Iklan Clarion

Pabrik Sagu Pertama dari PBB di Desa Labela

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Pelestarian pangan sagu di Kabupaten Konawe mendapat perhatian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Melalui organisasi sayapnya, Food and Agriculture Organization (FAO), organisasi kaliber dunia tersebut telah mendirikan pabrik sagu di Desa Lebela, Kecamatan Besulutu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Pabrik pengolahan tepung sagu itu diklaim menjadi pabrik pertama dan satu-satunya di dunia yang didirikan PBB.

SultraKini.Com berkesempatan menyambangi Desa Labela pada Jumat (23/2/2018). Suasana sore itu lumayan cerah. Awak media kami ketika itu disambut langsung Kepala Desa (Kades) Labela, Kadir Ambemali di lokasi pabrik.

Kepada SultraKini.Com Kadir bercerita awal terbangungnnya pabrik hibah dari FAO PBB tersebut. Tahun 2014 silam, digelar sebuah pelatihan terkait pengolahan sagu untuk 19 provinsi se-Indonesia di Kota Kendari. Kebetulan, studi bandingnya dilakukan di Desa Labela. Ketika itu Kadir sudah menjabat sebagai Kades.

“Saat itu, proses pengolahan masih manual. Tapi untuk pemarutan sagunya sudah pakai mesin,” ujar pria paru baya itu.

Masih pada tahun yang sama, Kadir mendapat kesempatan untuk ikut acara Pekan Nasional Petani Seluruh Indonesia (Penas). Selanjutnya, pada awal 2015 sudah ada wacana dari Kementerian Pertanian (Kementan) RI terkait program pabrik sagu di Labela.

Kemudian, pada 2016, Kadir mendapat telepon dari pihak Dinas Ketahanan Pangan (DKP) Konawe. Dari situ dia dapat informasi kalau program dari Kementan akan diberikan. Ketika itu ia ditanyai menyangkut kesiapan menerima program tersebut.

“Saya jawab, Kades bodoh lah saya kalau tidak mau menerimanya,” ujarnya.

Dari situlah Kadir kemudian mengetahui, jika program hibah tersebut merupakan kerjasama Kementan dan FAO. Kadir kemudian disuruh untuk mencari lahan tempat pabrik akan dibangun.

Awalnya dia menawarkan lokasi pengolahan sagu tempat studi banding peserta pelatihan dari 19 provinsi tahun 2014 yang lalu. Namun setelah dicek dengan seksama, ternyata di situ lahannya sempit dan kebun sagunya juga sudah sedikit.

“Kamudian beralihlah ke tempat ini. Kebetulan areanya cukup luas, ada kebun sagu dan mata airnya juga ada. Saat itu yang turun servei ada dari DKP kabupaten dan provinsi dan konsultan FAO,” jelasnya.

Ketika itu, pihak desa dan FAO mengajak rembuk pemilik lahan tempat lokasi akan didirikan pabrik. Oleh pemilik lahan, dia bersedia menghibahkan lahannya dengan beberapa ketentuan. Maka dibuatlah kemudian pernyataan yang isinya memberikan kuasa kepada FAO untuk mendirikan pabrik di lahan itu, sepanjang tidak untuk dimiliki secara pribadi dan dialihfungsikan.

Pada Agustus 2017, mulailah dilakukan pembangunan pabrik sagu di lahan seluas 75 hektar tersebut. Serah terima pabrik dari FAO dengan pemerintah desa dilakukan pada 18 Desember 2017.

Dari situ juga Kadir mengetahui, kalau pabrik sagu itu merupakan pabrik pertama dan satu-satunya di dunia yang menjadi program FAO PBB. Dia membayangkan, ada sekira 74 ribu desa di Indonesia, dan Desa Labela menjadi satu-satunya yang terpilih.

“Ini merupakan program pertama dan baru satu-satunya di dunia untuk FAO. Ternyata mereka juga memberikan perhatian khusus untuk pelestarian sagu di Sultra, khususnya di Konawe,” terangnya.

Dia mengaku, sangat bersyukur dengan adanya program tersebut. Khususnya dalam membuka lapangan kerja bagi masyarakat Labela. Sejak mulai pendirian pabrik, sekira 40 warga dilibatkan dengan gaji Rp100 ribu per hari.

Selain itu, saat pengoperasian pabrik juga, pihak desa menyerahkan sepenuhnya kepada kelompok masyarakat untuk mengelolanya. Kelompok itu akan bekerja mengelola pabrik secara swadaya. Hasilnya tentu akan kembali kepada mereka juga.

Lalu, apa terget Kadir dengan adanya pabrik sagu tersebut?

Ia mengungkapkan, terget terbesarnya adalah merambah pasar dunia. Saat ini saja sudah ada pesanan sagu dari Jepang. Ia berharap, sagu dari Konawe bisa terkenal hingga ke manca negara. Salah satu keunggulan sagu yang diproduksi adalah lebih higienis karena dikelola dengan modern.

“Jepang sudah siap menerima sagu kita, khususnya yang dalam bentuk tepung. Bahkan ada juga permintaan dalam bentuk hasil olahan, dalam hal ini kue dari sagu,” jelasnya.

Untuk pemasaran lokal, Kadir merasa tidak mengalami kesulitan. Sagu hasil olahan di Labela sudah banyak ditunggu-tunggu, baik dari Konawe maupun Kota Kendari.

Dia berpesan, anak daerah jangan malu makan sagu. Kalau dulu sagu kerap diidentikan sebagai makanan orang bawah, sekarang justru sebaliknya. Restoran dan hotel sudah banyak menyediakan sagu sebagai makanan khas daerah.

“Jadi tangan gengsi makan sagu. Dunia saja melirik kita,” tandasnya.

 

Laporan: Mas Jaya

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.