Iklan Clarion
Festival Pesona Budaya Tua Buton

Puasa Lancar, Kerja Aktif, Wakil Bupati Konawe Punya Rahasianya

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Selama Ramadan, seluruh umat islam di penjuru dunia berpuasa menahan diri dari makan dan minum, serta nafsu selama lebih dari 12 jam. Tak jarang jika kita akan mendapati umat islam yang malas bekerja atau beraktivitas karena khawatir kehausan ataupun kelaparan.

Namun berbeda dengan Gusli Topan Sabara. Sebagai wakil bupati Konawe yang memiliki segudang kesibukan, ia tetap semangat dan aktif bekerja dari pagi hingga mendekati waktu berbuka puasa.

Dalam wawancara dengan sultrakini.com di ruang kerjanya, Wakil Bupati Konawe, Gusli Topan Sabara, ST.,MM, berbagi kiat-kiat agar kuat dan tetap aktif bekerja meski sedang berpuasa.

“Dua hal saya lakukan, yakni berpikir positif dan selalu berusaha tulus ikhlas semua aktivitas kita lakukan tidak ada lelah. Saya juga rasakan, dalam keadaan tidak puasa pun Allah memberikan kekuatan tambahan untuk memikirkan Konawe ini dengan 200 ribu lebih penduduknya, apalagi di bulan Ramadan. Kita yang tadinya beban pikiran dan ketulusan cuman sekian, di bulan Ramadan ini terus ditingkatkan sampai mendekati kesempurnaan ikhlas dan tulus,” ucap Gusli, Jumat (17/5/2019).

Untuk makanan favorit berbuka puasapun, wakil bupati ini mengaku tidak muluk-muluk.

“Saya makan apa saja. Dalam hidup itu saya tidak pernah ada makanan favorit harus saya makan, saya sama dengan pak bupati, makan mi juga jadi, apalagi mi pakai telur, mie rasa ayam bawang,” ceritanya sambil tersenyum.

Dalam kebiasaan berbuka puasa, ia juga tidak lupa minum air hangat terlebih dahulu sebelum salat Magrib, selepas itu barulah dilanjutkan dengan santap makan malam dengan porsi tidak banyak.

“Kita sudah biasa hidup makan dengan pola sederhana. Kita harus biasakan dengan pola sederhana. Waktu susah biasa saja dan waktu senang juga biasa saja,” tambahnya.

Untuk ibadah khusus di setiap Ramadan, ia selalu memegang prinsip bahwa jika tangan kanan memberi, tangan kiri tidak boleh tahu.

“Saya kalau masalah agama, ibaratnya SD sampai perguruan tinggi, kualitas tingkat kesholehan masih playgroub, dibawahnya lagi TK. Kami masih jauh dari orang-orang bertaqwa dan beriman. Kami hanya selalu berjalan dengan hati tulus ikhlas,” tambahnya.

Laporan: Ulul Azmi
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.