Iklan Clarion

Murid SD Tewas Diduga karena Narkoba, yang Lainnya Diikat di Rumah Sakit

SULTRAKINI.COM: Sebanyak 30 pelajar sekolah di Kota Kendari dilarikan di lima rumah sakit usai mengonsumsi obat yang diduga narkoba jenis baru. Satu diantaranya tewas, yakni MK (11), murid salah satu SDN di Mandonga yang meninggal Selasa (12 September 2017) malam di RS Bhayangkara.

Rumah sakit yang merawat pelajar “teler” itu adalah Rumah Sakit Jiwa Kendari sebanyak sebelas orang, RS “Korem” Ismoyo dua orang, RSUD Abunawas satu orang, RS Bhayangkara empat orang, RSUP Bahteramas dua orang, dan sisanya di sejumlah puskesmas.

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari, Murniati belum bisa memastikan jenis obat yang digunakan 30 anak anak itu. “Kita masih selidiki,” katanya.

Namun demikian ia tidak menampik adanya dugaan konsumsi obat terlarang. Diduga anak-anak itu mengonsumsi obat jenis liquid (cair) dan tablet. Bisa jadi narkoba jenis Flaka karena bahannya dicampur dari berbagai merek obat, sehingga usai mengonsumsi merasakan efek kejang-kejang dan perilaku aneh.

Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara para korban ada yang meracik dan meminum sendiri, namun ada juga diantara mereka diberi oleh seseorang yang identitasnya masih ditelusuri.

“Obat yang diminum ini sejenis Flaka, yang campuran dari Somadril, PCC dan Tramadol,” kata Murniati di RSJ Kendari, Rabu (13 September 2017).

Direktur RSJ Kendari, dr Abdul Razak, menjelaskan pasien remaja yang mereka rawat mengalami gangguan mental. Hal itu, katanya, akibat obat-obatan atau benda yang bersifat obat. Dia menyebut hal yang dialami para remaja itu belum terkategori penyakit mental, namun sebatas gangguan mental akibat obat-obatan.

Kepala Bidang Rehabilitasi BNN Provinsi Sultra La Mala juga mempersilahkan media untuk menunggu hasil penyelidikan. “Kami masih selidiki apa yang mereka konsumsi,” jelas La Mala.

(Baca: BNN Kendari: 35 Orang Berlagak Gila Usai Konsumsi Obat yang Dicampurkan ke Minuman)

Korban dilarikan ke berbagai rumah sakit sejak Selasa hingga Rabu (13 September 2017). Mereka yang dirawat di RSJ Kendari tampak diikat kaki dan tangannya. Ada diantaranya juga diperbolehkan pulang, rawat jalan.

Penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar Kota Kendari termasuk memprihatinkan. “Ini sudah darurat,” kata Murniati kepada wartawan, Rabu (13 September 2017).

Tahun lalu (Januari – Oktober 2016) BNN mencatat sebanyak 142 pelajar di Sultra menyalahgunakan narkoba. Ini merupakan jumlah tertinggi penyalahgunaan narkoba di bandingkan daerah lain di Indonesia.

“Jujur ini sangat memprihatinkan dan sangat memalukan Sultra. Kalau prestasi yang ditorehkan tidak masalah, tetapi ini narkoba,” kata Murniati.

Ia pun menyayangkan bahwa kendati Sultra pada posisi pertama penyalahgunaan narkoba tingkat pelajar, namun pihak pemerintah daerah setempat belum membuat peraturan daerah (Perda) tentang pencegahan.


Laporan: frirac

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.