Hoax adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu. Padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Demikian menurut Wikipedia.

Menelaah Kabar Hoax Atas Berita Saling Klaim Kery dan Litanto

Hemat saya, hoax berdasarkan bentuknya terbagi dua. Pertama hoax yang benar-benar Hoax. Kedua, hoax yang tersamarkan. Demikian saya menyebutnya.

Hoax yang benar-benar hoax tentu sudah jelas, sebagaimana pengertian Wikipedia tersebut. Berita hoax biasanya ditulis dengan narasumber yang tidak jelas/asal mencaplok nama orang dan dimuat di media yang tidak jelas pula. Seperti itu sederhananya.

Lalu, bagaimana dengan berita hoax yang tersamarkan? Nah, ini yang menarik. Menariknya karena berita ini punya narasumber yang jelas dan dimuat pula oleh media yang jelas. Nilai hoaxnya adalah karena berita itu berisi kebohongan, yang tentu disampaikan oleh si narasumber.

Bisa saja seorang narasumber ketika diwawancara mengeluarkan pernyataan 'bohong' dengan tujuan tertentu. Lalu si wartawan menelan informasi itu mentah-mentah. Lalu keluarlah berita berisi 'kebohongan' yang ditulis oleh wartawan yang jelas, dengan narasumber yang jelas dan dimuat di media yang jelas pula.

Untuk kasus hoax yang tersamarkan, sejauh ini tampaknya belum masuk kategori hoax. Namun ini penting, karena di dalamnya terdapat tanggungjawab moral seorang wartawan dan media, serta narasumber terkait kebenaran informasi yang akan dan telah terpublikasi.

Itulah mengapa seorang wartawan harus selalu skeptis terhadap informasi yang diterima dari narasumbernya. Lalu, melakukan check and recheck untuk mengetahui kebenaran dari informasi yang ia terima itu.

Terkait isu/berita yang 'dituduh hoax' dan tengah memanas di Konawe, sebenarnya hal ini sederhana saja. Kebetulan saya sendiri mengikuti dengan baik pemberitaan ini.

Awalnya, bapak Kery Saiful Konggoasa mengeluarkan pernyataan bahwa ia punya peluang untuk merebut kursi partai berwarna merah, kuning dan putih. Termasuk juga partai berwana biru yang mirip warna PAN.

Meski tidak menyebut secara gamblang, keempat partai itu bisa diasumsikan: Merah (PDIP), Kuning (Golkar), Putih (PKS/Gerindra) dan Biru yang mirip PAN (Demokrat).

Lalu, apa yang terjadi setelah klaim itu? Litanto menjawabnya dengan SK DPP PDIP (masih dalam proses, tapi sudah jelas) dan Demokrat (serta SK DPP PKB). Dengan demikian jelas, klaim Kery atas partai warna merah dan biru mentah sudah.

Lalu, Litanto mengeluarkan pernyataan 'balas dendam' bakal merebut PAN yang sebelumnya sudah digadang-gadang menjadi milik Kery. Setidaknya ada tiga alasan dia: PAN belum mengeluarkan SK, punya kedekatan dengan Ketua Umum DPP PAN dan ingin mengawinkan PAN-PDIP sebagaimana yang terjadi di Pilgub Sultra.

Hanya selang dua hari dari penyataan itu, Kery juga menjawabnya dengan menunjukan SK DPP PAN di tangannya (plus SK DPP NasDem). Dengan demikian, klaim atas Litanto pun terbantahkan juga.

Informasi tersebut telah diambil beberapa media dan menjadi konsumsi publik. Lalu pantaskah berita saling klaim itu disebut hoax? Saya rasa tidak. Berita itu benar, nasarumbernya jelas dan media yang memuatnya jelas pula. Dalam hal ini, media memberitakan berdasarkan apa yang diperoleh wartawan di lapangan.

Cara terbaik menyikapi hal semacam ini sebenarnya tidak etis kalau yang diserang adalah medianya. Sebab, media hanyalah perpanjangan tangan narasumber dengan publik. Saran ini barangkali berlaku untuk masing-masing tim sukses kedua belah pihak.

Jika Anda geram dengan berita yang Anda anggap hoax itu, maka ngambek-lah kepada si narasumber. Jangan lupa juga untuk berterimakasih kepada media, karena dengan adanya mereka (media-media) anda menjadi tahu apa yg dilakukan rival politik anda.

Kemudian, untuk kawan-kawan wartawan. Tetaplah bekerja profesional. Selalu skeptis dengan informasi yang masuk dan melalukan check and recehck. Sekian dan semoga bermanfaat.


Penulis: Mas Jaya

IKLAN KPU IKLAN LION

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations