Puasa Ibadah Private

Oleh: Makmur Ibnu Hadjar
Alumni UGM Yogyakarta dan Curtin University Of Technology, Perth.

Dalam sebuah Hadist Qudsi, ALLAH SWT berfirman, “…bahwa Puasa itu adalah untu-KU semata, Akulah yang menanggung pahalanya..”. Hadist tersebut menggambarkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang diliputi oleh hubungan korohanian antara hamba dengah Tuhannya, sehingga substansi dari prosesi puasa itu hanya hamba yang melaksanakan puasa itu, dengan sang Khaliq, yang mengetahui-dan selanjutnya akan menanggung pahala puasa itu.

 

Dalam konteks pemahaman seperti itu, prosesi ruhani ibadah puasa hanya melibatkan dua unsur yaitu Khaliq dan hamba. Disinilah letak private ibadah puasa itu. Berbeda dengan zakat, haji dan sholat – ada laku demostratifnya, ada laku interaksi sosialnya, yang bisa disaksikan dan diamati oleh setiap orang, selain dari pelaku ibadah itu sendiri. Sehingga ibadah yang private itu di definisikan oleh Sakandari dalam kitabnya al-Hikam, bahwa amal perbuatan adalah bentuk lahiriah yang nampak mata, dan ruhnya adalah adanya keihlasan, yang amat private di dalamnya.

 

Ibadah puasa yang bersifat private itu, esensinya merupakan latihan moral dan sekaligus sebagai peragaan atas kesadaran kehadiran Ilahi Rabbi, dalam kondisi moral dan ruhani kita yang sedang berinteraksi dalam mengendalikan kecendrungan atas ketundukan kepada hawa nafsu (al-nafs). Dari sisi inilah yang harus kita maknai dari pada tujuan pokok puasa, yang kemudian melimpahkan nilai-nilai hidup dalam bentuk hikmah moral kemanusian, yang terbentuk dari proses menahan diri (puasa).

 

Dengan kemampuan menanggung dan menahan diri dari dominasi jasmani, dan dominasi hawa nafsu – sesungguhnya yang terjadi adalah proses pensucian rohani, menuju kepada sifat fitrah dari pada ruhani itu. Proses pensucian ini diperlukan oleh manusia secara berkala, yakni setahun sekali, yang ditunaikan dalam interval waktu 29 – 30 hari, karena salah satu sisi buruk dan kelemahan manusia, adalah menuruti dorongan hawa nafsunya yang biasanya berbentuk kecendrungan untuk mengambil hal-hal jangka pendek, dan lengah terhadap akibat buruknya yang berakibat jangka penjang. Kelemahan manusia ini dinyatakan oleh ALLAH SWT dalam Al Qur’an suci ; “…………..bahkan kamu menyukai yang cepat (kehidupan dunia), dan kamu meninggalkan (kehidupan) akhirat” (Q:75:20-21).

 

Karena itu esensi fungsional bulan puasa sebagai bulan pensucian diri pribadi bagi setiap ummat muslim yang menjalankannya, selanjutnya diharapkan akan dapat membersihkan segala kotoron kezaliman jasmani, kezaliman rohani dan kezaliman berfikir, yang dilakukan pada masa di luar bulan ramadhan. Dalam pemahaman seperti itu Nurcholish Madjid memberikan penjelasan sebagai berikut ; Bulan puasa ini adalah rakhmat ALLAH yang memberi jalan berkala untuk lepas dari jalan inferno, yaitu alam neraka, alam sengsara dalam kehidupan manusia, menuju alam pensucian atau alam purgatario melalui latihan-latihan ruhani selama satu bulan, untuk suatu tujuan yaitu paradiso, yakni kenikmatan dan keindahan kehidupan surgawi, yang dalam referensi Islam disebut “Dar al-Salam ”.

 

Untuk kehidupan surgawi ini dalam tafsir Qur’an (10:25), oleh Abdullah Yusuf Ali mengatakan ; “…………dari pada segala kesenangan dalam kehidupan benda yang serba fana dan tiada pasti ini, ada lagi kehidupan yang lebih luhur. Kesana Allah SWT selalu menyerukan, itulah yang disebut dengan tempat yang damai. Disana tidak ada rasa takut, tidak ada rasa kecewa, dan tidak ada rasa duka. Mereka semua mencari keridhaan ALLAH, bukan mencari kenikmatan dan keuntungan dunia kasar”.

 

Itulah sebabnya surga atau kehidupan dalam surga disebut juga sebagai Dar al-Salam atau dalam bahasa kita “Negeri Kedamaian”, dimana para penghuninya senantiasa menyebarkan salam atau senantiasa saling menyapa dengan ucapan “…..damai…damai…damai…..” ( ……salam…salam…salam…..). Oleh karena itu, orang yang berpuasa dengan ihlas, maka balasannya adalah paradiso (surgawi). Wallahuallam bissawab*.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.