Pilar-Pilar Takwa

Oleh: La Nita (Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Buton Utara)

Selain kalimat syukur dan sabar, takwa menjadi kalimat yang sering diwasiatkan para Da’i kepada mukmin yang lainnya. Lalu apa itu takwa?

Ali bin Abu Thalib menantu Rasulullah SAW menjelaskan, takwa itu memiliki empat pilar. Berikut uraian singkatnya.

Pertama, Takut kepada Allah. 

Seorang mukmin haruslah memiliki rasa takut kepada Allah. Dengannya akan menghantarkan diri untuk lebih berhati-hati dalam bertindak tanduk, sehingga akan menyelamatkan diri dari kesalahan dan kesesatan.

Seperti kata ‘Umar bin Khathab, bahwa takwa digambarkan seorang yang berjalan di jalanan yang dipenuhi duri. la akan sangat berhati-hati agar selamat tak tertusuk olehnya.

Sifat takut ini akan menggiring seorang hamba untuk lebih dekat dengan Allah. Hal ini dikarenakan ia akan senantiasa menaati dan mematuhi apa yang menjadi perintah dan larangan-Nya. Kekhawatirannya sangat besar untuk menyelisihi apa yang telah menjadi titah, karena khawatir mengundang murka-Nya.

Menurut kesepakatan para ulama “Amalan hati seperti tawakal, takut, berharap, dan sejenisnya serta sabar adalah wajib”. Sedangkan anjuran Allah agar setiap mukmin memiliki rasa takut, secara terang Allah berfirman, “Sesungguhnya mereka itu tidak lain adalah setan dengan kawan-kawannya yang menakut-nakuti kamu, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kamu benar-benar beriman.” (Ali ‘Imran [3]: 175)

Kedua, Mengamalkan Al-Qur’an.

Al-Qur’an adalah pedoman hidup kaum Muslimin, la diturunkan sebagai petunjuk manusia agar tak tersesat dalam mengarungi samudra kehidupan ini. Mengamalkannya menjadi keniscayaan. Sebab ia diturunkan bukan saja hanya untuk diimani dan dipelajari, tapi juga menuntut untuk diamalkan.

Allah dan Rasul-Nya memberikan berbagai jenis perumpamaan dan ancaman kepada manusia yang enggan menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Karena itu kita harus menjadikannya sebagai hujjah dalam setiap nafas kehidupan kita.

Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’ an seperti buah jeruk, rasanya manis dan harum. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma rasanya manis tetapi tidak memiliki aroma. Perumpamaan orang yang berbuat maksiat tetapi membaca Al-Qur’ an seperti kemangi yang harum aromanya tetapi pahit rasanya. Dan perumpamaan orang yang berbuat maksiat dan tidak membaca Al- Qur’an seperti labu yang tidak memiliki aroma dan rasanya pahit.” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Mempersiapkan bekal akhirat. 

Bagi seorang mukmin, dunia adalah kehidupan sementara sedangkan akhirat adalah kampung abadi. Di akhiratlah kelak segenap manusia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di muka bumi.

Beruntunglah orang yang telah mempersiapkan bekal sebaik-baiknya untuk menghadapi hari itu dan celakalah mereka yang berbekal dengan pas-pasan, apa lagi yang kurang. Dalam suatu sabda, Rasulullah SAW mengutarakan tentang ciri orang cerdas hakiki, yakni mereka yang sibuk mengingat mati dan senantiasa menyiapkan bekal untuk hari esok (kiamat).

Untuk tampil sebagai seorang yang bertakwa, kita pun harus bersegera pasang kuda-kuda. Jangan sampai terlambat agar tak menyesal di kemudian hari. Seperti kata ‘Ali dalam kesempatan lain, “Dunia adalah tempat beramal tanpa adanya hisab, sedangkan akhirat adalah tempatnya dilaksanakan hisab tanpa adanya amal.”

Perintah untuk bergegas menyiapkan bekal untuk hari akhirat telah Allah firmankan, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Hasyr [59]: 18).

Allah pun telah mengabadikan penyesalan orang-orang yang lalai untuk menyiapkan pertemuan itu, melalui firman-Nya, “Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.” (Al Fajr [89]: 24)

Keempat, Memiliki sifat qanaah.

Menerima (ridha) dengan hidup seadanya meskipun sedikit. Sifat buruk yang melekat dalam diri manusia adalah selalu merasa kekurangan terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah kepada dirinya. Karena tamaknya manusia, hingga Rasulullah SAW pernah menjelaskan bahwa, sekiranya manusia itu diberi satu lembah emas, maka ia akan meminta yang kedua. Apabila diberi dua lembah emas, ia akan meminta yang ketiga. Begitu seterusnya. Ini menggambarkan betapa tamaknya manusia.

Untuk mengerem sifat itu, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan manusia untuk bersifat qanaah terhadap anugerah Allah. Qanaah adalah meridlai apa yang Allah bagikan di dunia ini, baik sedikit ataupun banyak, dan memasrahkan segala urusan kepada-Nya.

Seorang mukmin haruslah memiliki sifat qanaah karena hal itu akan menghantarkan menjadi hamba yang senantiasa bersyukur. Sebaliknya, tanpa qanaah, seseorang sangat rawan akan tercebur ke dalam kubang kekufuran.

Rasulullah SAW bersabda, “Jadilah kamu orang yang wara’ karena dengan demikian kamu menjadi orang yang lebih banyak beribadah. Dan jadilah kamu orang yang bersikap qanaah maka dengan demikian kamu menjadi manusia yang lebih banyak bersyukur.” (HR Baihaqi).

Semoga kita dimudahkan untuk mencapainya. ***

beras pokea

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.