Polisi Hongkong Tembak Demonstran Pakai Peluru Tajam, Demonstrasi Memanas

SULTRAKINI.COM: Hongkong sedang mengalami krisis terburuk lantaran demonstrasi yang terjadi secara besar-besaran. Demo ini terjadi akibat kemarahan masyarakat yang terus meningkat dari tahun ke tahun karena kembali munculnya pemerintah China di Hongkong.

Awalnya demo digelar untuk menentang diterapkannya Revisi Undang Undang (RUU) Ekstradisi yang kemudian berubah menjadi demo anti-pemerintah.

Demo sejak lima bulan terakhir akibat pemerintah China yang kembali muncul dan membuat Hongkong kian memanas hingga saat ini. Ditambah lagi adanya korban jiwa dalam aksi demo tersebut, sehingga membuatnya menjadi salah satu hal lain yang diprotes.
Munculnya korban jiwa dalam demo tersebut karena terjatuh akibat bentrok dengan polisi di salah satu gedung parkir bertingkat beberapa pekan lalu yang menyebabkan luka pada bagian kepala.
Korban yang merupakan seorang mahasiswa itu, sempat menjalani perawatan medis, namun ia menghembuskan napas terakhir pada Jumat, 8 November 2019 pagi waktu setempat.

Tensi massa kembali membara dan semakin meningkat pada akhir pekan lalu sejak meninggalnya korban tersebut. Hal inilah yang membuat para demonstran menyuarakan serangan secara besar-besaran dengan menggunakan forum daring.

Akibat aksi yang dilakukan oleh sejumlah demonstran bertopeng dengan memblokade persimpangan jalan dan menargetkan stasiun bawah tanah tersebut, membuat aparat kepolisian memperlihatkan sikap kebrutalannya kepada para pengunjuk rasa dengan melakukan tembakan secara dekat dan kejam dengan menggunakan peluru tajam guna mengamankan demonstran. Penembakan oleh kepolisian ini bukan kali pertama melainkan terjadi sebanyak tiga kali.

Penembakan yang menjadi awal kebrutalan polisi terjadi pada 1 Oktober, tepat di bagian dada salah seorang demonstran. Setelah penembakan itu, tembakan kedua pun dilepas kepada seorang anak beruasia 14 tahun dengan mengalami luka tembak pada bagian kaki berselang beberapa hari setelah penembakan pertama.

Id Bulog

Tembakan ketiga dilakukan pada seorang demonstran lain yang menggunakan topeng pada 11 November lalu. Tembakan kali ini cukup mengerikan karena terjadi dalam jarak cukup dekat yang membuat demonstran tersebut terbaring lemas dengan memegang sisi badan bagian kirinya.

Kebrutalan yang dilakukan para aparat kepolisian setempat dalam mengamankan proses demo sangat disayangkan dan terlihat kurang manusiawi.

Alih-alih mendapat kecaman akibat kebrutalan para petugasnya, pihak otoritas kepolisian dan media pemerintahan China justru memberikan pembelaan atas aksi para aparat kepolisian pada 1 Oktober. Dimana Mereka menganggap tindakan yang diambil tersebut merupakan tindakan untuk membela diri karena merasa nyawanya terancam saat itu.

Dukungan kembali datang dari media China, Xinhua pada Rabu, 2 Oktober 2019 setelah penembakan pertama sehari sebelumnya. Dimana mereka juga menganggap tindakan yang dilakukan oleh kepolisian pantas dan sah karena bertujuan untuk melindungi diri dan rekan-rekannya dari serangan demonstran. Kemudian media tersebut juga menganggap tindakan para demonstran tersebut cukup gila.

“Nyawa petugas di tempat kejadian berada dalam ancaman serius dan dia terpaksa menembak penyerang untuk melindungi dirinya dan rekan-rekannya. Tindakan (itu) sepenuhnya sah dan pantas,” tulisan media pemerintah China itu.

Demonstrasi yang semakin memanas tersebut membuat Hongkong mengalami krisis terburuk yang tercatat dalam sejarah serta mengalami kerugian ekonomi. Tanda-tanda berakhirnya demo tersebut pun juga belum diketahui dengan pasti.

Sumber: Kompas.com, Tribunnews.com & Cnbc Indonesia
Laporan: Nurul Sadrina Sari

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.