Pelan Tapi Pasti, Premium Mulai Digeser

SULTRAKINI.COM: KENDARI – PT Pertamina perlahan mulai mengalihkan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) masyarakat ke BBM ramah lingkungan, sehat, dan berkualitas. Sejumlah depot atau SPBU di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara bahkan tidak mensuplai atau memperjual belikan BBM jenis Premium.

“Iya sudah tidak jual Premium lagi pak, sudah agak lama mi,” ujar seorang petugas SPBU di Kendari.

Senior Supervisor, Komunication, dan Relation Pertamina Regional Sulawesi, Taufik Kurniawan, menjelaskan Pertamina selaku BUMN yang mengembang amanah untuk menyalurkan produk subsidi berupa Premium dan yang lainnya nonsubsidi berupa Pertalite, Pertamax, dan Turbo serta Dexlite, tidak henti-hentinya melakukan edukasi kepada masyarakat untuk beralih menggunakan bahan bakar yang dinilai berkualitas.

“Dari hasil diskusi, memang tujuannya bukan kita yang menyampaikan karena kita terus sosialisasi, tapi dari pakar, baik itu pakar lingkungan maupun kesehatan juga menyarankan penggunaan bahan bakar yang lebih berkualitas seperti Pertalite sampai Pertamax Turbo dan juga Dexlite, tujuannya udara lebih bersih dan ramah lingkungan, sehat untuk anak cucu kita,” ujar Taufik Kurniawan, Rabu (10/2/2021).

Menurut Taufik, jika melihat daya beli masyarakat Kota Kendari lumayan bagus, hanya sisa 28 persen yang masih menggunakan Premium.

“Bisa jadi mereka yang masih menggunakan BBM Premium ini tidak teredukasi atau selama masih ada pilihan yang lebih murah mungkin akan dibeli,” tambahnya.

Taufik mengaku, jika dibandingkan harga BBM nonsubsidi yang ada di Pertamina dan SPBU dengan harga yang ada dipengecer itu ternyata jauh lebih murah harga Pertalite yang ada di SPBU ketimbang dipengecer Rp 10.000.

Artinya, menurut dia, masyarakat Kendari mampu membeli bahan bakar lebih berkualitas dan mereka sadar menggunakan BBM yang ramah lingkungan dan peduli kesehatan.

“Kita tahu bersama bahwa era pandemi Covid-19 masyarakat mulai sadar terhadap kesehatan, sehingga mereka lebih memilih bahan bakar berkualitas seperti itu,” katanya.

Disebutkannya, penggunaan BBM Pertalite dan jenis lainnya di atasnya dinilai ramah lingkungan, terlebih penjelasan dari pakar kesehatan untuk menganjurkan bahan bakar ramah lingkungan di atas Pertalite.

Kemudian, penggunaan BBM ramah lingkungan juga lebih bersih ketika menggunakan bahan bakar Pertalite dan jenis di atasnya. Artinya masyarakat Kota Kendari sebenarnya harus beralih menggunakan BBM berkualitas.

Penggunaan Pertalite di Kendari, kata dia, sekitar 70 persen, sedangkan produk lainnya seperti Pertamax dan Dexlite rata-rata 10 persen. Dari tingkat penjualan Pertalite mendominadi berkisar 70 persen sedangkan Premium berkisar 28-30 persen.

“Jika dibandingkam dengan kota lain di Indonesia, masyarakat Kendari hampir sama dengan kota-kota besar sudah beralih menggunakan Pertalite,” ucapnya.

Ia mengaku untuk stok penyediaan BBM jenis Premium tetap menyesuaikan kuota yang dibutuhkan pemerintah, berapapun kisaran kuotanya tidak akan dikurangi. Hanya saja kembali lagi pada fakta permintaan masyarakat sehingga distribusi penyaluran Premium tidak sesuai kuota permintaan.

Dinilainya, penggunaan BBM ramah lingkungan bisa menghemat defisit dibandingkan BBM dari sektor subsidi atau Premium. Artinya, realisasinya tidak harus sesuai dengan permintaan kuota sebab masyarakat diperkirakan tidak menghendaki lagi.

“Untuk stok kita masih menyediakan di terminal BBM Kendari produk Premium tapi kembali lagi itu tadi, apabila masyarakat beralih dan nyaman menggunakan Pertalite kita melakukan upaya untuk menghemat subsidi untuk menutup defisit APBN,” jelasnya.

Sales Branch Manager Sulseltra PT Pertamina (Persero) MOR VII, Mahdi Syafar, mengatakan penggunaan BBM ramah lingkungan dapat mengurangi risiko kerusakan lingkungan dengan emisi buang kendaraan bermotor yang lebih kecil.

“Jadi, kami sebagai penyedia BBM terus memaksimalkan pelayanan publik dan berupaya menjaga kualitas BBM,” ujarnya.

Dia menuturkan, penggunaan BBM berkualitas tinggi, yaitu Pertamax oktan 92 dan Pertamax Turbo oktan 98 merupakan campuran BBM untuk menghasilkan pembakaran mesin berkualitas.

“Semakin tinggi oktan yang dicampurkan, pembakaran mesin akan lebih optimal sehingga emisi buangnya akan lebih kecil dan bisa mengurangi pencemaran lingkungan,” ujarnya.

Sementara itu, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo, Ramadan Tosefu, menerangkan penggunaan BBM dengan oktan rendah seperti Premium dengan oktan 88 dapat menimbulkan efek atau dampak kesehatan. Sebab mengandung timbal yang jika dihirup manusia akan menyebabkan penyakit kardiovaskuler, anemia, serta gangguan kecerdasan.

“Jadi, kami mendorong masyarakat menggunakan BBM berkualitas dan ramah lingkungan. Masyarakat harus cerdas memilih BBM agar tercipta iklim lingkungan yang sehat,” tambahnya.

Laporan: Hasrul Tamrin
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.