Nilai Impor Sultra Juli 2019 Meningkat

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara mencatat nilai impor Sultra pada Juli 2019 sebesar US$80,03 juta atau mengalami peningkatan 88,00 persen dibanding impor Juni 2019 tercatat US$42,57 juta.

Sedangkan volume impor pada Juli 2019 tercatat 68,61 ribu ton atau naik 9,22 persen dibanding impor Juni 2019 yang tercatat 62,82 ribu ton.

Kepala BPS Sultra, Mohammad Edy Mahmud, menerangkan selama periode 2018-2019 nilai impor Sultra tertinggi tercatat pada Mei 2018 dengan nilai mencapai US$102,73 juta, sementara terendah terjadi di Maret 2019, yaitu US$28,75 juta. Volume impor tertinggi tercatat pada Mei 2019 yang mencapai 282,40 ribu ton dan terendah di Januari 2019 dengan volume 38,99 ribu ton.

“Impor Sultra Juli 2019 didominasi oleh kelompok komoditas mesin-mesin/pesawat mekanik sebesar US$32,44 juta, selanjutnya kelompok komoditas bahan bakar mineral dengan nilai US$21,11 juta. Kemudian kelompok komoditas besi dan baja dengan nilai US$8,87 juta; dan kelompok komoditas benda-benda dari batu dan gips sebesar US$0,88 juta,” ucap Edy, Jumat (6/9/2019).

Kenaikkan terbesar impor Sultra Juli 2019 dibanding Juni 2019 terjadi pada kelompok komoditi mesin-mesin/pesawat mekanik senilai US$32,44 juta (419,06 persen).

Dikatakannya, impor menurut negara asal barang utama impor Sultra Juli 2019 mengalami peningkatan sebesar 88,00 persen dibanding bulan sebelumnya.

“Kondisi tersebut disebabkan oleh peningkatan impor dari negara Tiongkok senilai US$58,93 juta (187,26 persen) dan negara Singapura senilai US$21,10 juta (10,78 persen),” ujar Edy.

Dari sisi peranan terhadap total impor Januari-Juli 2019, Tiongkok merupakan negara asal barang utama terbesar dengan nilai impor US$158,93 juta (53,47 persen), diikuti Singapura dengan nilai US$101,92 juta (34,29 persen). Peranan kedua negara asal barang utama tersebut mencapai 87,76 persen dari total impor Sultra pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara impor menurut penggunaan barang selama Juli 2019 golongan bahan baku/penolong memberikan peranan terbesar,yaitu 83,05 persen dengan nilai US$35,36 juta.

“Selama Januari-Juli 2019 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, nilai impor barang konsumsi mengalami kenaikkan sebesar US$0,40 juta (219,38 persen),” ungkapnya.

Sedangkan bahan baku/penolong dan barang modal mengalami penurunan masing-masing sebesar 21,12 persen atau senilai US$286 juta dan barang modal mengalami kenaikkan 18,08 persen atau senilai US$90,84 juta.

Laporan: Wa Rifin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.