Remaja Tanpa Tawuran? Islam Jawabannya!

Remaja kini makin menjadi-jadi, bukannya fokus belajar melainkan asik tawuran. Beberapa hari lalu Media Soial di hebohkan atas beredarnya berita tawuran yang dilakukan oleh Pelajar Sekolah Menengah atas di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Jumat (7/9/2018) siang. Pantauan SultraKini.com, terlihat puluhan pelajar SMA konvoi menggunakan kendaraan roda dua sambil membawa balok kayu serta busur. Kelompok pelajar SMA tersebut di duga akan melakukan penyerangan terhadap pelajar SMK yang ada di Jl.Ahmad Yani, Kelurahan Mataiwoi, Kecamatan Wua-wua.

Sebelum berita konvoi ini viral, di SMAN 1 Kolaka juga terjadi kasus atas pelajar tentang beberapa siswi terlibat dalam kasus penyekapan dan penganiayaan temannya sendiri. Kasus ini bermula saat mereka pulang sekolah pada Rabu 29 Agustus 2018 lalu. Kelima pelaku ini mendatangi pelaku di tribun Lapangan Konggoasa. Setelah tiba salah satu pelaku langsung menampar korban dan menginjak kedua pahanya. Hal ini terjadi diduga korban menyebarkan video asusila salah seorang pelaku. Tidak puas menganiaya korban pelaku juga membawa ke sebuah rumah kosong milik keluarga pelaku. “Mereka menelanjangi dan memperlakukan tak senono kepada saya, serta menyekap beberapa jam.” Akui korban. (sumber : tegas.co/Instagram @kolakainfo)

Kedua kasus ini membuktikan moral pelajar telah rusak dan berada dalam tahap bahaya. Tidak cukup berhubungan dengan mencoba narkoba tetapi pelajar berani melakukan tindak kriminal yang membahayakan nyawa seseorang bahkan meresahkan masyarakat. Sehingga membuat orang tua menjadi cemas akibat apa yang telah terjadi pada kelakuan pelajar saat ini.

Pelajar pun berani menentang kedua orang tuanya, dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman-teman sebayanya, nongkrong sampai larut malam hingga melakukan hal-hal diluar akalnya. Bukannya sibuk belajar merancang masa depan justru sebaliknya mencoba menghancurkan masa depan dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna.

Kapitalisme Penyebab Rusaknya Remaja

Di usia pelajar saat ini merupakan kondisi yang rawan dan memerlukan perhatian yang sangat ekstra dalam perkembangannya. Karena pemikirannya yang mudah dihasut dan rasa ingin bebasnya dalam menjalani kehidupan serta ketidakmauannya dalam menjalankan perintah ataukah aturan yang ada. Sekolah seharusnya menjadi tempat dimana mereka tidak hanya mendapatkan ilmu teori saja melainkan praktik bagaimana ia menjadi contoh bagi masyarakat ataukah lingkungan sekitar.

Pentingnya agama bagi pondasi siswa merupakan hal yang harus sangat diperhatikan bagi pengajar, karena tanpa agama pelajar akan terus semena-mena, melakukan apa yang di sukainya mengikuti zaman yang berstandarkan kebebasan semata membuat mereka semakin bahagia.

Pada kenyataannya kurikulum sekolah yang berasaskan pemahaman sekuler membuat pelajaran agama menjadi dikesampingkan. Standar yang diajarkan disekolah hanya memberikan informasi secara umum dan sedikit pengkaburan terhadap agama islam. Ditambah isu yang terjadi saat ini bahwa agama islam merupakan agama radikal atau teroris sehingga membuat guru ataukah orang tua merasa khawatir tatkala anaknya mengikuti kajian Islam diluar sekolah. Sehingga pelajar disibukan dengan berbagai macam tumpukan tugas dan ekstrakulikuler yang ada membuat lupa akan tujuan utamanya diciptakan di dunia.

