Polres Buton Bakal Bentuk Satgas Anti Kekerasan Seksual

SULTRAKINI.COM:BUTON – Demi menjaga keamanan dan stabilitas masyarakat di wilayah Buton, khususnya kekerasan seksual terhadap perempuan, Polres Buton bakal membentuk satuan tugas (Satgas) Anti Kekerasan Seksual.

 

Hal ini diungkapkan Kapolres Buton, AKBP Wibowo pada SULTRAKINI.COM, bahwa secara pribadi, dirinya sudah memiliki konsep membentuk Satgas Anti Kekerasan Seksual tersebut. Namun, untuk mewujudkan inisiatifnya itu, pihaknya akan mengkoordinasikan dengan pejabat di jajaran Polres Buton.

 

\”Jika kemarin kita sudah bentuk Satgas Anti Narkoba, saat ini saya akan buat Satgas Anti Kekerasan Seksual, dan itu sudah ada dalam konsep saya, nanti saya balik dari Kendari baru kami akan rapatkan, dan diharapkan minggu depan sudah bisa kita bentuk,\” ungkap Wibowo Saat dikonfirmasi, via telepon, Senin (15/5/2016).

 

Sasaran Satgas tersebut yakni perempuan dibawah umur. Sebab, kekerasan seksual kerap terjadi pada usia dibawah umur, yang kadang kala pelakunya juga masih di bawah umur. \”Karena banyak kasus kekerasan seksual itu dibawah umur, yang pelakunya juga masih dibawah umur,\” jelasnya.

 

Ditambahkannya, untuk saat ini pihaknya belum bekerjasama dengan instansi manapun terkait tentang rencana tersebut. Namun tidak menuntut kemungkinan itu akan dilakukan demi efektifitasnya program tersebut.

 

\”Sementara kita lakukan diintitusi kepolisian dulu, nanti kalau bisa kita akan menggandeng instansi lain. Tapi yang penting kita lakukan tugas pokok Polri dulu,\” katanya.

 

Meski tidak menyebutkan berapa jumlah kasus kekerasan seksual terhadap wanita yang terjadi di wilayah hukum Polres Buton. Namun, lulusan dari Akpol ini menyebut, kemajuan teknologi yang disalah gunakan masyarakat, banyak menjadi penyebab terjadinya kekerasan tersebut.

 

\”Salah satu penyebabnya karena kemajuan teknologi, seluruh lapisan masyarakat bahkan anak-anak bisa mengakses film porno melalui internet,\” ujarnya.

 

Untuk itu, dia menghimbau kepada masyarakat khsusnya para orang tua dan guru, agar bisa lebih mengawasi anak terutama dalam penggunaan teknologi informasi seperti telepon pintar.

 

Tidak kalah penting, lanjut Wibowo, yakni dengan menanamkan ilmu agama yang baik untuk menghindarkan anak dari perbuatan yang tidak diinginkan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.