SULTRAKINI.COM: Setiap perjalanan hidup manusia bagaikan menapaki anak tangga, semakin menuju puncak semakin banyak anak tangga yang harus dilewati. Hal ini yang dialami oleh seorang Fredly Nasution. Untuk meduduki posisi sebagai Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra bukanlah hal yang mudah, tetapi juga bukan hal yang mustahil untuk didapatkannya.

Sempat "Singgah" Dibeberapa Perbankan Sampai Akhirnya Menjabat Kepala OJK Sultra
Fredly Nasution selaku Kepala OJK Sultra. (Foto:Indi Laawu/SULTRAKINI.COM)

Perjalanan kariernya untuk mencapai posisinya saat ini, bisa dibilang dimulai dari angka nol. Kariernya berawal dari bank swasta, Bank Dagang Nasional Indonesia yang terletak di Karawang

selama enam bulan kerja. Berlanjut di Bank Eksim (Ekspor Impor), saat ini sebagai Bank Mandiri selama dua bulan kerja. Ayah dari tiga anak ini mengalami dilema sebab setelah dua bulan bekerja di Bank Eksim, dirinya dinyatakan lulus di Bank Indonesia.

"Waktu itu saya memasukan lamaran disemua bank BUMN yang lagi membuka lowongan, termasuk BI dan pengumumannya beda-beda. Pergolakan batin muncul, saat dinyatakan lulus juga di BI," kenangnya.

Tidak ingin salah langkah, anak ketiga dari 8 bersaudara tersebut meminta pendapat orang tua yang pada akhirnya membawa dirinya memilih Bank Indonesia. Meskipun saat ini banyak desas desus, jika karier di Bank Indonesia lebih lambat dibanding Bank Eksim, melihat dari sisi jaringan kantor. Kembali dukungan orang tua dijadikan pegangannya.

Memulai karir perbankan di Bank Indonesia, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Karena memilih jalur PCPM (Pendidikan Calon Pegawai Muda) Suami dari Sylvia Novianty ini harus menjalani pendidikan selama kurang lebih satu tahun yang dimulai 1 April 1997 hingga 1 April 1998. Usai masa pendidikan, alumni Unpad ini langsung ditempatkan di KPwBI Banjarmasin sebagai staf kurang lebih 4 tahun, tahun 1988 hingga 2002.

Setelah mendedikasikan diri di Banjarmasin, dirinya dipindah tugaskan di Pekanbaru ditahun 2002 hingga 2010 dan dipromosikan sebagai kepala seksi. Ditahun 2010, ayah dari Ananta Nasution ini kemudian dimutasi ke KPwBI Bandung sebagai Kepala Seksi Pengawas Bank Muda Senior.

Ditahun 2013 akhir, tepatnya tanggal 31 Desember, dirinya ditugaskan di OJK selaku lembaga independent baru yang salah satu tugas dan fungsinya mengawasi perbankan. Dimana sebelumnya, tugas tersebut masih merupakan tanggung jawab BI. Ditugaskan ke OJK, Fredly Nasution mendapatkan promosi jabatan sebagai Kepala Bagian.

Berselang kurang lebih 4 tahun, ditahun 2017 kariernya semakin cemerlang dengan diamanatkan kepadanya sebagai Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sultra, menggantikan Kepala OJK sebelumnya.

Masa Kuliah adalah Masa Sulit

Memiliki saudara sebanyak 8 orang bukanlah hal yang mudah bagi kedua orang tuanya. Apalagi ayah dari fredly saat itu hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) diera tahun 80-an yang bergaji minim. Sungguh jauh berbeda dengan PNS saat ini yang memiliki berbagai tunjangan profesi.

"Kita hidup cukup prihatin, Bapak hanya seorang PNS. PNS jaman dulu hanya gaji pokok saja dan gaji bisa diukur," ingatnya.

