Iklan Clarion

Sampah telah Mencemari Laut Terdalam Bumi dan Permukaan Bulan

SULTRAKINI.COM: Sampah tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Selain manusia sendiri yang menghasilkan sampah, kebanyakan dari mereka juga belum sadar dampak hebat dari pencemaran sampah jika membuangnya sembarangan. Selain mencemari tanah, sampah juga bisa mencemari lautan. Terlebih itu sampah plastik.

Hasil riset Jenna Jambeck, peneliti dari Universitas Georgia, Amerika Serikat, yang dipublikasikan pada 2015, menyebutkan Indonesia menyumbang sampah plastik terbanyak nomor dua di dunia. Di saat itu, berat sampah plastik yang disumbang mencapai 187,2 juta ton.

Angka ini di bawah Cina dengan volume sampah 262,9 juta ton. Disusul negara-negara Asia Tenggara lainnya, seperti Filipina, Vietnam, dan Sri Lanka.

Indonesia telah berjanji mengurangi sampah plastik di laut sampai 75 persen pada 2025. Namun sejumlah pengamat masih meragukan peraturan hukum yang cukup kuat untuk mewujudkannya.

Sampah di Laut Terdalam Bumi
Polusi sampah rupanya telah sampai di laut terdalam bumi. Ini dibuktikan oleh sejumlah peneliti yang menemukan mikroplastik di dalam usus Krustasea.

Ahli Ekologi Kelautan dari Newcastle University di Inggris, Alan Jamieson bersama timnya pada Februari 2017 dalam jurnalnya Nature Evolution and Ecology, mengungkapkan Polychlorinated Biphenyls yang tak lain unsur kimia yang berminyak dan lengket yang banyak digunakan di berbagai industri serta Polybrominated Diphenyl Ethers ditemukan pada krustasea yang hidup di kedalaman 10.000 meter di Palung Kermadec di Pasifik Selatan dan di utara Palung Mariana di kedalaman 10.250 meter.

Rasa penasaran mereka tentang kontaminasi plastik di kedua palung itu, mendorong peneliti kembali meneliti di kedua palung tersebut dan palung lainnya. Peneliti menggunakan perangkap yang ditenggelamkan ke dasar palung terdalam beserta umpan dan kamera. Begitu hewan tertangkap, perangkap secara otomatis naik ke permukaan.

Para peneliti mengumpulkan krustasea ini dari dasar laut terdalam di bumi(Newcastle University)
Para peneliti mengumpulkan krustasea ini dari dasar laut terdalam di bumi(Newcastle University)

Peneliti mengambil sampel dari enam palung, yakni Mariana, Jepang, Izu-Bonin, Peru-Cile, New Hebrides, dan Kermadec. Total 90 krustasea dikumpulkan dari lokasi itu.

Sungguh mengejutkan, tak satupun sampel bebas dari plastik. Tingkat kontaminasi terendah di New Hebrides sedangkan kontaminasi tertinggi berada di Palung Mariana. Selain plastik, peneliti juga menemukan rayon, iyocell, rami, dan nilon dalam usus krustasea.

Studi pada 2014, ditemukan sekitar 5 triliun plastik mengapung di laut, beratnya lebih dari 250.000 ton. Sungai menyumbang 2,4 juta ton plastik ke laut setiap tahun dan 86 persen polusi plastik itu berasal dari sungai-sungai di Asia.

“Pengamatan yang kami lakukan menunjukkan jika penyerapan mikroplastik terjadi di bagian laut dalam juga. Membuktikan jika tidak mungkin ada ekosistem laut yang tidak terpengaruh dengan sisa-sisa polusi buatan manusia, ” kata Jamieson.

Sampah di Bulan
Aktivitas manusia menjelajahi luar angkasa sungguh menakjubkan. Ini membuktikan pesatnya teknologi transportasi dewasa ini. Di balik itu, lagi-lagi sampah menjadi permasalahan baru di angkasa.

Tahun 1969, untuk pertama kali manusia menginjakkan kaki di bulan. NASA sendiri setelah pendaratan pertamanya menggunakan Apollo 11 hingga tahun 1972 telah bolak balik mendaratkan misinya ke satelit bumi sebanyak enam kali.

Perjalanan itu juga meninggalkan 809 objek, mulai dari modul pendaratan bulan, enam bendera Amerika, serta empat retroflektor atau cermin di bulan yang membantu ilmuwan mengetahui bulan bergerak 3,8 cm lebih jauh dari bumi setiap tahun. Objek lainnya ditemukan, berupa 96 kantong kotoran manusia, air kencing, dan muntah yang tertinggal di permukaan bulan, dua buah bola golf, gunting kuku, potret diri astronot James Irwin yang ditinggalkan oleh astronot sendiri. Serta 100 tagihan sejumlah $2 tertinggal di bulan.

Jika ditotalkan sebanyak 187.400 kilogram sampah berada di permukaan bulan.

Sumber: Kompas.com
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.