SUARA

Sebuah Pesan dari Pembangunan Perpustakaan Modern

Oleh Andi Syahrir (Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sultra)

Bangunan itu didesain dua lantai. Arsitekturnya menyerupai kapal. Di lantai dua, pada bagian kanan kirinya ada selasar. Dilengkapi meja bundar menyerupai tempat duduk di cafe-cafe. Masing-masing bisa menampung paling tidak tiga puluh orang.

Dibuat terbuka sehingga mata leluasa memandang hijaunya pegunungan yang dipenuhi tanaman perkebunan. Sekaligus hamparan laut yang membiru. Tidak perlu menggunakan pendingin ruangan karena hembusan angin tidak pernah berhenti.

Di lantai satu tersimpan koleksi buku. Ada beberapa rak. Sebenarnya masih kurang untuk ukuran perpustakaan tingkat kabupaten. Namun dari sisi fungsional, Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara ini, telah berperan dari sekadar “pengoleksi buku”. Mereka mengambil peran yang lebih inklusif.

Turut serta mengembangkan keterampilan sekaligus kepercayaan diri masyarakat.

Beberapa pelatihan yang bersifat vokasional dihelat di gedung ini. Menggandeng komunitas pemuda dan literasi. Berkegiatan menyebarkan pengetahuan kepada anak-anak di desa. Dengan gembira. Idealismenya, perpustakaan hendak ditransformasikan pada relung-relung kehidupan masyarakat.

yamaha

Di ibukota provinsi, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) di bawah duet kepemimpinan Gubernur Ali Mazi dan Wakil Gubernur Lukman Abunawas sedang menuntaskan pembangunan perpustakaan daerah yang megah. Berlantai tujuh. Diperkirakan rampung Desember mendatang.

Konsep pelayanan dan fasilitasnya hendak mengadopsi Perpustakaan Universitas Harvard. Sebuah perpustakaan yang berada di bawah naungan perguruan tinggi. Sekalipun sangat besar, perpustakaan universitas ini masih kalah dengan Perpustakaan Kongres Amerika Serikat –milik pemerintah– yang merupakan perpustakaan terbesar di negeri Paman Sam.

Pembangunan Perpustakaan Daerah Provinsi Sultra –yang ke depannya perlu pula diberi nama, semisal bandara dengan nama Halu Oleo atau rumah sakit yang dinamakan RSUD Bahteramas– seiring dengan menghangatnya gagasan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial.

Perpustakaan tidak hanya sebagai pusat ilmu pengetahuan, tapi juga menjadi pusat kebudayaan dan kegiatan masyarakat. Perpustakaan bukan sekadar “rekreasi literasi”, tapi menjadi jembatan mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki masyarakat. Menjadi wadah menemukan solusi atas berbagai problem yang dihadapi rakyat.

Pembangunan perpustakaan berskala besar ini merupakan pondasi kuat untuk mendudukkan konsepsi inklusi sosial di atasnya. Perpustakaan menjadi ruang bergembira bagi siapa saja untuk mencari dan menemukan pengetahuan demi kualitas hidup yang lebih baik.

Perpustakaan Daerah Sultra yang modern ini adalah respon hangat atas amanat Pasal 2 Undang-Undang Perpustakaan. Bahwa perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan.

Kelak ketika rumah besar pengetahuan ini berdiri megah, gedungnya menjadi simbol pencarian jati diri mengenai “bagaimana kita berpikir”. Atau lebih tepatnya, bagaimana manusia Sulawesi Tenggara berpikir. Begitulah cara pemimpin  menuntun kita.*

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.