Mengenang Sosok Edi, Pendaki Gunung yang Tewas di Mekongga

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Edi Mulyadi, salah satu pendaki Gunung Mekongga yang dinyatakan meninggal dunia saat melakukan pendakian pada 5 Maret 2017, merupakan alumni organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Navernos Fakultas Ekonomi Universitas Halu Oleo.

Edi, sapaan akrabnya, melakukan pendakian bersama lima rekannya, yakni La Ode Fitrah, Khairad Umayah Said, La Ode Musafir, Rahim dan Igun. Mereka mendaki gunung tertinggi di Provinsi Sulawesi Tenggara dengan ketinggian 2.620 meter di atas permukaan laut (MDPL) itu, untuk sekadar menyalurkan hobi.

Menurut pihak keluarga, Edi merupakan sosok yang sangat menyayangi keluarga. Anak kedua dari tiga bersaudara itu, kerap menyenangkan kedua orang tuanya. Adik kandung Edi, Muh Arif, menuturkan kepada SULTRAKINI.COM, Rabu (15/3/2017), semasa kakaknya itu hidup dan bekerja di sebuah dealer sepeda motor, sering membelikan perabot rumah tangga untuk orang tuanya. Seperti membelikan ibunya televisi, kulkas dan mesin cuci.

“Edi adalah sosok kakak yang begitu tegas, baik dan lebih sering berdiam diri,” kisahnya saat ditemui di rumah duka, Rabu sore.

Arif sama sekali tidak menyangka, kejadian naas itu akan menimpa kakak yang teramat ia sayangi itu. Karena sebelum berangkat, Edi pamit kepada kedua orang tuanya hanya untuk pergi jalan-jalan ke Kolaka selama dua minggu. Edi sama sekali tidak mengaku akan pergi mendaki Gunung Mekongga. Ketika mengetahui peristiwa tersebut, Arif merasa sangat terpukul dan sedih.

Dia menceritakan, awal peristiwa diketahuinya dari status Blackberry Massenger (BBM) teman kakaknya, Acang. Di statusnya, Acang menulis tentang proses evakuasi pendaki Gunung Mekongga. Saat membaca itu, Arif langsung mengajak Acang mengobrol via BBM.

“Pertama kali saya mendengar kabar, saya melihat status kak Acang di BBM, kak Acang ini juga teman kak Edi. Di status kak Acang megatakan evakuasi enam pendaki yang terjebak di Gunung Mekongga. Trus saya komentar, kak jangan sampai Edi ada di dalamnya. Lalu kak Acang balas komentar saya, dia bilang iya, Edi adalah salah satu pendaki tersebut,” tutur Arif, mengutip percakapannya dengan Acang via BBM.

Acang juga berpesan, agar tidak memberitahukan orang tuanya. Dikhawatirkan, kedua orang tua Edi akan syok mendengar kabar tersebut. Kata Acang, masih menurut Arif, nanti teman-teman Edi yang datang ke rumah untuk menginformasikan secara langsung.

Namun, entah dari mana didengarnya, informasi itu sampai juga di telinga kedua orang tua Edi Mulyadi.  “Saya juga tidak tau dimana orang tua saya mendegar kabar tersebut, yang jelas setelah mereka mendengar informasi tersebut, orang tua saya sampai-sampai syok dan langsung pada hari itu juga ibu saya berangkat ke Kolaka Utara untuk memastikan kejadian tersebut,” kata Arif.

Setelah pihak keluarga memastikan informasi tersebut, dan mengetahui Edi sudah tidak bernyawa lagi, tangis keluarga pun tak terbendung. Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga almarhum Edi. Untungnya, keluarga Edi sangat berbesar hati dengan kepergian sang putra. Mereka menyadari, bahwa yang bernyawa pasti akan mati. Kepergian Edi sudah kehendak sang pencipta.

Arif, sebagai adik kandung, juga merasa sedih hingga tak mampu berkata banyak. Ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kakaknya, semoga diberikan tempat yang layak.

Seperti diketahui, Edi Mulyadi merupakan salah satu pendaki yang tewas bersama La Ode Fitrah alias Toto. Keduanya pendaki Gunung Mekongga di Kabupaten Kolaka Utara, yang mengalami trouble saat akan turun dari gunung karena dihantam badai dan terserang Hipotermia. Edi dan Toto ditemukan tim SAR gabungan di Pos 7 pendakian.

Sementara rekannya, Khairad Umayah Said dan La Ode Musafir ditemukan di Pos 6 dalam keadaan selamat. Sedangkan Rahim dan Igun lebih dulu selamat. Keduanyalah yang memberi informasi ke perkampungan tentang keberadaan rekan-rekannya di gunung.

Laporan: Ripaldi Rusdi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.