SUARA

Miris, Rumah Tunggu Kelahiran di Wobar Jadi Tempat Bisnis Oknum Kapus

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Kepala Puskesmas (Kapus) Kecamatan Wonggeduku Barat (Wobar) Kabupaten Konawe, Juhartin tampaknya tak mau menyia-nyiakan aset negara yang tengah ia kuasai. Kali ini, ia memanfaatkan Rumah Tunggu Kelahiran (RTK) Puskesmas Wobar sebagai tempat bisnis foto kopi miliknya.

SultraKini.Com mencoba melakukan penelusuran dengan mendatangi langsung RTK yang dimaksud, Senin (9/4/2018). Nampak dari depan rumah, terpasang sebuah spanduk menyuratkan bahwa tempat tersebut adalah RTK.

Akan tetapi, di depan rumah terdapat pula papan plang bertuliskan “Foto Copy dan Percetakan Fahdilan”. Di bawah papan pengumuman itu terdapat sebuah stan penjualan bahan bakar minyak eceran.

Lalu, di samping teras rumah terdapat bilik tempat foto kopi dan penjualan alat tulis kantor. Bilik tersebut masih satu bagian dengan RTK, yang dikontrak pemerintah untuk memenuhi kebutuhan ibu melahirkan.

Saat awak media kami berkunjung, RTK tersebut sedang di jaga pria bernama Primus Aldi. Pemuda itu mengaku sebagai penjaga tempat foto kopi. Ia juga membenarkan kalau bisnis yang ia jaga merupakan milik Kapus, Juhartin.

Oleh Primus kami diajak masuk ke RTK. Di bagian depan RTK, terdapat beberapa karung besar yang entah apa isinya. Setelah dijelaskan Primus, ternyata karung-karung tersebut berisikan properti pelaminan yang merupakan bisnis lain dari Juhartin. Di dalam rumah juga terdapat papan plang RTK yang belum dipasang.

yamaha

Primus mengaku, ia ditugaskan untuk menjaga tempat itu. Sesekali ia bahkan sampai menginap. Ia mengatakan, kalau tempat tersebut telah dikontrakan sekira dua tahun lalu oleh pemerintah. Terkait nominal kontraknya ia mengaku tak tahu.

Lalu, bagaimana fungsi RTK tersebut yang sebenarnya? di dalam RTK ada dua ruangan kamar. Kamar satunya tak terpakai, sedang kamar satunya lagi dikatakan Primus sebagai tempat istrahat para bidan.

Di ruang tengah ada sebuah ranjang. Primus mengatakan, di ranjang tersebutlah si pasien biasa diistrahatkan atau bahkan melahirkan. Kondisi tempat persalinan itu bisa dikatakan tak layak. Sebab ruangannya yang cukup terbuka dengan sedikit penutup dari lemari sehingga membuatnya akan tampak dari ruang depan.

“Di sini dalam sebulan bisa melayani dia sampai tiga pasien. Paling minimal satu. Karena kalau siang pasien akan langsung ke puskesmas. Kecuali kalau malam biasanya ada di sini,” ujarnya.

Hingga berita ini selesai ditulis, kami belum sempat mengkonfirmasi hal tersebut ke Kapus yang bersangkutan. Saat awak media kami berkunjung ke Puskesmas Wobar, Juhartin sedang tidak di tempat. Oleh staf, kami diberitahukan kalau ia sedang keluar melayat.

 

Laporan: Mas Jaya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.