Penulis: La Ode Atri Munanta/Peneliti Independen Suropati Syndicate Jakarta.

Pilkada senantiasa menarik untuk disimak, penuh gegap gempita dan euforia berikut atribut jargon yang diusung. Masyarakat akar rumput hingga elit politik, terasa seperti sedang larut dalam perasaan ekstasi seperti luapan perasaan yang persis sama dengan subjektivisme mabuk kepayang ala orang jatuh cinta.
Sayembara Pilgub Kita; Barisan Para Mantan dan Wajah Segar Pendatang Baru
La Ode Atri Munanta/Peneliti Independen Suropati Syndicate Jakarta.

Perasaan cinta, sebagaimana dikemukakan oleh John Lee dalam buku klassik-nya The Colors of Love (1973) bahwa perasaan subjektif terhadap sesuatu ternyata memiliki kadarnya masing-masing. Lee mengategorikannya ke dalam 3 keadaan;

Kategori Lee tentang cinta dianalogikan sebagai colour circle atau lingkaran warna. Kadar perasaan yang memiliki warna tersendiri, dalam lingkaran utuh perasaan manusia. Mania digambarkan sebagai bentuk perasaan yang posesif, arogan, dan memiliki tingkat subjektivitas paling tinggi sehingga bentuk perasaan yang muncul sangat ekspresif dan pada titik tertentu terkadang bisa berubah menjadi sangat konservatif dan reaktif. Pragma diuraikan sebagai warna perawaan yang identik menunjukkan rasionalitas dan realistis, bermakna perasaan yang terbentuk karena keadaan yang disadari secara penuh melalui penafsiran kausalitas yang diekspresikan dengan penuh pertimbangan, objektif dan wajar. Sedangkan agape ditafsirkan sebagai perasaan murni yang bersumber dari segenap keyakinan yang utuh, penyerahan tanpa tendensi serta totalitas tanpa kehendak yang berlebihan.

Lantas, apa hubungan cinta dan momentum pilkada yang akan segera kita hadapi ini?

Selayaknya hubungan asmara cinta, pilkada seperti mencerminkan sayembara para putra mahkota memperebutkan tahta perasaan rakyat. Sayembara berarti kontestasi untuk menembus batas kepura-puraan, menunjukkan kedalaman perasaan, dan memurnikan tujuan dengan komitmen yang tinggi terhadap aturan sayembara. Sebab hati rakyat tak mau (lagi) tertipu oleh pangeran cinta yang lahir dari keserakahan akan tahta, bertopeng citra mempesona dibalik jargon kosong tak terukur, atau pangeran congkak yang hanya gagah di atas kuda kekuasaan kapital. Hati rakyat telah lama merindui pejuang dan laki-laki yang kesatria.

Sayembara pilgub kita telah memasuki fase seleksi pangeran terbaik oleh para empuh partai. Partai layaknya katumenggungan, kasultanan, kabillah atau ghoera (bahasa muna, berarti wilayah pemerintahan di bawah raja) tentu punya peran yang untuk menggodok, menyaring dan memutuskan pilihan terbaik untuk dilepas bartarung ditengah arena. Pada titik ini, partai adalah layaknya padepokan yang (harusnya) mengutus kasatria terbaiknya. Partai tentu bukan perusahaan multi level marketing yang akan menyediakan posisi berdasarkan akumulasi dan kekuatan kapital yang dimiliki calon kesatria, sebab kesatria adalah representase nama besar, harga diri dan marwah padepokan, kabillah, katumenggungan, dan ghoera.

Ada yang menarik dari sayembara pilgub kita, yang mencuat belakangan ini. Calon kasatria yang mengemuka adalah potret wajah-wajah lama, dengan sedikit wajah baru. Wajah lama memang telah punya sederet pertarungan dan perang. Tentu mereka telah punya sejarah sebagai pemenang dan merengkuh tahta, tapi tak sedikit juga yang akhirnya punya luka yang menganga dan menjadi borok setelah merengkuh tahta. Tahta menjadi tujuan akhir sementara hati rakyat hanya akan terhibur saat masa kampanye, selebihnya kekecewaan yang mengemuka.

Wajah baru memang selalu polos pada tampakannya, kemampuan yang belum teruji karena perang dan pergulatan belum ia lewati sebelumnya sebagai panglima. Tapi bukan tentu lantas ia berarti lemah, dan tak punya jurus mematikan dan barisan pasukan untuk siap memenangkan perang. Tak sedikit yang meragukan Al Fatih saat menjadi panglima penaklukan Konstatiopel saat usianya masih belia, atau kisah epik dari David si semenjana yang meremukkan raksasa Goliath yang mapan lagi adikuasa. Selebihnya, wajah baru tentu tidak boleh dipandang sebelah mata.

Kembali ke cinta dan momentum pilkada. Pilkada jika dicermati dengan lebih dalam juga memiliki tautan dengan gambaran colour circle John Lee. Agitasi jargon, dan visualisasi citra yang dilakoni kontenstan sayembara pada akhirnya menginginkan bangkitnya simpati dan kesan mendalam dari rakyat dengan segala macam bentuknya. Barisan pendukung (tim sukses) juga menunjukkan karakter psikologis dalam gambaran Lee diatas. Tim sukses dan simpatisan misalnya, lebih terlihat identik dengan karakter cinta yang posesif melindungi citra sang kasatria, pada keadaan tertentu akan sangat reaktif menyerang suatu kubu yang dianggap lawan politik. Tapi itulah cinta mereka.

Sejatinya, cinta rakyat itu seperti gambaran pasukan Al Fatih. Dukungan mengokoh karena tujuan pencapaian lebih besar, bukan karena tendensi segepok uang, atau sematan badge jabatan di kantong saku kemeja. Cinta rakyat begitu adanya selalu dalam kewajaran dengan segenap keyakinan yang utuh, menyerahkan mandataris harapan masa depan tanpa tendensi. Seperti itulah cinta milik ibu-ibu pengajian yang terus saja tergiring ketulusannya di balik ramai gendang rebbananya dan selembar kain sarung saat kampanye. Begitupun halnya dengan petani, buruh-buruh pikul, tukang ojek, dan yang lainnya. Cinta mereka hanya punya nilai satu digit dari balik bilik suara, dan cinta tak lagi bermakna cita-cita jika telah seperti ini.

Maka mari menanti akhir dari sayembara panjang ini, cerita cinta akan selalu menarik untuk di tunggu.

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations