Reklamasi Justru Merusak Teluk Kendari

KOTA Kendari memiliki teluk dengan pintu masuk dari timur, arah laut Banda (laut terdalam di Indonesia. Keberadaannya alamiah, menjadi salah satu ikon ibu kota Provinsi Sulawesi Tenggara. Tentunya selain ikon buatan  seperti tugu “terlantar” persatuan di tengah Kota Kendari. Di pesisir bagian utara teluk, tepatnya daerah Kendari Beach, masyarakat menjadikannya tempat rekreasi atau sekadar melepas penat di sore hari atau malam hari. Malam Minggu lebih ramai lagi. Di sana tersaji aneka jajanan, seperti es teler, pisang epe. Pengunjung dapat menikmati jajanan itu sambil menyaksikan ombak kecil tengah memainkan kapal tradisional para nelayan tangkap yang berlabu. Generasi muda, dulu menyebut pesisir itu dengan Kebi, singkatan Kendari Beach, dan belakangan populer lagi dengan sebutan Pirla alias pinggir laut. Sayangnya, suguhan pemandangan alam teluk Kendari, belakangan banyak mengalami perubahan. Pada saat-saat tertentu, teluk terlihat seperti padang pasir yang becek, berair. Tidak tertutup kemungkinan, satu saat tak perlu menggunakan perahu untuk menjangkau daratan seberang. Teluk Kendari akan menjadi daratan yang cukup lapang. Tidak hanya itu, juga akan menjadi lahan baru bagi para pemulung sampah. Cukup banyak sampah yang bisa diperoleh. Gambaran di atas akan menjadi kenyataan bilamana sedimentasi terus menerus terjadi. Sedimentasi (penumpukan sedimen) merupakan salah satu dampak dari adanya tekanan fisik pada ekosistem perairan. Ini ditandai dengan laju pendangkalan akibat intrusi sedimen yang telah mengakibatkan peningkatan luas daratan dalam badan Teluk. Polusi sedimen dianggap menjadi salah satu risiko utama lingkungan air, karena banyak organisme air yang menghabiskan sebagian dari siklus hidup mereka pada sedimen (Hortellani, 2013).


Jumlah sedimen yang banyak di dalam air memberikan dampak buruk seperti menurunkan kualitas air (air menjadi keruh), mengurangi penetrasi sinar matahari ke dalam air sehingga mengurangi kecepatan fotosintesis, mengurangi populasi ikan dan hewan air lainnya, karena telur dan sumber-sumber makanan di dalam air tertutup oleh sedimen. Sementara diketahui perairan Teluk Kendari sejak lama dijadikan lahan untuk pengembangan produksi perikanan.Pusat Penelitian Lingkungan Hidup UHO telah memprediksi sedimentasi itu sejak tahun 2003. Disebutkan bahwa Sungai Wanggu, Kambu, dan Mandonga adalah tiga sungai menyumbang sedimentasi terbesar yakni sekitar 1.330.281 m3/tahun dengan laju pendangkalan 0,207 m/tahun. Diperkirakan dalam 10 tahun mendatang, kontur kedalaman 1,2 sampai 3 meter berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang kontur kedalaman 1, 2, 3, 4, sampai 10 meter berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar.Sumbangan sedimen terbesar yang dapat dilihat secara kasat mata saat ini adalah adanya penimbunan tanah dan batu di pinggir teluk yang terjadi hampir di segala sisi. Pada sisi Selatan, jalan menuju pelabuhan Samudera, terlihat aktivitas penimbunan teluk dengan cara membuat petak-petak kaplingan laut, yang terus mendesak badan Teluk Kendari. Di sisi Barat teluk, penimbunan membuat jalan menjulur ke arah teluk juga dilakukan melalui proyek pemerintah. Demikian pula penimbunan besar-besaran yang juga diproyekan oleh pemerintah di sisi Utara (bagian kemarau). Jadi, sesungguhnya pemerintahlah yang saat ini mempunyai andil besar untuk “memperkecil” luasan teluk. Aktivitas penimbunan ini adalah upaya reklamasi dari pemerintah untuk meningkatkan peran kawasan Teluk Kendari. Jauh sebelumnya, sumbangan sedimentasi juga datang dari dari aktivitas pedagang (rutin dan musiman) di sepanjang area Kendari Beach, seperti kulit buah durian, rambutan, dan lainnya yang ikut terbuang ke dalam teluk. Juga sampah botol bekas minuman, bungkus rokok, dan sebagainya.


Sumbangan sedimentasi lainnya adalah aktivitas beberapa dermaga yang ada dalam kawasan teluk. Tidak hanya menyebabkan sedimentasi, keberadaan pelabuhan menyebabkan lalu lintas pelayaran menjadi ramai. Sehingga tumpahan minyak, cat, karatan dinding kapal dapat menjadi zat-zat pencemar perairan.Kondisi tersebut menggerakkan pemerintah untuk memperbaiki keadaan yang jika dibiarkan tentu akan semakin memburuk. Revitalisasi dalam bentuk reklamasi sepertinya menjadi satu-satunya cara bagi pemerintah. Entah karena murni kesadaran ekologis, atau justru profit oriented.Sempat membaca naskah presentase pemerintah terkait pengerukan dan reklamasi Teluk Kendari. Dengan didasarkan pada kenyataan pendangkalan teluk, maka upaya reklamasi dijadikan upaya antisipatif untuk menyelamatkan Teluk Kendari dari sedimentasi dan pencemaran, sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi, lingkungan dan estetika. Salah satu langkahnya adalah menetapkan kawasan Teluk Kendari sebagai kawasan strategis ekonomi dalam dokumen RTRW provinsi dan Kota Kendari. Beberapa rencana kawasan Teluk Kendari yang tertuang dalam naskah tersebut diantaranya pembangunan mesjid Al-Alam, pembangunan jembatan Bahteramas, Hotel, Mall, Taman Kota dan Plaza.Faktanya beberapa rencana tersebut memang sedang dijalankan. Saya pikir tidak ada masalah dengan rencana-rencana tersebut, toh juga untuk kepentingan publik yang nantinya akan semakin mengembangkan Kota Kendari, khususnya dan Provinsi Sultra umumnya. Pembangunan Masjid Al-Alam yang dibangun untuk tujuan mulia sejatinya tidaklah menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat jika sekiranya dibangun dengan asas ramah lingkungan. Oleh karena itu, Sangat disayangkan jika rencana pengembangan kawasan Teluk Kendari justru akan semakin memperparah kondisi lingkungan perairan yang semula diniatkan untuk revitalisasi.


