SUARA

Musik Bambu yang Pernah Populer dan Mulai Melengkapi Event Besar di Kendari

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Musik Bambu tradisional sedang populer di Kota Kendari, sebagai salah satu musik klasik yang mulai hadir di sejumlah acara besar. Bahkan hampir setiap event atau acara-acara pemerintah musik bambu selalu dimainkan oleh anak-anak sekolah.

Bukan saja namanya musik bambu, alat-alat yang digunakan juga terbuat dari bambu tebal. Biasaya, di Kendari musik ini dimainkan oleh anak-anak sekolah tingkat sekolah dasar, paling sering dari SDN 14 dan SDN 15 Kendari secara berkelompok lebih dari 10 orang yang dipandu langsung satu instrumen.

Cara memainkan alat musik ini cukup mudah, yakni ditiup secara bersama-sama untuk menghasilkan bunyi atau suara sesuai dengan nada lagunya. Alhasil, perpaduan suara bambu ini menghasilkan lagu yang klasik dan enak didengar. Terlebih yang memainkannya adalah anak-anak SD.

Secara garis besar, alat musik bambu ini mengeluarkan jenis suara tenor dan bass yang dipadukan dengan seruling dan gendang. Khusus untuk jenis suara tenor, ada dua jenis alat musiknya, yaitu tenor berbadan satu dan tenor berbadan dua.

Untuk menghasilkan suara terbaik, jenis bambu yang digunakan sebagai alat musik bambu merupakan potongam batang bambu pilihan. Biasanya jenis bambu yang dipakai, yakni bambu betung atau bambu koeuna bonda (populer dalam bahasa daerah) dengan diameter 10-17 sentimeter dan tebal mencapai 40 sentimeter.

Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, musik bambu ini dimainkan pada acara-acara pemerintah tertentu. Pernah dimainkan oleh siswa-siswi SDN 15 Abeli pada momen upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73 di lapangan upacara Kantor Wali Kota Kendari. Biasanya sering dimainkan diawal dan akhir acara.

yamaha

Tidak itu saja, musik tradisional ini sempat membuat pukau 25 orang duta besar warga asing yang datang di Kota Kendari pada momen Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-39 yang berlangsung di Sulawesi Tenggara belum lama ini, tepatnya, pada acara Welcome Dinner yang dilangsung di Rumah Jabatan Wali Kota Kendari, Kamis (31/10/2019) malam.

Pada acara tersebut, tamu-tamu asing disuguhkan dengan penampilan musik bambu yang membuat mereka terpukau hingga mengabadikannya lewat ponsel mereka masing-masing dengan ekspresi kagum.

Pada 1975 hingga 1975, musik bambu pernah populer. Setelah itu, alat musik ini tergerus seiring dengan berkembangnya alat musik modern.

Menurut sejarah, alat musik ini pertama kali diperkenalkan masyarakat asli Kendari Suku Tolaki Mekongga. Hanya saja sampai saat ini, jejak sejarah itu belum diketahui siapa penemunya.

Dengan berkembangnya alat musik tradisional ini, kini banyak dimainkan di kalangan anak-anak usia sekolah dasar dan menengah pertama. Sedangkan di kalangan dewasa hampir tidak terlihat.

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.