Iklan Clarion

Satu Lagi Lokasi Terparah Banjir di Konawe

SULTRAKINI.COM: KONAWE – Sejumlah wilayah di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara masih terendam banjir. Wilayah lainnya terparah terdampak banjir, yakni Desa Ambopi dan Desa Nambeaboru di Kecamatan Tongauna.

Menurut salah saorang warga Desa Ambopi, Ahmad, banjir kali ini merupakan bencana terparah setelah banjir sempat melanda desanya pada 2013. Bahkan, warga desa tidak sempat menyelamatkan ribuan gabah dan beras di empat gudang yang terendam banjir.

[ Klik Banner untuk ke Halaman Registrasi ]

“Ini yang kedua (banjir) dan paling parah. Empat gudang beras yang ada di desa kami terendam, di dalamnya ada ribuan gabah dan ribuan beras yang tidak bisa kami selamatkan dari banjir. Ini sudah hari ketiga banjir,” terangnya kepada Sultrakini.com, Selasa (11/6/2019).

Nurdahlia dan Syahria, warga lainnya di desa itu menjelaskan, banjir tiba-tiba datang pada Minggu (9/6) lalu dari sawah ke permukiman desa. Awalnya, ketinggian air sekitar 50 sentimeter, tetapi terus tinggi hingga merendam sejumlah rumah warga.

“Kami lari menyelamatkan diri. Rumah yang di pinggir jalan tenggelam sampai ketinggian leher orang dewasa (lebih 1 meter), sedangkan rumah di belakang sampai atap tengggelamnya,” ucap Nurdahlia.

Kondisi terakhir Desa Ambopi dan Desa Nambeaboru, sejumlah warga mengungsi di Balai Desa Ambopi, gedung sekolah, dan rumah sanak keluarga. Listrik kembali aktif pada Senin (10/6) lalu. Sebelumnya, warga menggunakan lilin yang dibeli di dekat Unaaha selama lampu padam, sekaligus membeli air minum kemasan.

“Kami saling membantu antar-sesama warga ataupun sesama tetangga desa yang terkena banjir, entah berupa makanan, minuman atau lainnya. Sampai akhirnya bantuan dari pemerintah datang kemarin dan hari ini,” tambah Nurdahlia.

Proses evakuasi barang-barang korban banjir, Selasa (11/6/2019). (Foto: Ulul Azmi/SULTRAKINI.COM)
Proses evakuasi barang-barang korban banjir, Selasa (11/6/2019). (Foto: Ulul Azmi/SULTRAKINI.COM)

(Baca juga: Dua Kecamatan di Konawe Terisolir Hingga Kini, Bantuan Sulit Masuk)

Sementara Syahria mengaku, saat banjir datang-dirinya sedang mengadakan tahlilan malam ke-30 suaminya. Mendapati kondisi itu, dirinya bersama warga menyelamatkan diri.

“Banyak yang mengungsi di rumah bugis karena tinggi, tapi ujung-ujungnya tangganya hanyut air. Tim Basarnas datang jam 3 dini hari mengevakuasi bayi dan orang tua yang tidak bisa jalan di situ. Habis itu, mengevakuasi di tempat banjir lainnya,” jelas Syahria.

(Baca juga: Kemensos Serahkan Bantuan Miliaran Rupiah untuk Sultra)

Laporan: Ulul Azmi
Editor: Sarini Ido

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.