SULTRAKINI.COM: Sebanyak 30 petani Sekolah Lapangan Iklim (SLI) terlihat sumringah memanen padi di ‘labolatorium’ tempat mereka mengaplikasikan informasi cuaca dan iklim untuk praktik pertanian. Bertepatan Hari Pangan Sedunia, yang sesuai tema tahun ini “Mendorong Investasi untuk Ketahanan Pangan dan Membangun area-area terpencil", panen raya ini menjadi bukti bahwa petani yang melek informasi cuaca dan iklim adalah salah satu strategi solusi yang harus terus diupayakan, Senin (16/10/2017).

Panen Raya SLI, Bukti Petani Bersahabat dengan Perubahan Iklim
Kegiatan panen raya hasil pertanian petani SLI yang dihadiri Wakil Wali Kota Kendari, Sulkarnain. (Foto: USAID APIK/SULTRAKINI.COM)

Panen raya ini merupakan puncak dari rangkaian kegiatan sekolah lapang iklim (SLI) di Baruga yang diinisiasi program USAID, Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketangguhan sejak 15 juli 2017 lalu. USAID APIK bekerjasama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Klimatologi Ranomeeto, Dinas Pertanian Kota Kendari, Penyuluh Pertanian Kelurahan Baruga, Balai Proteksi Tanaman Pangan Provinsi Sulawesi Tenggara, dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Sulawesi Tenggara dalam penyelenggaraan SLI ini.

Dari sepuluh kelas yang diikuti, para peserta mendapatkan banyak pembelajaran. “Kita sebagai petani sudah belajar beradaptasi dengan perubahan iklim dan cuaca. Sebelum ikut SLI kita belum tahu dan walaupun kita dengar dari berita mengenai BMKG kita belum mengerti. Sekarang kita sudah diajar bagaimana memahami dan membaca cuaca, suhu dan kelembaban,” ungkap Salah Seorang Peserta SLI, Ramlah.

Memahami informasi cuaca dan iklim, para petani menjadi lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. Wakil Wali Kota Kendari, Sulkarnain yang turut hadir dan resmi menutup rangkaian kegiatan SLI serta membuka prosesi panen raya. “Saya kira ini kemajuan yang luar biasa untuk para petani kita. Kita berharap potensi pertanian di Kota Kendari bisa ditingkatkan. Kami dari pemerintah Kota Kendari berkomitmen serius untuk mendukung," kata Sulkarnain.

(Baca: Hari Tani Nasional, Petani di SLI Mulai Bersahabat dengan Cuaca dan Iklim)

Sayangnya, SLI masih belum menjadi prioritas untuk dilakukan di berbagai daerah, terutama daerah-daerah yang rawan bencana kekeringan dan banjir yang menjadi momok bagi para petani karena berpotensi menyebabkan puso atau gagal panen.

SLI yang langsung turun ke tingkat masyarakat seperti ini merupakan yang pertama kali dilakukan di Provinsi Sultra, sekaligus dengan baru beroperasinya Stasiun Klimatologi Ranomeeto pada awal 2017. Penyelenggaraan SLI terkendala anggaran pemerintah pasahal telah terbukti manfaat dan efektivitasnya.

Pada Hari Pangan Sedunia ini, Manajer Regional program USAID APIK mengajak berbagai pihak untuk berinvestasi, agar semakin banyak para petani yang melek informasi cuaca dan iklim. Ini merupakan upaya untuk mencapai ketahanan pangan di tengah perubahan iklim yang telah berdampak luas terhadap sektor pertanian. Pemerintah harus melakukan langkah strategis dan memprioritaskan anggaran untuk replikasi praktik-praktik baik yang telah terbukti keberhasilannya.

“USAID APIK mendukung kegiatan SLI kali ini dengan harapan bisa menjadi contoh dan pembelajaran agar dapat direplikasi lebih luas. Terlebih lagi dengan risiko dan ancaman berbagai faktor iklim terhadap pertanian di Sulawesi Tenggara, sudah saatnya pemerintah daerah memprioritaskan SLI sebagai salah satu strategi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan petani. Tidak hanya pemerintah, pihak swasta juga dapat terlibat dengan berinvestasi untuk para petani yang menjadi pemasok bahan baku usaha mereka,” jelas Manajer Ragional program USAID APIK, Buttu Ma'dika.

Dari kajian kerentanan yang dilakukan USAID APIK bersama dengan para pihak, sektor pertanian menjadi salah satu bidang prioritas karena dianggap sebagai sektor utama yang terkena dampak dari perubahan iklim. Perlu kerja sama dari semua pihak, baik pemerintah hingga sektor bisnis untuk bersama-sama meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

(Baca juga: Jumlah Petani Menurun, Sultra Butuh Petani Muda)


Sumber: USAID APIK

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations