SULTRAKINI.COM: KENDARI - Kepala SMPN 10 Kendari, Ruslan L, mengaku akan mengikutkan siswanya Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tahun ini meski belum siap sarana dan prasarana secara keseluruhan. Hal itu dilakukan demi mematuhi kebijakan pemerintah pusat, yang menetapkan sekolah negeri yang sudah siap 70 persen harus melaksanakan UNBK.
Meski Kurang Siap, SMPN 10 Kendari Ngotot UNBK Demi Patuhi Kebijakan Pusat
SMPN 10 Kendari. (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

Ruslan mengakui, kesiapan pihak sekolah untuk ikut UNBK masih kurang. Namun dia berani mengambil keputusan untuk tetap melaksanakannya, dengan alasan mengikuti kebijakan pusat.  Sehingga pihaknya meminta sumbangan dari para orang tua siswa untuk pembelian peralatan UNBK yang masih kurang. 

"Kebijakan dari pusat 70 persen sekolah negeri harus siap laksanakan UNBK, dan kita sudah dibantu pemerintah komputer 22 unit dan ada juga kita punya komputer yang lalu itu mubazir juga kalau kita tidak gunakan," jelasnya Ruslan saat ditemui di SMPN 10, Sabtu (27/1/2018).

Permintaan sumbangan, menurut dia, secara sukarela sesuai kesepakatan rapat dengan orang tua siswa beberapa waktu lalu.

"Keputusan rapat komite orang tua siswa peserta ujian nasional pada tanggal 22 Januari 2018 lalu di aula SMPN 10 yang diikuti 85 orang tua siswa, menyepakati adanya bantuan dari orang tua siswa untuk mempersiapkan alat UNBK yang belum lengkap," katanya.

Anggaran yang dibutuhkan untuk membeli kelengkapan ujian tersebut, sebanyak Rp40 juta. Setelah dibagi rata 226 siswa, maka per siswa diminta membayar Rp180 ribu. Uang sebesar Rp40 juta tersebut, lanjut Ruslan, akan dibelanjakan diantaranya server, switch,  kabel LAN dan lain sebagainya.

"Kami sampaikan ke orang tua siswa, bahwa kalau kita mau ikut UNBK semua anak-anak, kita membutuhkan alat-alat pendukungnya antara lain server, switch, kabel LAN, dengan harga sekitar Rp40 juta," jelasnya.

"Jika ada orang tua siswa yang tidak mampu, tidak dipaksa bayar. Yang mampu bisa lebih, yang tidak mampu semampunya saja," imbuhnya.

Baca: SMPN 10 Kendari Dilaporkan ke ORI Usai Minta Sumbangan Rp 200 ribu

Kepala SMPN 10 Kendari, Ruslan, saat diwawancarai wartawan di ruang kerjanya, Sabtu (27/1/2018). (Foto: Wa Rifin/SULTRAKINI.COM)

Ruslan optimis sumbangan orang tua siswa itu akan cukup Rp40 juta, melihat antusias para orang tua siswa yang siap membantu.

"Optimis, pada waktu rapat orang tua siswa antusias dan yakin pasti bisa sampai target Rp40 juta,  dan jika tidak cukup akan disurati kembali orang tua siswa yang mampu untuk bicarakan kembali terhadap anggaran yang kurang," kata dia. 

Sebagian orang tua siswa telah mengeluarkan sumbangsihnya dengan besaran bervariasi. Mulai dari Rp177 ribu, Rp180 ribu, Rp200 ribu, sampai Rp 280.000. Kini yang sudah terkumpul baru 49 siswa dengan total nominal Rp8,1 juta.  

Meski demikian, kata dia, sebenarnya dinas tidak mewajibkan sekolah memaksakan diri memenuhi fasilitas yang kurang. Jika sekolah menyatakan siap UNBK namun fasilitas masih kurang, bisa menumpang UNBK di sekolah lain, atau sesuai kreaktifitas masing-masing sekolah untuk mengadakan UNBK.

"Solusi dari dinas harus siap 70 persen, terserah kreasinya bagaimana masing-masing sekolah apakah bergabung atau kreaktifitasnya sekolah dengan partisipasi orang tua," pungkasnya.

Salah satu siswa peserta ujian SMPN 10 Kendari mengaku tahu akan dilakukan UNBK di sekolahnya. "Saya tau akan ada UNBK di sekolah, dan kami siap ikut," kata sembari meminta namanya dirahasiakan.

Dia juga mengakui ada permintaan sumbangan untuk memenuhi kebutuhan UNBK dari pihak sekolah. "Iya betul ada sumbangan untuk perlengkapan peralatan UNBK, minimal membayarkan Rp180 ribu maksimal Rp200 ribu. Itu tidak wajib tapi harus untuk persiapan UNBK, dan ada juga rapat orang tua untuk itu, mereka setuju. Dari pihak siswa kami tidak merasa keberatan karena untuk kebutuhan UNBK," katanya.

Laporan: Wa Rifin

pengumuman kpu

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations