Iklan Clarion

Menyulap Sampah dari Seluruh Dunia Menjadi Robot

SULTRAKINI.COM: Bagaimana 500.000 ton sampah elektronik yang diimpor negara Togo setiap tahun berubah menjadi tambang emas bagi para inovator. Republik Togo mengimpor sekitar 500.000 ton sampah setiap tahun, di antaranya berbahaya bagi kesehatan. Di satu sisi, dari sampah-sampah itu menginspirasi para peneliti lokal dan menciptakan lapangan kerja yang dilaporkan Waihiga Mwaura.

Inovasi dari sampah sangat unik. Bentuknya mirip laba-laba begitu pun pergerakannya. Jangan salah, makhluk robotik tidak bisa dianggap sebagai mainan belaka. Robot laba-laba menjadi simbol revolusi digital yang bergerak salah satu negara terkecil di Afrika Barat.

“Saya membuatnya dari mesin cetak 3D bekas,” ujar Ousia Foli-Bebe sambil menunjuk robot laba-labanya.

“Plastik dari mesin printer saya jadikan lengan dan kakinya. Saya juga membuat mesin cetak 3D dari sampah elektronik. Saya sendiri belajar cara membuat printer dari internet,” tambahnya.

Foli-bale membawa robot laba-labanya ke sekolah-sekolah untuk menarik minat siswa dalam bidang sains dan daur ulang.

“Cita-cita saya membuat perangkat sains agar mereka bisa mulai menciptakan karyanya sendiri dan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat,” jelasnya.

Laboratorium Ecotec-nya terletak di Amadanhome, di pinggiran ibu kota Togo, Lomé. Tempatnya sangat sederhana dengan papan tulis memenuhi satu sisi dinding dan mesin cetak 3D di dinding seberangnya.

Pria berusia 29 tahun, adalah salah satu di antara sejumlah pengusaha muda melihat peluang dari sampah elektronik yang diimpor Togo. Lembaga pelestarian lingkungan lokal E-Waste Centre memperkirakan 500 ribu ton sampah masuk ke Togo setiap tahunnya.

Di luar laboratorium beragam jenis televisi dan perangkat elektronik bekas di lahan seluas lapangan. Mempermudah dirinya mendapatkan berbagai perangkat untuk proyek inovasinya.

Foli-Babe berbagi lahan dengan pendaur ulang sampah elektronik lain. Ia mengaku bahwa banyak belajar tentang daur ulang dari orang lain, seperti Gnikou Afate, yang disebutnya sebagai pencipta mesin printer 3D daur ulang pertaga di Togo.

Yang lebih mengesankan mesin cetak buatan Afate berhasil menjuarai Konferensi Teknologi Fabrikasi Barcelona 2015.

Penemu berusia 39 tahun sebelumnya pernah berkolaborasi dengan pusat pengembangan teknologi bernama Woelab salah satu terbaik di sana baru-baru membuka laboratorium kecil di samping rumahnya.

Menurut laporan tersebut, pada 2016, orang-orang di seluruh dunia membuang 44 juta ton sampah elektronik. Telepon genggam bekas, laptop, TV, dan generator listrik memenuhi mobil van dan truk yang keluar dari pelabuhan Lome. Mereka menggelar lapak di pasar di dekat pelabuhan di mana para pembeli berkumpul.

Meningkatnya kebutuhan akan teknologi telah menciptakan pasar, di mana orang-orang ingin membeli barang elektronik bekas saling tawar-menawar. Bukan hanya permintaan atas barang elektronik bekas menarik minat para pembeli, melainkan ketidaksanggupan negara-negara kaya untuk mendaul ulang.

Organisasi seperti Basel Action Network khawatir negara-negara barat sebenarnya hanya tidak becus menangani sampah elektronik mereka dan sengaja membiarkannya berakhir di kapal kargo, kemudian membawa semua ke Afrika Barat dan negara-negara lainnya.

“Negara-negara lain tak tahu apa yang harus diperbuat dengan sampah elektronik yang mereka hasilkan, Afrika memiliki lingkungan terbaik untuk lokasi pembuangan,” ujar aktivis Youth for the Environment Togo, Sena Alouka.

Perjanjian tersebut juga mendorong negara-negara Afrika mengesahkan undang-undang untuk mengontrol impor barang-barang cacat atau hampir kedaluwarsa dengan menjadikannya sebagai sampah berbahaya.

“Bayangkan satu set televisi itu semua mengandung kadmium, timah, dan berilium: semuanya mengandung racun dan sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan,” jelas Alouka.

Bisa saja zat-zat tersebut mencemari air yang mengalir ke lautan. Sementara kita makan ikan. Zat-zat tadi mengandung merkuri dan bahaya lainnya. Itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita, terutama bagi anak-anak kita.

Meski demikian, kini upaya mengatur sampah elektronik justru menjadi tantangan, sebab banyak hidup warga yang bergantung padanya. “Jika Anda perhatikan ragam sampah yang masuk ke sini, banyak di antaranya sangat berbahaya dan beracun, sehingga kita harus mengevaluasi dengan cermat dampak ekonomi yang bisa ditimbulkannya terhadap lingkungan kita,” lanjut pengusaha daur ulang Hervé Tchamsi dari E-Waste Centre.

Tchamsi mengatakan, timnya mencoba untuk meminimalisir paparan zat-zat berbahaya sampah elektronik terhadap mereka. Ia berharap cara yang dilakukannya bisa diberlakukan juga di seluruh Togo.

Sumber: BBC.com dan VIVA co.id

Laporan: Wa Ode Rahmah Maulidya Wuna

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.