Iklan Clarion
Festival Pesona Budaya Tua Buton

Polisi Ini Tiba-tiba Menangis di Rumah Emak Epong, Janda Beranak Tiga

SULTRAKINI.COM: KONAWE – M tak kuat membendung air matanya. Dia terduduk dan menangis di rumah reot milik emak Epong. Padahal dia seorang polisi. M menemukan rumah Epong Nurhayati dari Sardin Tulo, Ketua RT di Kelurahan Puosu, Kecamatan Tongauna, Kabupaten Konawe.

Cerita didapatinya sangat miris, emak Epong adalah janda beranak tiga. Namun, kini lansia 70an tahun itu tinggal bersama Kim, anak laki-lakinya berusia 50 tahun yang kondisinya juga memprihatinkan. Kim menderita penyakit serius di bagian kemaluannya. Keduanyapun hidup dari uluran tangan orang lain.

“Saya langsung duduk terdiam dengan air mata menetes, membayangkan bagaimana jika hal ini terjadi pada kedua orang tua saya atau terjadi jika itu saya, dalam hati hanya bisa berucap ya Allah maafkan hambamu yang terlambat mengetahui hal ini,” ucap M ditemui Selasa (5/3/2019).

M merupakan salah satu personel di Mapolres Konawe. Dia sengaja namanya tidak ingin disebutkan. Biar lebih lengkap, M telah berkeluarga.

Dalam kesehariannya, emak Epong dan sang anak hanya makan sayur nangka yang sudah direbus air. Polisi yang berpangkat Bripka itu langsung tertunduk dan merenung, kemungkinan saja jawaban emak Epong hanya menutupi kekurangan. Ia pun beranikan diri memeriksa seisi rumah dan tidak menemukan apa-apa selain sayur nangka tanpa nasi yang sudah direbus itu.

Setelah melihat kondisi rumah, dia bergegas mencari toko untuk membeli beras, mi instan, telur ayam, dan gula pasir. Langkahnya kembali ke rumah emak Epong yang berdindingkan papan serta beratapkan rumbia. Bahan makanan tadi diserahkannya ke emak, bahkan sisa uang belanjaannya diberikan untuk membeli keperluan sehari-hari, termasuk iuran listrik.

Kondisi rumah emak Epong yang mulai direnovasi. (Foto: Ridwan untuk Sultrakini.com)

Ha itu bukan akhir kedatangan intel ini. Setiap harinya, dia berkunjung ke rumah emak Epong sembari membawakan sejumlah kebutuhan hidup, sekaligus memeriksa kesehatan mereka.

Atap rumah emak Epong yang bocor, tempat tidur tidak layak dan penuh kutu busuk juga berbau menyengat, membuat hatinya semakin sedih. Dia berinisiatif merenovasi rumah tersebut. Namun dengan uang yang disisipkan sedikit demi sedikit dari gajinya untuk membeli bahan bangunan. Tindakannya itu rupanya secara diam-diam agar tidak disadari sang istri. Setelah uang tersebut dirasa cukup, dia pergi ke salah satu toko bangunan untuk DO (bayar titip) seng.

Hari berlalu, keperluan bangunan rumah emak Epong mulai menipis. M pun mengambil remunerasi dengan alasan beli bensin dan lain-lain, sehingga sang istri tak pernah protes.

Ia juga sering meminta uang di bendahara kantor dengan alasan keperluan mendadak. Sedihnya lagi, ketika bapak tiga anak ini membantu emak Epong, ayah tercintanya dipanggil yang maha kuasa. Meski dibalut suasana duka, M tak pernah patah semangat. Sejumlah uang duka dari rekan seangkatannya digunakan membeli bahan-bahan renovasi rumah emak Epong. Uang itu pun masih kurang, terpaksa polisi itu menggunakan uang tabungannya untuk beli kebutuhan bangunan lainnya. Salah satunya, membiayai buruh bangunan yang kebetulan anak angkat emak Epong, sehingga bisa terjangkau.

“Saat rumah emak Epong direnovasi, jika tidak sibuk saya menyempatkan diri melihat perkembangannya, sekaligus menyediakan apa saja yang dibutuhkan, dalam hati hanya bisa bersyukur kepada Allah SWT atas limpahannya rezekinya, meskipun saya masih dalam keadaan berduka. Saya juga berharap, mudah-mudahan ada hikmah di balik semua ini,” ucap polisi asal Ternate itu.

Dikatakannya, tindakannya itu bukan maksud menonjolkan diri. Dia hanya berharap, bagi mereka yang kelebihan rezeki untuk mensedekahkannya. Minimal kaum duafa di sekelilingnya. Selain itu, meminta kepada Pemerintah Daerah Konawe, lebih pro-aktif memberikan bantuan kepada masyarakat kurang mampu.

Laporan: Ulul Azmi
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.