Sadari Kendari Banyak Situs Bersejarah, Pemkot Mulai Fokus Lestarikan Cagar Budaya

SULTRAKINI.COM: KENDARI – Pemkot Kota kendari melalui Dinas Kebudayaan dan Parawisata mensosialisasikan situs bersejarah yang ada di Kota Kendari. Acara ini juga dihadiri sejumlah narasumber dari civitas akademika di bidang arkeologi, sejarawan, tokoh masyarakat, dan tokoh adat Anakia Tiworo.

Sosialisasi situs bersejarah ditujukan untuk ajang promosi wisata bersejarah dalam kota.

Sosialisasi situs bersejarah di Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)

Sebelum melakukan kunjungan langsung ke beberapa situs bersejarah di Kota Kendari, peserta diberikan pemahaman terkait hal tersebut oleh pemateri La Ode Ali Ahmadi, S.S.

Situs pertama diperkenalkan kepada peserta adalah pilboks peninggalan tentara Jepang di Jalan Made Sabara. Pilboks berbentuk tabung dari beton itu diduga digunakan sebagai tempat pengintaian musuh oleh tentara Jepang, sebab terdapat lupang berbentuk segi empat pada tabung. Menurut La Ode Ali Ahmadi, pilboks yang berada di Jalan Made Sabara itu sudah tidak sesuai tempat semula.

Pilboks peninggalan tentara Jepang yang dipindahkan ke Jalan Made Sabara, Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)

“Pilboks yang berada di Jalan Made Sabara itu tidak sesuai tempatnya karena satu pilboks lagi berada di depan TVRI lama,” ujar La Ode Ali Ahmadi, Sabtu (5/10/2019).

Lokasi selanjutnya yakni titik 0 kilometer Kota kendari yang berada di Kelurahan Kandai. Posisi patok titik 0 km tersebut berada di dalam kawasan pembangunan Jembatan Bahteramas yang menghubungkan kota lama dengan Lapulu.

Dinas Kebudayaan dan Parawisata Kendari menyatakan titik 0 km Kota kendari adalah tempat yang mempunyai kaitan erat dengan proses awal mula pembangunan Kota Kendari atau disebut Kandai. Hal ini dikuatkan dengan bangunan-bangunan tua yang barada di sekitar titik 0 km masih kental dengan arsitektur Belanda. Misalnya loji, bioskop pertama kendari (Kendari Teater), Rumah Kontroler, Sekolah cina yang kini sebagian sudah beralih fungsi dan ada pula telah dihancurkan lantaran tersentuh proyek jembatan tersebut.

Kawasan Kota lama memang merupakan awal pertumbuhan ekonomi dan pusat bisnis perdagangan di zaman Hindia Belanda yang kemudian menjadi wilayah ekspansi tentara Jepang. Hal ini ditandai dengan adanya bunker Jepang yang terdapat sebuah meriam yang berada di dalamnya atau biasa disebut Meriam Mata karena berada di Kelurahan Mata.

Meriam di Kelurahan Mata, Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)

La Ode Ali Ahmadi juga menjelaskan, posisi Bunker Mata menghadap ke Benua Australia dan sangat strategis untuk mempertahankan wilayah dan mortir atau meriam tersebut adalah salah satunya yang digunakan untuk menembak pesawat sekutu yang bangkainya berada di Kepulauan Wawoni.

“Banker ini digunakan sebagai pertahanan tentara Jepang dan cuman ini peninggalan Jepang yang sempat difungsikan dan menembak pesawat sekutu yang bangkainya ada di Pulau Wawonii puncak di wilayah Munse dan dilakukan observasi dan telah teridentifikasi sebagai pesawat,” terangnya dikunjungan lokasi bunker, Sabtu (5/10/2019).

Pulau Pandan termasuk lokasi kunjungan peserta yang ternyata di sana tidak hanya kompleks makam leluhur, namun teridentifikasi Pulau Pandan juga sebagai tempat pertahanan karena ditemukan pilboks dan terowongan yang menghadap langsung ke arah masuknya kapal ke Teluk Kendari.

Makam leluhur di pulau pandan, Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)
Makam leluhur di pulau pandan, Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)
Pilboks yang baru diidentifikasi di sekitar pulau pandan, Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)
Pilboks yang baru diidentifikasi di sekitar pulau pandan, Kota Kendari, Sabtu (6/10/2019). (Foto: Riswan/SULTRAKINI.COM)

Dinas Parawisata dan Kepudayaan Kendari selanjutnya akan fokus melakukan upaya dalam pelestarian cagar budaya di Kendari dan termasuk peningkatan perekonomian dalam sektor wisata bersejarah. (Adv)

Laporan: Riswan
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.