SUARA

Remaja Makin Brutal, Islam Solusi Ideal

Oleh: Masita

(Tim Teknis Dinas Kehutanan Kolaka)

Akhir-akhir ini media sosial maupun berita sedang dihebohkan atas beberapa aksi-aksi remaja zaman now, mulai dari kasus anarkis seperti pengeroyokan, tawuran, hamil di luar nikah dan masih banyak lagi macam nya.

Seperti dilansir berita (okezone.com) baru-baru ini terjadi penjarahan distro di Depok oleh puluhan Remaja Bersenjata. Peristiwa tersebut terjadi sekitar jam 04.42 WIB. Toko pakaian atau distro Fernando Store di jalan Sentosa Raya, Depok Tengah, Sukmajaya, Kota Depok tiba-tiba diserang secara membabi buta oleh puluhan remaja menggunakan belasan kendaraan bermotor.

Bahkan, dari rekaman CCTV juga tampak diantara mereka adalah perempuan yang dilengkapi senjata tajam jenis celurit dan samurai.

Inilah bukti kerusakan remaja saat ini akibat dari lemahnya negara sebagai perisai atau pelindung bagi masyarakatnya terkhusus kaum remaja hari ini. Sebab, perubahan itu dapat terjadi pada tangan generasinya. Dan keluarga pun harusnya menjadi sandaran utama

bagi kembang tumbuh remaja, serta lingkungan yang menjadi faktor utama pada perilakunya.

Ini harusnya menjadi control keluarga khususnya ayah dan ibu terhadap anak-anaknya, memperhatikan setiap perubahan yang terjadi pada anaknya serta melihat lingkungan pergaulan anak-anaknya. Selain itu, sekolah sebagai tempat menuntut ilmu pun menjadi

penting untuk diperhatikan, karena disinilah mereka di didik dan diperhatikan selain di lingkungan keluarganya.

Namun, sekarang apa yang terjadi? Sekolah hanya merupakan tempat persinggahan sementara saja, apa yang diajarkan tidak di aplikasikan. Bukannya menjadi tempat pengajaran dan pendidikan melainkan tempat perkenalan banyak teman saja. Kemudian

orang tua yang seharusnya ikut membantu memperhatikan tumbuh kembang anaknya malah sibuk memikirkan pekerjaan dan tak jarang orang tua hari ini beranggapan bahwa “asal uang jajannya lebih dari cukup, tak masalah”.

Orang tua hari ini lebih membebaskan anaknya untuk melakukan apapun yang disukai dibandingkan dengan di didik berdasarkan aturan pendidikan yang seharusnya. Bukannya dibekali ilmu agama malah dibekali dengan gadget dan uang saku yang melimpah. Karena

alasan sibuk bekerja jadi anak tak diperhatikan. Selain itu, guru yang seharusnya menjadi tempat bertukar pikiran pun malah mendidik muridnya hanya ketika pelajaran berlangsung dan setelah itu perhatian pun tidak begitu diutamakan. Malah ada beberapa yang hanya

memeperhatikan murid didiknya yang dianggap mampu ataukah pintar dan berbakat.

Kalangan pemuda khususnya remaja yang duduk dibangku SMA dimana itulah saat remaja mulai mencari jati dirinya, seharusnya disitulah saatnya ia di didik dan diperhatikan penuh. Karena masa-masa SMA lah yang paling rentan terjadi remaja yang rusak, artinya ialah banyak pengaruh yang dapat membentuk jati diri remaja baik itu perilaku baik ataukah buruk. Jika lingkungannya baik maka akan baik pula dan sebaliknya. Di masa inilah banyak sekali remaja melakukan aksi-aksi, mengapa? Karena mereka menganggap bahwa dirinya

yamaha

sudah dewasa dan bebas melakukan apapun yang ia sukai.

Apalagi saat ini sedang maraknya kasus LGBT yang sangat meresahkan, sebab pelakunya bukan hanya dewasa melainkan remaja pun. Jika orang tua tidak bertindak maka bahayalah bagi remaja yang terkena dampaknya, artinya ketika remaja hari ini dicekoki hal-

hal yang mengarah kesitu maka akan sulit nantinya untuk diubah kembali kepribadiaannya, apalagi LGBT itu membawa dampak penyakit yang mematikan yaitu HIV/AIDS.