Upaya reklamasi semakin nyata. Menurut informasi dari pekerja setempat, lokasi tersebut akan dibangun pelabuhan kapal nelayan. Ini bukan daratan satu-satunya, tetapi masih ada beberapa daratan lain yang entah apa peruntukannya.Tidak jauh dari lokasi tersebut, rencana pembangunan pelabuhan kapal nelayan itu ada Water Sport Centre yang nampaknya telah siap dimanfaatkan. Secara gramatikal, Water Sport Centre diartikan sebagai pusat olahraga air. Tak tahu jenis olahraga air macam apa yang akan digiatkan. Sementara wahana tersebut dikelilingi oleh daratan hasil sedimentasi dengan warnanya yang hitam pekat, pertanda telah banyak unsur-unsur pencemar yang dikandungnya. Belum lagi sampah-sampah serta puing-puing kayu sisa kapal rusak dan sisa bangunan yang sungguh mengganggu pemandangan. Air laut tak lagi biru, mengikuti warna sedimen yang secara fisik lebih cocok dikatakan air limbah. Itu adalah limbah yang terbuang dari aktivitas pemukiman, wisata pinggir laut, limbah kapal, dan sebagainya.Dampak positif kegiatan reklamasi tentulah peningkatan kualitas dan nilai ekonomi kawasan pesisir, mengurangi lahan yang dianggap kurang produktif, dan penambahan wilayah. Namun dampak positifnya masih terkalahkan oleh dampak negatifnya yang sifatnya jangka panjang. Dampak tersebut meliputi dampak fisik seperti perubahan hidro-oseanografi, erosi pantai, sedimentasi, peningkatan kekeruhan, pencemaran laut, intrusi air laut ke air tanah, peningkatan potensi banjir dan penggenangan di wilayah pesisir. Dampak biologis berupa punahnya biota laut sebagai sumber protein terbesar, terganggunya ekosistem mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria dan penurunan keaneka ragaman hayati. Sedangkan dampak sosialnya, berupa hilangnya mata pencaharian atau penurunan pendapatan para petani tambak, nelayan dan buruh (Ruchat Deni Djakapermana, 2010).Definisi reklamasi adalah proses pembentukan lahan baru di pesisir atau bantaran sungai. Tujuan utamanya adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat.


Dalam teori perencanaan kota, reklamasi pantai merupakan salah satu langkah pemekaran kota. Biasanya reklamasi dilakukan oleh negara atau kota besar dengan laju pertumbuhan dan kebutuhan lahannya meningkat pesat, tetapi mengalami kendala keterbatasan lahan. Kondisi ini tidak lagi memungkinkan untuk melakukan pemekaran ke daratan, sehingga diperlukan daratan baru. Merujuk pada teori itu, maka pemerintah belum pantas untuk melakukan reklamasi dengan tujuan pengembangan ekonomi. Toh masih banyak daerah daratan yang belum dimaksimalkan. Mengapa harus laut yang ditimbun. Hanya akan semakin memperkecil wilayah perairan Kendari.Pembangunan yang dimaksudkan untuk mensejahterakan manusia, cepat atau lambat justru menimbulkan bencana dan mengancam kehidupan manusia. Disebabkan ketiadaan kearifan terhadap masa depan, terutama kearifan terhadap lingkungan hidup. Arne Naes dalam (Anies, 2006) menjelaskan bahwa krisis lingkungan saat ini hanya dapat diatasi dengan melakukan perubahan paradigma dan perilaku manusia terhadap lingkungan secara fundamental.Reklamasi hanya akan merusak lingkungan perairan Teluk Kendari. Kerusakan lingkungan pada akhirnya akan menurunkan derajat kesehatan manusia. Sebab lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar. Oleh karena itu, bukan revitalisasi yang profit oriented yang perlu dilakukan melainkan revitalisasi yang beretika lingkungan. Selamatkan laut Kendari dari pencemaran dan pendangkalan. Lakukan pengerukan tanpa reklamasi dan penanaman bakau untuk meminimalisir cemarannya. Setidaknya kita dapat memulihkan kembali habitat biota laut (ikan dan kerang) sebagai sumber protein terbesar yang menyuplai gizi bagi kesehatan masyarakat.Selamat Hari Kesehatan Nasional 12 November. Kita Sehatkan Masyarakat lewat lingkungan yang sehat.  
*Sri Damayanti adalah Dosen Kesehatan Lingkungan pada STIK Avicena Kendari dan FKM Universitas Halu Oleo

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.