Penutupan Festival Lalo’a, 12 Ribu Ekor Ikan Borona jadi Suguhan

SULTRAKINI.COM: WAKATOBI – Dihari penutupan festival Lalo’a, masyarakat dan wisatawan disuguhkan dengan makan masal ikan boronang lebih dari 12 ribu ekor, Minggu (13/9/2019).

Wisatawan dapat memakan ikan boronang secara gratis di stand yang telah disiapkan masyarakat disepanjang jalan di Desa Liya Mawi, Kecamatan Wangi-wangi selatan.

Sebelum makan ikan masal, terlebih dahulu dilakukan parade Lalo’a yang menggambaraan migrasi massal ikan baronang saat musim lalo’a. Parade diikuti oleh ribuan masyarakat liya raya, dan wisatawan, yang dimulai dari Desa Liya Bahari, menuju lokasi bakar ikan sepanjang jalan Desa Liya Mawi.

Dalam parade adat tersebut terdapat duplikat ikan baronang ini karya seniman-seniman lokal, dengan ukuran panjang sembilan meter, dan lebar empat meter.

Dalam acara tersebut, Bupati Wakatobi, ketua DPRD Wakatobi dan sejumlah kepala Organisasi Perangakat Daerah (OPD) mengikut lelang ikan baronang yang telah melepas telurnya ke laut. Ikan hasil lalo’a yang sudah tanpa telur dalam perutnya akan dilelang dengan harga lebih tinggi dibanding ikan yang masih memiliki telur. Ikan hasil lelang tidak diambil adopter, tetapi akan diberikan kepada anak yatim dan janda miskin sebagai wujud tradisi ‘dawu’ (menyisihkan sebagian hasil tangkapan untuk orang miskin dan tidak bisa melaut), juga pengamalan perintah Tuhan bahwa di dalam harta kita terdapat hak orang miskin.

(Baca: Festival Lalo’a Peringatan Musim Imigrasi Ikan Berlangsung di Wakatobi)

Meantu’u (ketua adat) Liya, La Ode Muhammad Ali memberikan sertifikat adopter perikanan berkelanjutan dan medali destinasi cagar biosfer bergambar tradisi lalo’a, kepada Bupati Wakatobi dan Ketua DPRD Wakatobi serta seliruh peserta lelang ikan.

Ketua panitia, La Usman mengatakan tujuan dilakukan festival lalo’a ini untuk mempromosikan budaya lalo’a sebagai warisan dunia, persembahan masyarakat adat Liya untuk ketahanan pangan dan perikanan berkelanjutan.

“Dan juga mempromosikan tradisi menyambut lalo’a sebagai kegiatan pariwisata pendidikan lingkungan dan kegiatan sosial,” ungkapnya

Bupati Wakatobi, H. Arhawi berharap masyarakat adat Liya bisa terus melaksanakan kegiatan ini setiap tahun, agar menjadi ajang pulang kampung bagi putra putri terbaik liya yang telah tinggal di luar darah.

“Insya Allah kita akan masukan festival lalo’a di kalender ivent Wakatobi agar kegiatan ini dapat dilaksanakan setiap tahun,” ungkapnya

Arhawi menjelaskan hari ini kita telah berbuat yang terbaik untuj daerag karena bukan hanya melibatkan orang dewasa melainkan juga melibatkan anak-anak, sehingga sacara tidak langsung telah memberikan edukasi kepada anak-anak agar tradisi lalo’a ini bisa dilakukan secara terus menerus oleh generasi penerus.

Menurutnya, tradisi lalo’a ini tidak lahir bagitu saja namun merupakan berkah dari Allah karena berkat perjuangan sarah (tokoh adat) Liya dan para leluhir kita yang masih dipertahankan seluruh tradisi kearifan lokal, sehingga migrasi ikan boronag tidak pernah bergeser dari wilayah adat Liya.

Laporan: Amran Mustar Ode

Editor: Hasrul Tamrin

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.