Disinilah harusnya negara berperan penting dalam melindungi generasinya dari berbagai ancaman dari luar bukannya membiarkan generasi dan masyarakatnya malah terjerumus terus menerus pada kemaksiatan. Mengagung-agungkan kehidupan ala barat, memuja-muja idola dan lupa pada Nabi kita Rasulullah SAW, mempelajari sejarah budaya asing dan enggan mempelajari sejarah agamanya, bukannya mencegah pergaulan bebas, tawuran, aborsi, hamil diluar nikah dan bukannya memperbaiki akhlak generasinya malah

satu-satunya jalan perubahan justru dilarang (baca pengajian). Bukannya mengharamkan tindakan LGBT malah dilegalkan dan keberadaannya di akui.

Ini sudah jelas-jelas menyalahi fitrah, dan kita yang masih waras seharusnya menolak akan hal itu. Bukannya meredakan konflik malah memperpanjang masalah. Inikah contoh negara yang seharusnya menjadi pelindung? Tidak! Justru ini malah merusak. Negara boneka

yang kapanpun siap merelakan sumber dayanya baik alam ataukah manusia demi kepentingan negara penyokongnya. Negara yang telah menggadaikan seluruh asset yang dimilikinya hanya demi kemajuan bangsanya tanpa memperhatikan kehidupan warga masyarakatnya, dengan dalih pembangunan infrastruktur atau memperbaiki yang sudah ada.

Dan bukan pula mengatasi hutang negara malah semakin memperburuk saja. Ekonomi yang menjadi focus utama malah jauh dari kata sejahtera, pendidikan yang menciptakan generasi berbudi luhur malah menjadi rusak, hukum menjadi mainan bagi pemilik modal, bahkan

hidup didalamnya hanya sebagai sebuah lelucon belaka. Agama dipisahkan dalam kehidupan masyarakatnya, ulamanya malah dikriminalkan, bahkan saat ini pemeluk agama mayoritas malah dibuat phobia atas agamanya sendiri dengan balutan cap “radikal dan teroris”. Apakah ini, negara yang akan menjadi perisai bagi generasinya? Bukan!

Negara seperti apakah itu yang mampu menjadi pelindung masyarakatnya? Mari kita flashback. Ingatkah kita dahulu ketika Islam dan Daulahnya tegak selama 1300 tahun lamanya. Dengan hasil yang gemilang, daulah islam mencetak generasi yang hebat dan

berbakat serta tak luput dari akhlak yang mulia. Ekonominya sejahtera bahkan non muslim pun merasakannya. Pendidikan dan kesehatan pun gratis bagi siapapun dan tak ada perbedaan apapun baik ia miskin ataukah kaya. Pergaulan pun dibatasi, serta pemimpinnya pun adil, tak ada sumber daya yang digadaikan melainkan dikelola secara adil dan bijaksana, hukum ditegaskan bukannya dipermainkan dan berlaku pada semua kalangan. Serta membebaskan kita untuk beribdah dimanapun dan kapan pun. Dan yang terpenting adalah masyarakat benar-benar dilindungi dan aturan yang berlaku bukan dari putusan pemimpinnya ataukah majelis yang bertanggung jawab melainkan aturannya berasal dari aturan Sang Khalik (Allah SWT) dan sumbernya berasal dari Al-Qur’an.

Bukti kejayaan Daulah Islam bisa dilihat di negeri-negeri bagian Timur seperti di Andalusia, Cordova, Turki dan yang lainnya. Dan bukti pencetakan generasinya bisa dilihat pada Ibnu sina, Muhammad Al-Fatih, Salahuddin Al-Ayubi dan masih banyak lagi generasi

lainnya.

Maka dari itu, hanya islamlah solusi dari semua persoalan yang terjadi hari ini. Bukan menyengsarakan melainkan mensejahterakan, bukan merusak melainkan memperbaiki yang rusak. Saatnya kita menerapkan kembali Islam Kaaffah dalam pribadi individu dan

menegakkan Syari’at Islam. Dan menyambut kembali Khilafah ala minhaj an-Nubuwwah seperti yang diberitakan RasululLah SAW dalam salah satu bisyarahnya yang disebutkan dalam Hadist Riwayat Ahmad. Wallahu’alam

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.