Semasa kuliah, alumni Unpad ini tidak ingin melihat keatas mengingat kondisi keluarganya. Meskipun hidup dalam keprihatinan, namun kedua orang tuanya selalu mendukung dan mensuport dirinya dalam hal pendidikan. Apapun dilakukan orang tuanya, demi pendidikan anak-anaknya.

Diingatnya masa itu, wanita paruh baya yang dipanggilnya ibu harus mencari sampingan dengan menjual makanan atau membuat dan menjual es untuk uang tambahan pendidikan anak-anaknya.

"Gaji ayah masih jauh dari cukup, masa-masa sulit itu pasti ada. Tinggal bagaimana kita tidak melupakan jasa-jasa mereka," katanya.

Fredly Kecil Senang Ngebolang

Seperti anak kecil pada umumnya, yang lahir dan tinggal di pedesaan. Bermain dengan alam adalah keseharian mereka. Tidak ada mainan elektronik semacam game di gadget. Menikmati masa kecil ditahun 70-80 an, membuat fredly kecil dekat dengan alam, bermain dan berenang di sungai, hingga mengambil buah di kebun tetangga, khas kenakalan anak kecil.

Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, anak dari pasangan Almarhum Darwis Nasution dan Farida ini tumbuh menjadi seorang lelaki yang memiliki cita-cita luhur. Menjadi seorang tentara. Selepas lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), fredly berusaha mewujudkan mimpinya. Namun, pil pahit harus ditelannya, menjadi seorang tentara bukan jalannya.

"Belum jodohnya di tentara," katanya.

Fredly selalu meyakini bahwa Allah memiliki rencana yang lebih baik untuk dirinya. Saat ini diapun menyadari, bahwa Allah saat itu tengah mempersiapkan dirinya menjadi orang nomor satu di OJK Sultra.

Keluarga adalah....

Bagi lelaki yang lahir di Pekanbaru 12 Oktober 1970 ini, keluarga adalah sesuatu yang sangat penting dimana tempat kita kembali, berkumpul, berbagi yang dari tiada menjadi ada. Baginya keluarga inti yang dimilikinya adalah sebagai ladang amal buatnya, mengingat tujuan hidupnya adalah untuk beribadah.

Sedangkan seorang ibu berarti segalanya buat fredly, dirinya yang dari tiada menjadi ada karena kedua orang tuanya, dibesarkan dan dididik hingga menjadi orang sukses. Sebaliknya, ayah dari Rizky Akbar ini  memiliki tanggung jawab untuk bisa berbakti kepada orang tua.

Lebih universal lagi, menurut fredly keluaga bukan hanya sebatas orang tua, istri dan anak. Baginya teman-teman yang dimilikinya adalah bagian dari keluarga yang bisa memberikan masukan, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial.

"Kita tidak bisa mengandalkan diri sendiri, dalam hidup kita ada campur tangan yang Maha Kuasa, keluarga, sahabat dan teman-teman kita," jelasnya.

Pesan Untuk Generasi Muda

Jangan lengah, jangan terlena. Mungkin generasi saat ini yang sudah berkecukupan dengan segala fasilitas yang dimilikinya, itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, karena persaingan semakin ketat dan kompetisi semakin berat.

Dunia saat ini, banyak generasi muda yang akhirnya harus menjadi pengangguran. Melihat dan mengembangkan potensi adalah kunci agar bisa menjadi pemain bukan penonton, dengan terus mengembangkan dan meningkatkan potensi hingga bisa menjadi unggul dalam persaingan yang semakin ketat.

"Sudah hukum alam. Meskipun demikian kita jangan menyerah, kalaupun tidak bisa bersaing berarti bukan bidang kita. Kita harus berhijarah, banyak teman yang saya lihat tidak menonjol dalam pendidikan tapi menonjol dalam dunia bisnis. Intinya masing-masing pasti memiliki rezeki," tutupnya. (*)

IKLAN KPU IKLAN LION

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations