhi pemilih untuk tetap pada pilihannya, memindahkanpilihan, bahkan untuk mencegah pemilih agar tidak memilih (negative turn out buying).  Halini sangat mungkin terjadi pada Pilgub Sultra 2018. Kemungkinan penggunaanpolitik uang tampak dari rilis indeks kerawanan Pemilu Bawaslu Sultra, dimana SulawesiTenggara sangat rentan terhadap politik uang. Temuan studi prodi Ilmu PolitikFISIP Universitas Halu Oleo pada Pilkada 2015 dan 2017, politik uang terjadi diPilkada Konawe Utara, Kota Kendari dan Konawe Selatan.

Para sarjana yang mengkaji pengaruhpolitik uang menemukan bahwa uang sangat rentan mempengaruhi pemilih miskindari sisi ekonomi (Djani, 2014). Dalam konteks Pilgub Sultra dimana jumlahmasyarakat miskin didaerah ini masih cukup besar, maka pemberian uang kepadapemilih sangat mungkin mempengaruhi masyarakat dalam menentukan pilihannya. Namunyang perlu menjadi catatatan, yakni jumlah pemilih sosiologis (afiliasi etnis) diSulawesi Tenggara masih sangat signifikan, sehingga siapapun yang berhasilmeraih pemilih pada segmen ini berpeluang memenangkan Pilgub Sultra. 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.