Dengan alasan demikian semakin membuat pelajar enggan untuk mengkaji ilmu agamnya, yang terjadi hanyalah Islam KTP. Mereka tidak tahu detail tentang agamanya bahkan tak mengenal jelas sejarah dan torehan tinta emas yang telas diperjuangkan pahlawan agamanya dalam memajukan peradaban dunia.

Bagaimana mungkin pelajar saat ini mampu menjadi pemimpin layaknya Sultan Muhammad Al-Fatih saat hari-harinya di sibukan gadget dan life style yang mendorong mereka untuk menjauhi agamanya. Ataukah menjadi seperti Ibnu Sina sang Penemu Ilmu Kedokteran dan seorang ahli falsafah, fiqih dan lain sebagainya, tatkala pelajar hanya memilah-milah pelajaran yang disukainya. Kemudian tuntutan ekonomi yang membuat pelajar menekan kedua orang tuanya untuk memenuhi keinginan hidupnya memungkinkan timbul kasus lainnya seperti pencurian dan sebagainya.

Inilah bukti sistem Kapitalisme dalam dunia pendidikan, bukan mencerdaskan melainkan menjerumuskan pelajar dalam ilmu-ilmu tak bermanfaat, melupakan agamanya dan mengesampingkan agama dalam kehidupannya kecuali saat ibadah saja. Diktatornya standar pendidikan saat ini membuat pelajar melakukan hal-hal yang diluar batas kewajaran. Bahkan moralnya hilang, lepas dan bebas layaknya “macan baru keluar dari kandangnya”. Mencoba apapun yang dilihatnya tidak peduli baik ataukah buruk, tidak memiliki kepedulian dan rasa tanggungjawab atas apa yang telah diperbuat. Kebebasan yang digalangkan kaum Kapitalis berhasil membuat para penerus bangsa rusak sesuai kehendaknya.

Kembali kepada Islam

Sudah saatnya kita mengajarkan kepada pelajar saat ini betapa pentingnya akidah sebgai pondasi hidupnya. Memuliakan hidupnya dan menjadikannya calon pemimpin masa depan yang hebat dalam apapun. Bukan hanya menguasai satu ilmu melainkan ilmu yang lain, menjadi layaknya Muhammad Al-Fatih, Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Ibnu Batutah dan ilmuwan lainnya. Membangun bangsa dengan menerapkan syariat islam yang telah terbukti keberhasilannya menguasai 2/3 dunia selama 13 abad dengan kegemilangan peradaban bangsanya. Menyatukan seluruh umat tanpa memandang latar belakang, disatukan oleh aturan yang sama dan bukan hanya mensejahterakan masyarakatnya melainkan keamanan nya terjamin bukan bagi Muslim semata melainkan Non-Muslim merasakannya.

Al-qu’an dan hadist menjadi panduannya dan hukum yang digunakan adil sebagaimana tertera pada kitab-Nya. Sebab Islam adalah agama yang berasal dari Pencipta Yang Menguasai Seluruh Jagad Raya. Tidak menjadikan pelajar yang apatis dan anarkis, melainkan memeliki rasa kepedulian dan tolong menolong sesama, meringankan beban saudara. Sebab islam bagai satu tubuh jika salah satunya sakit maka seluruh tubuh akan merasakan.

Sudah saatnya Islam menjadi dasar Negara bukan hanya menjadi agama ritual belaka. Dan sebagai penerus bangsa sudah saatnya kita memperjuangkannya dengan mempelajari lebih dalam ilmu agamanya dan kemudian disampaikan ke masyarakatnya. Agar bukan hanya individu saja yang merasakannya melainkan seluruh umat. Memiliki benteng terkuat dalam menghadapi dunia yang sangat keras, agar memiliki kepribadian yang tak mudah goyah sekalipun badai menerjangnya. Wallahu a’lam.

Oleh: Masitah(Anggota SWI Community Kolaka)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.