Pilkada, Phyton, dan Banjir

Pertengahan tahun 2018 baru saja dilewati oleh provinsi dengan julukan ‘Bumi Anoa’ ini, setidaknya hari berganti bulan, bulan berganti tahun, waktu demi waktu berlalu telah banyak memori yang tersimpan dibenak seluruh masyarakat sultra, terutama di tahun 2018 merupakan waktunya bagi masyarakat untuk merayakan pesta demokrasi untuk memilih siapakah kemudian yang akan melanjutkan tongkat kepemimpinan bagi provinsi yang didalam perut buminya terdapat kandungan aspal nomor dua terbesar didunia.

Pilkada telah usai, waktunya bangun dari mimpi untuk menagih janji-janji manis yang diberikan oleh mereka yang katanya siap untuk memberikan perubahan dua kali lebih cepat secara aman dan berkah. Palu pun telah diketuk, KPU Sultra dalam rapat pleno terbuka memutuskan pasangan AMAN (Ali Mazi-Lukman) meraih suara tertinggi dengan perolehan suara sebanyak 495.880, the real fighter… Epic Comeback…!!!

Lupakan sejenak tentang kemenangan, mari kita mengingat Wa Tiba, seorang wanita di Kabupaten Muna, ditemukan tewas dalam perut phyton sepanjang sekitar 8 meter. Berita kematian Wa Tiba tersebar hingga ke media-media internasional, melebihi berita kemenangan pasangan AMAN. Ia seorang ibu rumah tangga berusia 54 tahun, berasal dari Desa Persiapan Lawela, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna. Saat warga sedang takbiran menyambut Idul Fitri 1439 H, Kamis (14/6/2018) petang , Wa Tiba pamit pergi ke kebun jagungnya untuk melihat lihat keadaan karena kerap kali dirusak oleh babi hutan.

Naas, hingga Jumat pagi dia tak kunjung datang dan membuat keluarga gundah gulana yang tengah bersiap untuk berangkat bersama shalat Idul Fitri. Setelah melakukan pencarian disekitar kebun, warga menemukan jejak Wa Tiba bersama senter, sendal jepit, dan parang. Sekitar pukul 09.20 Wita, salah seorang diantara warga menemukan ular raksasa yang perutnya membesar diduga kuat karena kekenyangan. Dengan bantuan pihak kepolisian, ular tersebut dibunuh, dibelah, dan alangkah kagetnya warga setelah mengetahui sosok yang terbujur kaku didalamnya adalah Wa Tiba.

Sontak, kematian Wa Tiba mengundang simpati dan prihatin dari kalangan pecinta reptil serta pemerhati lingkungan hidup, beberapa diantara mereka memberikan rilis kepada media mengapa sebab ular phyton hingga sebegitu kejamnya bisa memangsa manusia. Tidak, kita sebagai manusia jauh lebih kejam hingga menjadikan kulit ular sebagai bahan untuk menaruh pundi-pundi rupiah didalam saku, hingga kalangan sosialita menjadikan kulit ular sebagai tentengan seharga miliaran rupiah dalam instagram mereka.

Musim hujan, waktunya phyton kawin dan keluar sarang untuk berburu dan mencari mangsa, begitu kata masyarakat awam. Namun tidak dengan warga pada lima Kecamatan di Kabupaten Konawe Utara (Konut), musim hujan waktunya untuk keluar menyelamatkan diri dan mengungsi karena sebentar lagi air sudah setinggi atap. Air sungai Lasolo dan Anggomate meluap akibat guyuran hujan deras selama sepekan terakhir. Di Konawe Selatan, petani di Kecamatan Laeya dan Ambesea harus bertepuk sebelah tangan dan pupus sudah harapan mereka untuk panen padi hasil jerih payah, banjir merendam ribuan ton padi siap panen. Tidak hanya itu, banjir akibat luapan sungai Laeya merendam pemukiman warga setinggi 1 meter.

Lantas apa hubungannya Pilkada, Phyton, dan Banjir? Ketiganya sama-sama menelan, iyaa pelaksanaan Pilgub Sultra menelan anggaran hingga Rp. 600 miliar lebih yang telah masuk dalam  agenda pembahasan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) hingga membebani APBD Sultra yang hanya Rp. 2,6 triliun. Phyton menelan korban jiwa hingga menyisakan, duka, airmata, dan kesedihan yang mendalam bagi keluarga Wa Tiba yang kini telah damai ditempat terindah disisi Allah, harusnya lebaran tahun 2018 bisa menikmati indahnya Idul Fitri bersama sanak keluarga meski tanpa pertanyaan Kapan Nikah?. Banjir juga menelan mentah-mentah harapan petani dan warga hingga ratusan juta bahkan miliaran karena sawah dan pemukiman mereka terendam karenanya serta menyisakan PR bagi pemerintah setempat untuk menganggarkan lagi demi perbaikan infrastuktur pasca banjir.

 

Rian Adriansyah, S.Hut

(Staf PID Bid Humas Polda Sultra).

1 Komen
  1. Asyefi berkata

    oke..

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.