Renaisance Pakapaka

Bunyi itu menjadi namanya, te pakapaka. Imbuhan ‘te’ dalam bahasa Wakatobi menunjukkan benda (the, English. La, France). Te pakapaka, adalah alat dari bambu yang menghasilkan bunyi pakapaka.

Cara kerjanya begini: baling-baling dari kayu ringan dengan as kayu bulat menancap pada sepertiga panjang bambu, atau tubuh, batang, silinder, pakapaka. Angin datang memutar baling-baling. Silinder tegak pakapaka bergerak, bagian atas yang terbelah bergetar. Dua belahan itu saling menjauh, mendekat, merapat, bertubrukan, secara cepat, dan berbunyi: paka.. paka.. paka.. paka.

Makin kencang angin, semakin meledak-ledak tumbukan dua ujung terbelah itu. Menyerupai gemuruh tepuk tangan. Agar dapat menangkap angin lebih konstan, hulu pakapaka ditambah bambu panjang, lalu diikat pada puncak pepohonan.

Alat ini, hiburan para remaja Wakatobi, dahulu. Diletakkan dekat rumah kebun, di musim kemarau, dibulan Juni-Agustus. Waktu dimana angin bertiup kencang dan konstan.

Para ayah sebenarnya telah menggunakan pakapaka untuk pengirim semacam pesan. Memberi tanda bahwa kebun sedang diolah. Kebun-kebun di atas pulau karang seperti di Kepulauan Tukang Besi, Wakatobi Indonesia, memang sering ditinggalkan menghutan. Semusim ditanami jagung, sayur, kacang, dan singkong, untuk dikosongkan, dua, tiga atau lima tahun setelah panen.

Jeda waktu tanam secara alami membuat lahan kebun ditumbuhi pepohonan kembali. Daun-daun gugur dan melapuk membantu menyuburkan, mengembalikan hara dalam lapisan tanah dangkal, di atas pulau-pulau kecil itu.

Kepada satwa, sinyal pakapaka dikirim serupa hardikan. Ketika burung kakatua, nuri, perkutut, masih melimpah populasinya, bunyi bertalu-talu efektif mengusir kawanan itu dari kebun jagung.

Akan tetapi pakapaka dalam satu generasi sudah dilupakan. Hampir 30 tahun ini pakapaka perlahan hilang, macam tak pernah dikenal. Gunanya tak sepenting dulu. Burung nuri dan kakatua pengganggu kebun jagung juga telah habis. Bertahun-tahun dijerat, ditangkap, dimuat dengan perahu, dijual ke negara Singapore oleh para pelayar dan pedagang Wakatobi, terutama di tahun 1990an.

Bukan hanya itu, makanan pokok penduduk pulau berubah. Dari soami (roti tawar, berserat, berbentuk kerucut, berbahan singkong) dan bura-bura (nasi dari jagung giling kukus dan diolesi minyak kelapa) berganti nasi berbahan beras yang diimpor dari Sulawesi dan Jawa. Budaya menanam berganti hobi membeli kebutuhan pangan di pasar. Matarantai dalam teori relasi budaya dan sumberdaya alam terputus, terbukti menyingkirkan pakapaka.

Namun ribuan orang, dari populasi keluarga lima desa di Puncak Tindoi, mengacungkan tangan ke udara, mengantar pakapaka kembali ke angkasa. Berlomba menangkap angin dengan pakapaka pada festival, 26 Agustus 2018. Puncak Tindoi yang diyakini penduduk sebagai magic keberkahan, yang diucapkan dalam doa-doa kepada Tuhan; tentang kekuatan, kemashuran, dan cinta, segera menjadi saksi renaisance pakapaka. Menghidupkan kembali pakapaka.

Puncak Tindoi itu, turun temurun menjadi sandaran, baro…

Seperti di daratan Eropa, dokumentasi tulisan kuno tentang baling-baling berguna pada teknologi kincir yang merubah energi mekanis angin menjadi energi listrik. Kincir angin membangkitkan pompa air untuk mengairi kebun-kebun gandum mereka. Kebun yang memproduksi gandum, makanan pokok yang tak tergantikan. Yang menginspirasi modernidasi baling-baling.

Dalam festival ini, mungkin ribuan baling-baling mini, menggetarkan ribuan pakapaka di desa-desa Puncak Tindoi, ribuan orang melihatnya. Jika seseorang diantaranya diberkahi Tuhan untuk menemukan pakapaka penghasil energi, ini kali renaisance pakapaka adalah memberi hidup yang kedua pakapaka untuk berguna diabad baterai lithium-ion.

“Rindu melihatmu.”

 

Oleh: Saleh Hanan (Aktivis dan Pemerhati Lingkungan Wakatobi)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.