Festival Pesona Budaya Tua Buton

Mengapa Perempuan Rentan Terserang Gagal Ginjal Dibanding Laki-laki?

SULTRAKINI.COM: Penyakit ginjal atau gagal ginjal merupakan gangguan fungsi ginjal secara bertahap yang disebabkan sejumlah faktor. Kabar lainnya, penyakit ini cenderung rentan menyerang perempuan dibandingkan laki-laki.

Ginjal bagian dari organ vital manusia. Fungsinya, menyaring limbah, menghasilkan enzim renin guna menjaga tekanan darah dan kadar garam dalam tubuh, membuat hormon eritropoietin yang merangsang sumsum tulang memproduksi sel darah merah. Ginjal juga berfungsi memproduksi vitamin D dan menjaga kesehatan tulang.

Saat terganggu, fungsi di atas bisa tersendat. Parahnya, limbah dalam tumbuh akan menumpuk. Dampaknya, tubuh lebih berisiko terkena penyakit lainnya. Belum lagi biaya besar akan dikeluarkan apabila gagal ginjal sudah menyerang tubuh. Mislanya, cuci darah.

Resident Medical Officer Siloam Baubau, Dr Denny Emilius, menerangkan jumlah pasien gagal ginjal didominasi oleh kaum wanita, hal ini dikarenakan perempuan memproduksi hormon estrogen dalam jumlah banyak. Sedangkan laki-laki kadar estrogen dalam tubuh jauh lebih rendah.

Perempuan berisiko terjadi gangguan metabolisme estrogen. Dampaknya, muncul kista ginjal. Tubuh bisa kembali membaik jika kista tersebut diangkat. Namun membawa dampak buruk bagi tubuh apabila dibiarkan.

“Apabila kistanya tidak diangkat atau pasien tidak tahu ada kista, dikira hanya keputihan biasa atau pendarahan biasa dan tidak melakukan pemeriksaan ginjal ternyata ginjalnya bermasalah, seharusnya pasien ke dokter bedah untuk diangkat dulu kistanya, karena adanya kista akan menghambat metabolisme ginjal itu dan mengakibatkan gagal ginjal,” ucap Denny, pada media gathering yang diadakan Siloam Hospital Baubau, Kamis (14/3/2019).

Pasien gagal ginjal di Siloam Hospital Baubau meningkat tiap tahunnya, sehingga pasien yang rutin cuci darah 30 orang dan satu pasien berhasil cangkok ginjal di Jakarta semenjak cuci darah di rumah sakit itu beroperasi April 2017. Peningkatannya sekitar 53 persen sampai 60 persen setiap tahun.

Dijelaskannya, masih terdapat pasien memilih enggan melakukan cuci darah dikarenakan mereka menganggap pasien dengan tindakan demikian akan tervonis meninggal dunia.

“Pasien-pasien merasa bahwa cuci darah itu tervonis menjadi pencuci darah selamanya, seumur hidup, padahal dengan adanya cuci darah justru memperbaiki fungsi ginjalnya dan memperbaiki kualitas hidupnya,” terangnya.

Hasil riset kesehatan dasar pada 2013 oleh Kementerian Kesehatan RI, ditemukan 0,2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia mengalami kondisi gagal ginjal kronis.

Berdasarkan Indonesian Renal Registry yang digagas perkumpulan dokter ginjal se-Indonesia, pada 2016 lebih dari 8.000 pasien gagal ginjal kronis disebabkan oleh diabetes (nefropati diabetik), dan merupakan penyebab terbanyak di Indonesia. Disusul oleh hipertensi yang jumlahnya hampir 4.000 penderita.

Penderita gagal ginjal kronis yang aktif cuci darah juga terus meningkat dari 30 ribu pada 2015, menjadi lebih dari 50 ribu pada 2016.

Studi lain membuktikan, penyakit ini banyak dijumpai pada perempuan dengan prevalensi 14 persen, sedangkan pria prevalensinya 12 persen.

Banyak faktor yang menyebabkan perempuan lebih cenderung diserang gagal ginjal, di antaranya pre-eklampsia dan eklampsia (keracunan kehamilan) selama kehamilan, infeksi saluran kemih, penyakit kanker serviks dan lupus yang sering menyerang ginjal.

Infeksi saluran kemih kerap menyerang perempuan karena struktur anatomi saluran kemih mereka lebih pendek dari pada laki-laki.

Laporan: Aisyah Welina
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.