Satukan Perbedaan Bangsa Melalui Empat Pilar Kebangsaan

SULTRAKINI.COM: MUNA – Perbedaan suku bangsa dan agama di negeri ini mulai mengkhawatirkan. Terbukti dengan adanya seteru yang meruncing hingga memantik perselisihan antar sesama warga negara. Untuk mempersatukan itu, Empat Pilar Kebangsaan perlu diperkuat kembali di benak masyarakat Indonesia.

Berangkat dari situasi tersebut, MPR RI sebagai lembaga legislatif terus berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dan rasa nasionalisme, sesuai semangat proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Salah satunya dengan mensosialisasikan empat pilar, yakni Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI 1945 sebagai konstitusi negara dan ketetapan MPR, serta negara kesatuan Republik Indonesia.  

Seperti yang dilaksanakan anggota DPD sekaligus MPR RI asal Sulawesi Tenggara, Ir. Wa Ode Hamsina Bolu, M.Sc, di Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna (STIP Wuna), Raha Kabupaten Muna, 16 Februari 2017. Kegiatan ini dibuka resmi oleh Pjs Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama STIP Wuna, Josaphat Sudarso Tandri, SP., M.Si.

Hadir sebagai peserta, civitas akademika STIP Wuna, Akademi Keperawatan Muna, Akademi Kebidanan Paramata Raha, Sekolah Tinggi Agami Islam Syarif Muhammad Raha, serta IMIK Teksos Raha.

Wa Ode Hamsinah menjelaskan, sosialisasi empat pilar kebangsaan merupakan gagasan dari berbagai tokoh nasional, untuk membangkitkan kembali kesadaran para pemuda agar selalu bersama mengingat Indonesia sebagai bangsa yang beragam suku, agama, ras, dan budaya. 

“Dengan keanekaragaman tersebut, mengharuskan setiap langkah dan kebijakan negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara diarahkan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.

Sosialisasi nilai-nilai empat pilar ini, kata dia, untuk mengingatkan dan menyegarkan kembali komitmen seluruh komponen bangsa, agar pelaksanaan dan penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara selalu menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa dalam rangka mewujudkan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. 

“Saya sepakat jika ada yang mengatakan, bahwa akhir-akhir ini perbedaan di negeri kita menghawatirkan dalam tanda kutip, jika tidak kita sadari, tidak kita lakukan aksi untuk melawan itu, maka akan semakin besar dan pada akhirnya kita akan hidup salam suatu bangsa yang runcing perbedaannya,” ujar Hamsina.

Sementara itu akademisi dari Universitas Dayanu Baubau, Dr. Anditendri, mengatakan, kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara di Indonesia secara alamiah mengalami pergeseran atau perubahan di semua sendi kehidupan.  

“Tantangan kebangsaan secara internal adalah masih lemahnya penghayatan dan pengamalan agama, serta munculnya pemahaman terhadap ajaran agama yang keliru dan sempit,” katanya.

Selain itu, dipengaruhi pengabaian terhadap kepentingan daerah serta timbulnya fanatism kedaerahan, kurang berkembangnya pemahaman dan penghargaan atas  kebhinekaan dan kemajemukan, kurangnya keteladanan dalam sikap dan perilaku sebagian pemimpin dan tokoh bangsa, dan tidak berjalannya penegakan hukum secara optimal.  

“Tantangan kebangsaan secara eksternal adalah pengaruh globalisasi kehidupan yang semakin meluas, dan persaingan antar bangsa yang makin tajam dan makin kuatnya intensitas intervensi kekuatan global dalam perumusan kebijakan nasional,” tandasnya.

Salah seorang peserta, Ary, mengaku sangat mendukung sosialisasi empat pilar ini pada seluruh elemen masyarakat. Apalagi asas-asas Pancasila juga sudah tersirat dalam falsafah hidup bermasyarakat.

“Pancasila merupakan salah satu dari empat pilar bangsa. Sebagaimana sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kami mengharapkan agar kedepannya bisa pula dilaksanakan sosialisasi empat pilar melalui pendekatan kegiatan budaya dan religius,” harapnya.

Penulis: Gugus Suryaman

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.