SULTRAKINI.COM: MUNA - Berwisata ke Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, tentunya tak lengkap jika belum mengunjungi Pantai Meleura. Sebelum tiba di lokasi ini, pengunjung di bagian timur Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia akan menemukan satu potret wisata lagi, yakni Muara Motonuno dengan cerita mitos didalamnya.

Mitos Muara Motonuno, Wisata Pertama Pulau Muna
Camat Lohia, LM. Hajar Sosi (kedua dari kanan) saat memperkenalkan keindahan objek wisata Muara Motonuno kepada sejumlah SKPD. (Foto: Arto Rasyid/SULTRAKINI.COM)

Muara Motonuno memiliki luas sekitar 400 meter persegi. Muara air tawar ini, berdekatan dengan Pantai Meleura yang disebut-sebut wisata pertama di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Berkunjung ke tempat ini, pengunjung langsung disuguhkan jernihnya air dan sejuknya udara di sekitaran muara.

Namun dibalik keindahannya, Muara Motonuno menyimpan mitos yang dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa dalam liang atau gua muara menjadi tempat mandinya para bidadari.

"Dinamakan Motonuno yang artinya tenggelam (hanyut), berdasarkan cerita ada seorang penenun yang benangnya jatuh kebawah. Saat dia turun mengambil, tiba-tiba saja terjadi getaran diatas permukaan daratan yang menjadi sebuah muara dan wanita penenun ikut terhanyut kedalamnya. Tapi disisi lain, para orang tua terdahulu mengatakan Muara Motonuno tempat mandinya para bidadari," cerita Salah Satu Tokoh Pemuda Desa Lakarinta, La Mbisa (48) kepada SultraKini.Com, Selasa (14/11/2017).

Menurutnya, dulu kala belum terdapat Desa Korihi dan Desa Lakarinta di Kecamatan Lohia. Desa yang ada hanya Mantobu dipimpin oleh De Kalembangu. Tahta kemudian diteruskan oleh anak pertamanya bernama De Balawo dan digelar sebagai pelopor perluasan wilayah.

Di zaman Raja Muna ke-XVI, La Ode Husaini bergelar Omputo Sangia, dibukalah sayembara untuk mengusur pemberontak yang bekerjasama dengan penjajah Belanda kala itu. Bagi yang menyahuti target itu, jabatan raja akan diberikan atau memilih hadiah sesuai keinginan si kesatria tersebut. Sayembara saat itu ditujukan untuk memperjuangkan wilayah laut Dhungkere (Labuan) yang dikuasai pemberontak.

De Balawo yang diperkuat oleh ketiga putranya, yakni Lade Kaheru bergelar Maliwuto, Lade Koke bergelar Mahakiki, dan Lade Tompano yang digelar Maharate serta perjuangan masyarakat kampung mampu mengusir pemberontak dengan memenggal kepala pimpinannya kemudian dibawalah ke hadapan Raja Omputo Sangia.

Saat itulah terjadi peristiwa sejarah perluasan wilayah. Ketika De Balawo tidak berkenan menggantikan kedudukan Raja Omputo Sangia. Namun sebatas meminta perluasan wilayah dari batas Motonuno arah pantai sampai Wahunda dan Raghu yang sekarang menjadi batas wilayah Desa Mantobua dan Desa Lohia.

"Motonuno inilah yang dipelihara masyarakat dari turun temurun sebagai sumber kehidupan kebutuhan air bersih. Hingga masuk dimasa Gubernur Sulawesi Tenggara ke-IV, Abdullah Silondae pada tahun 1978 yang membuatkan ruas jalan untuk dijadikan tempat wisata permandian air tawar dan merupakan objek wisata pertama di Muna," tutur La Mbisa.

Mitos Muara Montonuno berkembang di kalangan masyarakat bahwa terdapat sebuah batu bernama Kontu Pokolo tingginya sekitar satu meter tempat Wa Porante memberi makan buaya peliharaannya. Namun sebelum menjelang wafat, buaya peliharannya itu disumpahi dan saat Wa Porante wafat buaya peliharannya pun ikut menghilang.

"Konon menurut cerita masyarakat setempat, Muara Motonuno itu barbau mistis dan dikenal angker. Saat berkunjung, tidak boleh salah bicara karena bisa mengakibatkan kejadian fatal. Selain itu, dulunya menjadi tempat Wa Porante memelihara buaya. Jadi buayanya itu macam-macam ada warna loreng juga warna putih," terang Imam Desa La Ntawakala (78) yang juga sebagai tokoh sejarah Desa Lakarinta.

Untuk diketahui, muara Motonuno merupakan salah satu objek wisata permandian air tawar yang dikenalkan Pemda Muna sebagai daya tarik wisata pada Festival Pantai Meleura bertaraf nasional pada 13-17 Desember 2017.

(Baca: Catat! Traveling Seru Mai Te Wuna di Festival Pantai Meleura 2017)

(Baca juga: Pantai Tak Berpasir dari Pulau Muna)


Laporan: Arto Rasyid

Imam Desa, La Ntawakala (duduk di kursi) bersama tokoh pemuda Desa Lakarinta, La Mbisa (kanan),  Zainal (kiri), Akbar (tengah). (Foto: Arto Rasyid/SULTRAKINI.COM)

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations